Sabtu, 25 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Ira Suarilah dan Kegigihannya Mengampanyekan ASI untuk Bayi

| editor : 

KAMPANYE SEHAT: Ira Suarilah menunjukkan ASI yang siap didonorkan untuk ibu dan bayi yang membutuhkan asupan sehat.

KAMPANYE SEHAT: Ira Suarilah menunjukkan ASI yang siap didonorkan untuk ibu dan bayi yang membutuhkan asupan sehat. (Dika Kawengian/Jawa Pos/JawaPos.com)

Tiap orang pasti sepakat ASI punya banyak manfaat bagi bayi baru lahir. Namun, masih belum banyak yang sadar untuk memberikan ASI sejak dini. Terutama ketika bayi baru lahir dan lambungnya masih sebesar kelereng.


PUJI TYASARI


IRA Suarilah tak kuasa menahan air mata. Setiap kali mengenang putri sulungnya yang tidak mendapat ASI saat baru lahir, dia begitu menyesal. Matanya basah oleh air mata. Padahal, itu bukan kehendaknya.

Sembilan tahun lalu, kenang Ira, putri pertamanya, Najwa Mumtaz Sasmita Soediantoro, lahir dengan bantuan operasi Caesar. Pihak rumah sakit menyebut, Ira tidak bisa memberikan ASI karena pengaruh obat anestesi.

Padahal, Ira yang merupakan sarjana keperawatan tahu tentang inisiasi menyusui dini (IMD). ”Saya baca di jurnal luar negeri, Caesar bisa tetap IMD,” katanya.

Saat baru lahir dan menyusu, bayi akan berada di dada sang ibu. Mulutnya juga akan merangkak mencari puting ibunya. Ira pun menyampaikan itu kepada dokter.

Namun, Ira begitu kecewa lantaran dokter hanya mendengar celotehan Ira, tanpa mewujudkannya. Ira tahu putrinya diberi susu formula (sufor). Ira yang baru dioperasi pun tidak punya daya tawar.

Tidak ada yang memperjuangkan anaknya untuk mendapatkan ASI. Juga tidak ada yang mengajarinya supaya dia memberikan ASI dengan baik kepada buah hatinya yang baru lahir.

”Padahal, ada ilmunya. Bukan seperti monyet atau sapi yang langsung menyusu induknya,” katanya. Ira mengatakan kepada dokter bahwa dirinya ingin menyusui. Namun, pada hari H, putrinya diberi sufor.

Ira tahu itu. Tapi, dia tidak kuasa untuk mencegahnya. Dia menyesal karena yang pertama mengalir di saluran cerna putrinya adalah susu formula. ”Itu emaaan.... padahal saya ingin menyusui,” sesalnya.

Pihak keluarga pun menenangkan Ira. Termasuk ibu mertua dan suaminya. Namun, Ira masih ingin menyusui. Pada akhirnya, hingga berusia enam bulan, putrinya mendapat ASI dan sufor. Pada bulan ketujuh, putrinya tidak mau ASI.

Penyesalan itu masih dirasakan hingga saat ini. Namun, dia tidak ingin penyesalan tersebut lewat begitu saja. Pengajar di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga itu pun membalas penyesalannya.

Caranya, dia getol mengingatkan para ibu agar menyusui bayinya saat baru lahir. Penyesalan itu juga menumbuhkan komitmen untuk menyusui putranya yang kedua.

Putra kedua, Ugroseno Bagus Jatmiko Soediantoro, lahir pada 11 September 2014. Dia berhasil menyusui anaknya dengan ASI melimpah. Padahal, dia sempat khawatir karena ASI-nya tidak setetes pun keluar.

”Tapi, otak harus distimulus untuk menghasilkan ASI. Akhirnya stabil,” katanya. Dia rajin memompa ASI setiap tiga jam sekali. Yakni, pukul 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00. Bahkan pukul 03.00, Ira juga memompa ASI.

Berkat stimulus dan keuletannya itu, ASI Ira melimpah. Dia punya banyak stok ASI. Apalagi, Ira adalah ibu bekerja. Dia sama seperti mayoritas ibu lainnya yang bekerja, namun tetap ingin bisa menyusui.

Dengan keteraturan itu, Ira bisa memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Awalnya, dia memompa ASI dengan pompa manual. Namun, pekerjaannya menjadi keteteran lantaran setiap tiga jam memompa ASI.

Akhirnya, dia memilih pompa elektrik. Cukup ditempel pada bra, pompa bisa tetap bekerja. Tangan Ira pun bebas melakukan pekerjaan lainnya tanpa harus terganggu dengan aktivitas memompa.

”Bisa tetap sambil ngetik, sambil koreksi. Macam-macam,” katanya. Selama 10 jam Ira bekerja, dia menghasilkan 3–3,5 botol ASI berukuran rata-rata 120 cc. Lantaran produksi ASI melimpah, Ira pun mendonorkannya.

Itu dilakukan ketika putranya berusia enam bulan, yakni pada Maret 2015. Tidak sembarang orang mendapatkan donor ASI-nya. Ira membuat skala prioritas.

Dia memasang iklan pada grup organisasi nirlaba Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Dia juga beriklan pada grup Human Milk 4 Human Babies.

Saat posting iklan, banyak sekali respons yang diterimanya. Bahkan, ponselnya kerap kali berdering untuk menanyakan stok ASI-nya. Dia pernah ditelepon oleh ibu yang melahirkan dalam kondisi preeklampsia.

Kondisi bayinya prematur. Sang ibu juga pendarahan hebat. Ira menerima permintaan ASI itu saat menjaga ujian. Ibu itu, kata Ira, merupakan pasien rujukan dari luar kota di RSUD dr Soetomo.

Jika mengambil ke rumah Ira yang berada di wilayah Kenjeran, suami si ibu tersebut akan kesulitan. Jalan satu-satunya adalah Ira yang mengantar. Namun, Ira dilema lantaran masih melakukan tugas yang tidak bisa ditinggalkannya.

”Pada akhirnya memang diambil ke rumah,” katanya. Berbekal pengalaman itu, Ira lantas membawa freezer ke tempat kerjanya. Apalagi, order juga semakin banyak.

Jadilah di ruang kerja Ira ada freezer yang terdiri atas lima rak yang masing-masing muat 28 botol. Daun pintu juga dimanfaatkan untuk botol-botol dan plastik ASI. Ira mengaku selektif menerima order.

Order dari Makassar atau Bengkulu terpaksa tidak dilayani. ”ASI mudah cair kalau ke luar kota. Padahal, harus dihabiskan dalam waktu 24 jam,” tuturnya.

Untuk order di sekitar Surabaya, seperti Sidoarjo dan Malang, Ira masih bisa memberikannya. Order dari Malang misalnya. Bayi yang mendapatkan ASI-nya adalah bayi dengan cacat kongenital.

Dia dijadwalkan untuk operasi rekonstruksi. Bayi itu membutuhkan ratusan botol ASI. Sebab, si bayi memerlukan daya tahan tubuh yang kuat.

Ada juga bayi yang alergi susu formula, bahkan hypoallergenic. Ibunya adalah penderita diabetes dan hipertensi. Sang ibu juga harus minum obat teratur. Otomatis anaknya tidak boleh menyusu ibunya.

”Ini juga menjadi prioritas saya,” ujar perempuan yang lahir pada 1 Agustus 1977 itu. Selain diambil langsung oleh keluarga si penerima donor ASI, Ira mengirimnya melalui layanan kurir ASI di Surabaya.

Pengirimannya melayani Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya. ASI itu disimpan dalam cooler box dan diberi ice gel. Semua gratis. Dia tidak menerima imbalan dalam bentuk uang maupun barang. ”Free,” katanya.

Ira mengatakan, ASI bisa bertahan di lemari es selama lima hari. Jika tidak diminum, ASI harus dibekukan. Jika akan dicairkan, ASI dari freezer dimasukkan dahulu dalam chiller.

Selanjutnya, bisa diberikan kepada bayi. ”Bisa diberikan langsung, asal suhu ruang,” katanya. Menurut Ira, sangat tidak disarankan memberikan ASI melalui dot. Dot yang dijungkirkan akan membuat susu di dalamnya otomatis menetes.

Itu akan membuat otot-otot bayi tidak banyak bekerja. Pemberian ASI lebih baik melalui gelas plastik kecil atau seloki. ”Bayi dipangku, lalu diberi minum dari seloki. Itu akan membuat lidah dan otot mulut mereka bekerja,” jelasnya.

Istri Catur Imam Soediantoro itu memang begitu getol melakukan kampanye ASI. Menurut dia, ASI adalah cairan hidup. Ada zat yang tidak terdapat dalam susu formula. Yakni, imunitas yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Pemberian ASI juga tidak memandang bayi sakit atau sehat. Bayi usia 0–6 bulan bisa mendapatkan ASI eksklusif. Bayi yang lahir pada usia kandungan sembilan bulan dan kurang dari sembilan bulan juga memiliki komposisi ASI yang berbeda.

Ira pun banyak mengagumi karunia Tuhan terhadap ASI. Produksi ASI sudah di-setting sedemikian rupa sesuai kebutuhan bayi.

”Bayi prematur akan lebih sempurna jika mendapat ASI dari sesama ibu prematur,” katanya. Lemak pada ASI juga tidak terbuang sia-sia. Ira mengatakan, bayi yang baru lahir memiliki lambung sebesar kelereng.

Tetesan ASI pada saluran cerna bayi memang sudah disiapkan Tuhan sesuai dengan kondisi lambung bayi. Nah, jika bayi diberi susu formula melalui dot yang berukuran 60 ml, tentu itu akan banyak terbuang.

Saat memompa ASI, Ira juga melihat situasi dan kondisi. Terkadang dia sungkan ketika sedang menghadiri kegiatan yang formal dan harus memerah ASI.

