Kamis, 23 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Waduh, Tindakan Presiden Bikin Suara Parlemen Terpecah

| editor : 

MASIH DEMO: Warga Korsel terus menuntut Park untuk mundur tanpa syarat.

MASIH DEMO: Warga Korsel terus menuntut Park untuk mundur tanpa syarat. (Kim Hong-ji/Reuters)

JawaPos.com  – Pernyataan Park Geun-hye sukses membuat suara parlemen yang kontra Park terbelah. Pada Selasa (29/11) presiden Korea Selatan (Korsel) tersebut mengungkapkan keinginannya untuk mundur. Tapi, parlemen yang harus menentukan waktu dan caranya. Sekitar 40 legislator Partai Saenuri yang sebelumnya mendukung oposisi untuk memakzulkan Park kini berubah pikiran.

Puluhan anggota parlemen itu kini memilih memberikan kesempatan kepada Park untuk mundur setelah ada kesepakatan dari parlemen. Di lain pihak, oposisi bersikukuh untuk tetap memakzulkan Park pada Jumat (2/12). ’’Satu-satunya cara yang tersisa adalah melakukan pemakzulan berdasar konstitusi yang ada,’’ tegas Choo Mi-ae, pemimpin Partai Demokratik, kemarin (30/12).

Pengambilan suara untuk pemakzulan Park sudah mereka tentukan. Yakni, besok (2/12). Jika upaya itu gagal, opisisi akan memikirkan ulang langkahnya. Mereka memang tidak bisa berbuat banyak. Jumlah mereka hanya 172 orang. Padahal, mereka membutuhkan 200 suara dari total 300 anggota parlemen. Karena itu, mereka harus mengajak sebagian anggota Saenuri, partai yang dulu mengusung Park, untuk mendukung pemakzulan.

Oposisi hanya punya waktu hingga 9 Desember jika ingin memakzulkan Park tahun ini. Sebab, setelah tanggal tersebut, tidak ada lagi persidangan di parlemen hingga tahun depan.

Peluang oposisi untuk memakzulkan Park memang kian tipis. Sebab, sekitar 40 legislator Saenuri yang sebelumnya mendukung pemakzulan juga telah berkumpul dan mencapai kesepakatan. Yaitu, mereka akan membiarkan Park mengundurkan diri. Mereka memberikan waktu kepada Park hingga 8 Desember untuk mengajukan proposal pengunduran diri.

Jika tidak, mereka akan kembali bergabung dengan oposisi untuk memakzulkan Park pada 9 Desember. Park juga harus memberikan kuasa kepada Perdana Menteri (PM) Hwang Kyo-ahn untuk membentuk kabinet koalisi yang baru.

’’Penting bagi presiden menyatakan dengan jelas tanggal pengunduran dirinya untuk membuktikan kesungguhannya,’’ ujar Hwang Young-cheul, salah seorang legislator Saenuri yang ingin Park turun. ’’Akhir April bakal menjadi waktu yang baik,’’ tambahnya. Saat itu pembentukan kabinet baru yang netral telah selesai. Dengan begitu, situasi akan tetap stabil ketika ada transfer kekuasaan Park hingga presiden baru terpilih nanti.

Tawaran tersebut, tampaknya, tidak akan dilewatkan oleh Park. Sebab, jika dimakzulkan, saat itu juga dia tidak memiliki kekuasaan hingga ada ketetapan dari Mahkamah Konstitusi (MK) terkait apakah pemakzulannya sah atau tidak. Namun, jika dia mengambil opsi yang diungkapkan Hwang, Park tetap memiliki kekuasaan penuh sebagai seorang presiden hingga akhir April. Artinya, dia punya waktu lima bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi kejaksaan yang bakal menginvestigasi dirinya. Dia juga punya waktu untuk melakukan lobi-lobi terhadap kasus yang membelitnya.

Partai Saenuri juga diuntungkan dengan opsi kedua tersebut. Mereka punya waktu lebih lama untuk mempersiapkan calon yang akan maju sebagai kandidat presiden. Sebab, 60 hari setelah Park mundur, pemilu presiden harus diselenggarakan. Namun, tentu saja, opsi kedua tersebut tidak akan disukai rakyat. Kemungkinan demo besar-besaran tetap digelar setiap pekan karena mayoritas penduduk ingin Park mundur secepatnya.

Sementara itu, pemerintah telah menunjuk tim independen untuk menyelidiki kasus yang membelit Park. Tim tersebut dipimpin mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Park Young-soo. Dia bakal membawahkan lebih dari 100 penyelidik. ’’Fokus utama kami adalah menemukan kebenaran dan tidak akan membatasi lingkup penyelidikan kami maupun mempertimbangkan apakah orang yang akan ditanyai adalah seorang petinggi atau bukan,’’ tegas Park Young-soo. (Reuters/AFP/AP/Bloomberg/YonhapNews/sha/c7/any)

 

Sponsored Content

loading...
 TOP