Jumat, 20 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Kapolda Beberkan Kronologi 8 WNI Dideportasi dari Malaysia

| editor : 

Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian menunjukan foto 8 orang terperiksa diduga teroris.

Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian menunjukan foto 8 orang terperiksa diduga teroris. (Cecep Mulyana/Batam Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kapolda Kepulauan Riau (Kepri) Irjen Sam Budigusdian menceritakan bagaimana delapan warga negara Indonesia (WNI) asal Sumbar sampai dideportasi oleh otoritas imigrasi negeri jiran tersebut.

Diterangkannya, pada Selasa (3/1) sekitar pukul 08.30, delapan orang santri berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau *(BIM) menggunakan pesawat Air Asia berangkat menuju Malaysia.

Para santri itu berasal dari Pondok Pesantren Darul Hadist yang terletak di Jalan Kamang Tengah Kecamatan Ampek Angkek, Bukittinggi, Sumatera Barat.  "Tujuan keberangkatan mereka ingin menyembuhkan penyakit yang diderita guru mereka (REH). Selain itu juga ingin mengetahui sistem pembelajaran di Pondok pesantren yang ada di Malaysia dan beberapa negara lainnya," ungkap Sam yang dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group), Kamis (12/1).

Setiba di Malaysia, ke delapan orang ini dijemput oleh seseorang yang berinisial Mz. Dengan menumpang mobil yang dikendarai Mz, mereka menuju rumah sakit Makhota Malaka.

REH yang merupakan guru dari para santri itu mengalami gangguan pada gendang telinganya. Setelah mendapatkan pengobatan, pihak rumah sakit menempelkan suatu alat yang membantu pendengaran REH. Dalam proses penyembuhan ini, REH diminta pihak rumah sakit untuk tidak naik pesawat. Karena itu menganggu proses penyembuhan.

Selama di Malaysia, REH bersama tujuh santrinya diajak berkeliling Negeri Jiran tersebut.  Setelah seharian berwisata ke beberapa tempat di Malaka. Pada 5 Januari, rombongan ini menuju Kualalumpur untuk ziarah ke makam orang tua Mh (salah seorang santri,red).

Setelah itu, rombongan ini menuju ke Perlis untuk mengunjungi Pondok Pesantren Darul Quran Walhadist. Di sana kedelapan orang ini bertemu dengan Syekh Zaiyed Al Wusobi dari Yaman. Kedatangan rombongan ini, untuk mendapatkan pembelajaran serta nasihat-nasihat tentang keagamaan.

Sabtu (7/1) sekitar pukul 09.00, rombongan ini bergerak ke Padang Besar dengan menggunakan transportasi Kereta Api. Padang Besar merupakan perbatasan negera Malaysia dan Thailand. Sesampai di Padang Besar, delapan orang ini menyeberang ke Thailand menuju daerah yang bernama Pattani.

Di daerah tersebut ada sekolah Madrasah Rohmaniah yang diasuh oleh Dr Ismail Lutfi Fattoni. Kedatangan mereka dalam rangka meminta wawasan program sekolah tadiah hingga jenjang Universitas. Dari pengakuan para terduga ini, Ismail Lutfi Fattoni sering datang menuju Indonesia dalam rangka seminar Pendidikan Agama Islam.

Pada Selasa (10/1) dini hari kedelapannya mencoba memasuki wilayah Singapura, melalui Wood Land Bangunan Sultan Iskandar. Namun pihak Singapura menetapkan ke delapannya dengan status Not To Land (NTL).

Mereka kesemuanya tidak diizinkan memasuki Singapura. "Alasannya karena ditemukan di handphone REH gambar yang mengesankan ajaran ISIS," kata Sam.

Kedelapan orang ini dikembalikan ke Malaysia, sehingga membuat otoritas di sana melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap mereka. Dari hasil pemeriksaan pihak kepolisian Malaysia, delapan orang ini tidak mendukung perjuangan ISIS.

Gambar yang di ponsel REH, diterima secara tidak sengaja dan bukan mengandung unsur mendukung ISIS. Setelah pemeriksaan selesai, mereka di deportasi pada Selasa (10/1), pukul 10.00 WIB.

Dengan menggunakan kapal MV Marina Line, kedelapannya langsung diinterogasi pihak Imigrasi Pelabuhan Batamcenter. Setelah itu mereka diserahkan ke pihak unit khusus Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Kepri. "Barang bukti yang diamankan delapan paspor dan 12 handphone. Dan kami masih melakukan pemeriksaan," ungkap Sam.

Saat ditanya apakah kedelapan orang ini terkait jaringan Khatibah Gonggong Rebus, Sam mengatakan sejauh ini tak ada hubungan antara kelompok ini.

Sementara itu Kepala Imigrasi Kelas I Khusus Batam Teguh Prayitno membenarkan adanya diamankan delapan orang terduga teroris. "karena mereka diduga teroris, kami serahkan ke kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucapnya singkat. (ska/iil/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP