Sabtu, 23 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Produsen Ban Indonesia Minta Pemerintah Tindak Impor Ilegal

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

JawaPos.com - Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI) meminta pemerintah serius melindungi ban produksi lokal dari gempuran ban impor yang masuk secara ilegal. Kebanyakan ban yang diimpor secara ilegal itu berasal dari Tiongkok dan India.

Ketua APBI Azis Pane menyatakan, saat ini Indonesia menjadi sasaran empuk pengalihan pasar ban. Itu setelah permintaan ban dari Eropa dan Timur Tengah menurun drastis. Dia pun mempertanyakan ban impor ilegal yang masuk ke pasar lokal tanpa terkena kewajiban menerapkan SNI.

Sebab, kata dia, hal itu bisa menghantam pasar ban produksi lokal dan membahayakan keselamatan pengendara. “Setidaknya pasar dalam negeri dibanjiri 2 juta ban impor per tahun, yang masuk ke pasar lokal secara illegal,” kata Azis di Jakarta, Senin (21/11).

Dia menegaskan, ban lokal diproduksi dengan kualitas mengikuti standar pemerintah dan menggunakan karet alam dari petani dalam negeri. Sementara ban impor ilegal belum teruji kualitas dan mengabaikan SNI yang sudah menjadi aturan pemerintah.
"Ban impor ilegal itu menggunakan bahan baku dari carbon black yang kualitasnya dibawah standar,” ungkap Azis.

Dia mengingatkan, pemerintah untuk segera menindak ban impor ilegal. Jika tidak, itu akan berimplikasi pada menurunnya minat investor untuk mengembangkan industri ban di dalam negeri.

“Banyak investor yang berminat tapi melihat kenyataan impor yang semakin tidak tekendali, membuat investor kemudian menarik diri,” terang Azis.

Dia mengingatkan, untuk membangun pabrik yang berkapasitas 2 juta ton dalam memenuhi kebutuhan lokal dalam negeri paling tidak dibutuhkan investasi 400-500 juta dollar AS.

Untuk itu, kata dia, APBI mendesak Kementerian Perdagangan agar memperhatikan masalah ini secara serius. Menurutnya, diperlukan instrumen pengendalian yang kuat dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, serta membangun industri ban dalam negeri  yang lebih kompetitif.

“Pemerintah harus serius jangan membiarkan pasar domestik kita dibanjiri oleh ban impor ilegal, keberpihakan pemerintah sangat diperlukan,” tegas Azis.

Secara keseluruhan, tambah dia, industri ban dalam negeri saat ini telah menyerap 258 ton karet alam atau 44 persen komsumsi karet alam nasional. Sementara  hasil produksi ban nasional telah dapat memenuhi kebutuhan domestik dan telah lama dipercaya industry otomotif seperti Toyota, Honda, Yamaha, Suzuki, Mitsubishi, dan lainnya.

Selain memenuhi kebutuhan lokal, lanjut Azis, sebagian besar untuk produksi ban dalam negeri telah diekspor ke Amerika Serikat, Jepang,  Australia dan Eropa, dengan nilai ekspor mencapai 2 miliar dollar AS per tahun. (yuz/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP