Minggu, 24 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

Misbakhun: Indonesia Perlu Memberikan Otonomi Pada Otoritas Pajak

| editor : 

Mukhamad Misbakhun

Mukhamad Misbakhun (DOK JPNN)

JawaPos.com - Pada 2015 lalu, tax ratio Indonesia hanya sebesar 10,47 persen. Jumlah tersebut tergolong rendah karena di bawah rata-rata tax ratio lower middle income coutries yang mencapai 17,7 persen. Padahal, pajak merupakan salah satu instrumen penting penerimaan negara. 

Sayangnya, menurut anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, masih banyak masalah yang mengadang untuk memaksimalkan pendapatan dari pajak.

Mulai kesadaran wajib pajak yang rendah hingga di tingkat Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Padahal, kemandirian DJP sebagai institusi yang mandiri merupakan bagian dari revolusi mental.

Hal itu sesuai dengan cita-cita Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawacita, Trisakti, maupun rencana pembangunan jangka menengah (RJPM). “Rendahnya tax ratio menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak, serta kemampuan pemerintah untuk menggali sumber penerimaan pajak dari sektor-sektor ekonomi belum optimal,” kata anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, Senin (21/11).

Politikus Golkar itu menambahkan, perbandingan antara besar pajak yang dipungut dengan potensi pajak (tax coverage ratio) hanya mencapai 55 persen.

Jumlah tersebut jauh dari angka maksimal yang mencapai 70 persen. Menurut pria bekacamata itu, hal tersebut berdampak terhadap kebijakan fiskal. Terutama pembiayaan program strategis seperti jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Banyak hal yang membuat penerimaan pajak belum maksimal.

Salah satunya, sambung Misbakhun, adalah kapasitas sumber daya manusia di DJP yang masih rendah.

Secara kapasitas dan beban kerja, kondisi saat ini sangat tidak layak. 

Hingga kini, rasio pegawai pajak dengan penduduk di Indonesia mencapai 1:7.700.

Rasio itu jauh dibandingkan dengan negara yang efektivitas kelembagaan perpajakannya sangat optimal.

Salah satunya adalah Jerman yang memiliki rasio pegawai pajak dan penduduk hanya sekitar 1:727.

“DJP selama ini sudah melakukan upaya penguatan institusi dengan tambahan pegawai dan infrastruktur, namun perkembangannya belum optimal,” ujar Misbakhun.

Menurut Misbakhun, dengan tugas penerimaan pajak yang besar, DJP hanya berdasar Peraturan Menteri Keuangan sebagai turunan Peraturan Presiden tentang Struktur Organisasi Kementerian. Ironisnya, Perpres juga berubah setiap ada pergantian kabinet.

Padahal, UUD menyebutkan bahwa perpajakan diatur lebih lanjut dalam undang-undang.

Saat ini, UU tentang Subtansi Materi Pajak sudah  diatur seperti di UU KUP, UU PPH dan UU PPN.

Dalam konteks itu, kata Misbakhun, DJP belum memperoleh kewenangan untuk mengatur SDM, organisasi dan anggaran sendiri.

DJP sebagai otoritas pajak masih dikelompokkan sebagai single directorate in ministry of finance.

“Oleh karena itu, Indonesia perlu memberikan otonomi pada otoritas pajak, melalui reformasi di sektor penerimaan negara. Dengan otonomi bisa menjadikan organisasi lebih independen sehingga mengurangi tekanan politik terhadap otoritas pajak,” pungkasnya. (jos/jpnn)

 

Sponsored Content

loading...
 TOP