Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Opini

Renungan Ekologis 2016

Tak Lelah Dirundung Bencana

Oleh: Suparto Wijoyo*

| editor : 

Suparto Wijoyo

Suparto Wijoyo (Jawa Pos Photo)

Mabur tiru manuk,
Tut wuri ilining banyu,
Ora wegah mbrangkang,
Ngendhani urip mung ongkang-ongkang

(Peribahasa Jawa)

PADA 25 Desember 2016, gempa unjuk kuasa di Bima dengan kekuatan 3,7 skala Richter (SR). Suasana panik traumatis akibat banjir bandang sebelumnya semakin mengkristal, menjadi daya letih yang manusiawi bagi sebagian warga Bima, NTB. Gempa yang bersahutan dengan banjir membungkus permaknaan betapa kecilnya manusia dan doa tetap menjadi kata yang sedemikian perkasa memberikan harapan: Bencana ini bukan lonceng terakhir dari masa depan.

Memang sepanjang 2016 beragam bencana terjadi di banyak wilayah, bukan hanya Bima. Bandung telah memberikan potret kolosalnya diterjang air bah. Sebuah realitas yang harus diterima dengan meluluhkan daya nalar posisi ekologisnya, mengingat topografi kota itu berkontur miring, yang secara alami dapat mengalirkan air hujan ke alur 47 sungai. Fakta aneh tapi nyata berbicara di Paris van Java. Bandung memanen banjir kala hujan meski arealnya dianugerahi cawan miring ke selatan 10–15 derajat. Hal itu semestinya mengusik para perancang dan pemangku kepentingan (stakeholder) perkotaan yang banyak tinggal di ibu kota Tatar Sunda. Dari total luas cekungan Bandung yang sekitar 350.000 hektare, 150.000 hektare ternyata sedang diincar investor. Tata ruang Bandung terpotret tunduk dalam gelimang tata uang.

Jabodetabek menyuguhkan derita yang nyaris sama. Warganya diminta waspada menghadapi curah hujan yang ekstrem. Jakarta, Tangerang, Garut, Sumedang, sampai Kabupaten Sampang, Trenggalek, dan banyak wilayah di Indonesia seolah berlomba mementaskan bencana. Aceh ”meneguhkan diri” memuncaki bencana 2016 dengan hadirnya gempa berkekuatan 6,5 skala Richter yang mengakibatkan korban jiwa dan harta benda tak terperikan. Jutaan warga negara terancam bencana. Data yang dilansir koran ini, 157 Juta Jiwa Tinggal di Rawan Gempa (8/12/16), sungguh membuat tertegun dalam keluh. Apakah angka itu mendeskripsikan nomor undian yang akan dilanjutkan pada 2017?

Kondisi lingkungan tengah mengabarkan berita tragis dan bengis yang mencekam. Lahan konservasi diserobot, menjadi kawasan industri properti. Tata ruang ditikam kejam demi kemewahan hidup yang serakah. Drainase yang buruk melengkapi rendahnya etos kerja menata daerah aliran sungai. Pendangkalan waduk bergerak seiring dengan pembakaran lahan dan pembabatan hutan yang melaju supercepat. Kayu-kayu hutan selama sewindu ini dilahap dalam rentang yang memilukan, jutaan hektare leyap setiap tahun. Sampai berapa lama lagi ibu pertiwi ini bertahan sebagai Zamrud Khatulistiwa? Renungkanlah.

Jejak waktu 2016 menorehkan kisah kota dan desa, pegunungan dan daratan, sawah dan ladang, serta hutan dan lahan berbaris membentuk formasi bencana. Derita yang bergulir mencatatkan kerugian ekonomi, sosial budaya, dan ekologis pada tingkatan yang berbahaya. Bencana itu semakin melengkapi balutan luka kemanusiaan akibat penggusuran di negeri ini. Musim penghujan laksana episode bahwa banjir sedang diundi untuk diterima sebagai fakta Nusantara. Bencana yang mentradisi dianggap sisik melik ritual klimatologis yang ditakdirkan. Seluruh titik kosmis negara ini sedang bercerita begitu gamblang mengenai bencana. Lantas, di mana janji negara untuk melindungi ”segenap bangsa dan seluruh tumpah darah” sebagaimana dinormakan Pembukaan UUD 1945?

Negara bukanlah keledai yang dapat terantuk untuk kali kedua di lubang yang sama. Negara juga bukan tupai yang sepandai-pandainya melompat akan terjatuh jua. Di setiap daerah, ada pemimpin yang dipilih untuk mampu mengatasi persoalan rakyatnya. Pemimpin itu, menurut Ram Charan (2010), mesti menyadari keberadaannya bahwa orang kebanyakan akan berpaling kepadanya untuk memperoleh kekuatan dan tuntunan. Peristiwa bencana semestinya menyadarkan pemimpin untuk sigap trengginas memenuhi hak warga agar terbebas dari bencana. Dalam batas itu, kesigapan sang pemimpin adalah opsi tunggalnya. Rakyat memilih pemimpin untuk menjadi cahaya pergerakan hidupnya, paling tidak di ranah mitigasi bencana, dan memotivasi dalam mengarungi hari esoknya.

Seorang leader harus merekonstruksi kebijakan dan programnya kalau rakyatnya sengsara ditimpa bencana, kalau hak-hak warganya terabaikan. Siapa pun yang merasa menjadi pemimpin mutlak berkomitmen melindungi rakyatnya, sesulit apa pun kondisinya. Pada situasi demikianlah kapasitas seorang pemimpin akan membawa publik kembali mengenali arti negara karena kuasa bukan untuk menyediakan nomor antrean bencana. Negara harus memberikan optimisme bahwa masa depan selalu bersinar terang.

Kalaulah negara kewalahan menyikapi beragam bencana, percayalah bahwa rakyat Indonesia pantang mengeluh dirundung bencana. Sebab, kita bukanlah bangsa yang mudah menyerah. Peribahasa Jawa di awal tulisan ini mengajarkan agar kita dapat bermetamorfosis, berani terbang seperti burung, berani hanyut (responsif) di derasnya arus sungai, berani merangkak untuk menghindari hidup yang luntang-lantung (tidak berguna). Leluhur juga mengajarkan: Sopo tekun golek teken bakal tekan. Maksudnya, siapa saja yang konsisten mencari tongkat (jalan hidup) akan memenangi kehidupan (sampai di tujuan). Tuhan menguji ketangguhan kita. Selamat menyongsong Tahun 2017.

*Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Sponsored Content

loading...
 TOP