”Tolah-toleh dulu. Kalau orang penting, saya sungkan. Saya tahan dulu 10–15 menit. Saya siapkan mental, lalu izin keluar,” tuturnya. Sebagai pengajar, Ira juga punya tugas membimbing ke RS Sumber Glagah, Mojokerto.

Pagi-pagi Ira harus berangkat dengan naik bus. Sebenarnya, ada kendaraan yang mengantar Ira pukul 08.00. Namun, dia ingin pukul 08.00 sudah sampai di lokasi. Dia pun diantar ke terminal, lalu naik bus.

”Pukul 06.00 waktunya pumping. Saya pasang alat pumping di terminal. Saya tahu orang-orang melihat. Saya merasakan mereka melihat saya. Tapi, saya cuek. Tetap pumping,” katanya.

Banyak pengalaman Ira selama konsisten memerah ASI. Dia juga pernah missed saat jadwal-jadwal memerah ASI. Meski begitu, tidak lantas ASI-nya menjadi dua kali lipat saat diperah.

Karena itu, sayang jika jadwal memerah terlewatkan satu kali saja. ”Ibaratnya, kalau bisa dua botol, kenapa jadi satu botol,” jelasnya. Selain menyimpan dalam botol, Ira menyimpan ASI dalam plastik ASI.

Dia bahkan punya 600 botol ASI. Mengisi ASI pada botol tidak boleh melewati batas leher botol. Sebab, saat dibekukan, botol bisa memuai sehingga pecah.

Pernah suatu ketika, botolnya terlalu penuh ASI sehingga pecah. Khawatir ada pecahan kaca, Ira pun membuang ASI tersebut. Dia menyiramkannya pada tanaman jeruk sambal di dekat jendela rumahnya.

”Jeruk sambal ini paling sering saya siram pakai ASI. Kalau panen, hasilnya sangat banyak. Tapi, tanaman saya yang lain, jeruk nipis, tidak berbuah sama sekali,” terangnya.

ASI ideal didonorkan hingga bayi berusia 12 bulan. Kini putra keduanya sudah berusia dua tahun. Karena itu, Ira mengatakan, ASI-nya tidak ideal lagi untuk didonorkan.

Dia juga tidak pumping lagi. Ibarat sarjana, Ira sudah lulus S-3. Yakni, ASI 6 bulan pertama, 12 bulan, dan 2 tahun. Meski begitu, semangatnya untuk menggelorakan pemberian ASI sangat tinggi.

Dia menyarankan para ibu tidak mengejar ASI eksklusif saja dengan memberikan ASI melalui dot. Melainkan melalui seloki seperti saran WHO. Syukur-syukur bisa menyusui secara langsung.

Freezer di kantor kini juga dimanfaatkan oleh ibu menyusui lainnya. Bahkan, freezer-nya sudah di-booking oleh tiga ibu hamil. ”Dua ibu sudah melahirkan, satu lagi akan melahirkan,” jelasnya.

Ira bertekad tidak menjual freezer itu. ”Kalau dijual, pahalanya sudah selesai. Ini juga sebagai bentuk dukungan saya. Freezer, ice gel silakan dipinjam. Tapi, kalau sudah selesai, mohon dikembalikan lagi,” katanya, lalu tersenyum.

Di berbagai kesempatan, Ira juga kerap mengajak para ibu untuk pro-ASI. Termasuk saat pertemuan di rumah sakit atau di lingkungan lainnya. Sebagai bentuk komitmennya, Ira berencana ikut pelatihan konselor ASI.

”Supaya punya legalitas atau lisensi kalau saya ngomong ngalor-ngidul,” jelasnya. Saat ini, dia masih prihatin lantaran tidak sedikit warga yang berpendidikan tinggi, namun belum pro-ASI.

Banyak bayi yang masih disusui dengan susu formula. Menurut dia, dibutuhkan kesadaran dan kemauan kuat dari si ibu. Lingkungan juga harus mendukung.

Dia juga miris dengan kondisi saat ini. Masyarakat kurang mampu justru memberikan susu formula kepada bayinya. Bahkan, rumah sakit memberikan suvenir susu formula. Tentu, suvenir itu sayang kalau dibuang.

Pasti diminumkan kepada si bayi melalui dot. Hasilnya, si bayi terbiasa dengan sufor dan tidak mau menyusu ASI. Nah, jika tidak ada tambahan pendapatan untuk beli sufor, susu itu diencerkan.

Akibatnya, si anak diare dan mudah sakit. Daya tahan tubuh anak lemah karena imunitas yang seharusnya diperoleh dari ASI tidak didapatkan. Jika terus berlanjut, itu bisa menjadi bentuk halus memiskinkan Indonesia.

Generasi Indonesia pun jadi kurang berkualitas. Bayi-bayi dengan sufor juga akan mudah obesitas. Bahkan, ke depan rentan diabetes dan hipertensi. ”Jadi, pilih rumah sakit yang pro-ASI dan tolong susui bayi dengan ASI,” tuturnya. (*/c6/dos/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP