Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Indonesia Ditarget Jadi Eksportir Utama Kopi Sangrai di Dunia

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok JPNN)

JawaPos.com - Kementerian Perindustrian optimistis Indonesia mampu menjadi eksportir utama kopi sangrai (roasted bean) di Asia dan dunia. 

Apalagi, sebagai negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri pengolahan kopi.

“Untuk itu, pengembangan industri melalui peningkatan nilai tambah biji kopi dan peningkatan mutu kopi olahan  roasted bean melalui penguasaan teknologi roasting terus dilakukan,” kata Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto di Semarang,  Sabtu (1/10).

Panggah menambahkan, upaya lainnya adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia seperti barista, roaster, dan penguji cita rasa (cupper). 

“Kami berkomitmen memacu pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri melalui berbagai program dan kebijakan strategis,” tegasnya.

Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional tahun 2015-2035, memasukan industri pengolahan kopi  dalam sektor prioritas. 

Untuk itu, Pemerintah terus menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi industri pengolahan kopi melalui kebijakan fiskal dan non-fiskal serta penerapan standar.

“Industri pengolahan kopi diharapkan dapat melakukan diversifikasi produk kopi. Tidak hanya sebagai minuman, tetapi dikembangkan dalam berbagai jenis produk lainnya seperti kosmetik, farmasi, dan essen makanan,” papar Panggah. 

Kemenperin mencatat, sumbangan pemasukan devisa dari ekspor produk kopi olahan mencapai USD 356,79 juta pada tahun 2015 atau meningkat 8 persen dibanding tahun sebelumnya. 

“Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor utama di ASEAN, Tiongkok  dan Uni Emirat Arab,” tutur Panggah. 

Sedangkan, nilai impor produk kopi olahan mencapai USD 106,39 juta pada tahun 2015 atau naik sekitar 4 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Negara asal impor terbesar, yakni Malaysia, Brazil, India, Vietnam, Italia dan Amerika Serikat. “Namun demikian, neraca perdagangan produk kopi olahan masih mengalami surplus sebesar USD 250,40 juta,” ujar Panggah.(nas/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP