Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Flying The Hump, Napak Tilas Operasi Armada Logistik Tentara Sekutu pada PD II Melewati Himalaya

Sepuluh Tahun untuk Riset dan Restorasi Pesawat Renta

| editor : 

SAKSI SEJARAH: Larry Jobe (kiri) dan Tom Claytor di depan pesawat Douglas C-47 Skytrain di Merpati Maintenance Facility Kamis lalu (22/9). Pesawat itu mendarat di Surabaya pada 18 Agustus lalu karena mengalami kerusakan mesin.

SAKSI SEJARAH: Larry Jobe (kiri) dan Tom Claytor di depan pesawat Douglas C-47 Skytrain di Merpati Maintenance Facility Kamis lalu (22/9). Pesawat itu mendarat di Surabaya pada 18 Agustus lalu karena mengalami kerusakan mesin. (ARYA DHITYA/ JAWA POS)

Pesawat Douglas C-47 Skytrain menjadi andalan logistik tentara sekutu pada Perang Dunia (PD) II (1939-1945). Pada usia lebih dari 70 tahun, pesawat berbadan bongsor itu masih bisa terbang. Dari Australia menuju Tiongkok. Untuk menapaktilasi operasi pengiriman logistik melewati Pegunungan Himalaya. 

FAJRIN MARHAENDRA B, Surabaya 

 

---

PENERBANGAN siang itu (18/8) sebenarnya terasa menyenangkan. Terbang satu jam meninggalkan Bandara Ngurah Rai, Bali, pada pukul 08.00 Wita, cuaca cerah menemani penerbangan menuju Johor Bahru, Malaysia. Dari take off menuju ketinggian jelajah, pesawat Douglas C-47 Skytrain terbang mulus-lus tanpa guncangan. 

Pesawat dengan panjang 19 meter itu cukup andal. Terbang dari Bathurst di ujung selatan Australia pada 15 Agustus, tidak ada masalah sama sekali. Memang, pesawat yang ditumpangi Bob Small, Alan Searle, Larry Jobe, Tom Claytor, dan Barry Arlow tersebut harus tiga kali "istirahat". Di Longreach, Darwin, dan Bali. Namun, dengan usia lebih dari 70 tahun, tetap saja itu adalah capaian yang bagus.

Tetapi, beberapa saat memasuki angkasa Pulau Jawa, sekitar 1,5 jam penerbangan, masalah muncul. Claytor yang sedang me­nyiapkan oli mesin melihat kepulan asap pada mesin di sayap sebelah kiri. Dalam hitungan detik, percikan api sudah mulai terlihat. 

Mencegah kerusakan lebih besar, Claytor meminta Searle -yang saat itu sedang mengendalikan pesawat- mematikan mesin sebelah kiri. Mau tidak mau, mereka mesti melakukan pendaratan darurat karena salah satu mesin mati. Saat itu, dari alat navigasi, terlihat yang paling dekat adalah Surabaya.

"Saya melihat titik-titik merah untuk pendaratan di layar navigasi. Dan saya melihat titik paling dekat adalah Surabaya," kata Claytor kepada Jawa Pos saat ditemui di Merpati Maintenance Facility (MMF) Kamis (22/9). Di fasilitas yang ada di kompleks Bandara Juanda itu, C-47 Skytrain diperbaiki. 

Karena Searle (76 tahun) mengalami masalah pendengaran, Claytor-lah yang ditugasi untuk berkomunikasi dengan menara pengawas di Bandara Juanda. Apalagi, dia cukup lihai berbahasa Indonesia. "Ketika itu saya dibantu petugas perempuan," ucapnya. 

Saat itu sebenarnya sedang jam sibuk. Namun, karena pendaratan darurat, pengelola Bandara Juanda memberikan prioritas kepada pesawat C-47 Skytrain bernomor VH-XUX tersebut. 

Claytor bersama rekan-rekan merasakan pelayanan yang sangat bagus dalam pendaratan darurat itu. Semuanya telah disiapkan, mulai teknisi sampai pemadam kebakaran. "Everything was perfect!" puji pria yang juga membuat film untuk National Geographic Asia tersebut.

Setelah diperiksa, ternyata satu di antara 20 piston mesin sebelah kiri jebol. Kerusakannya cukup serius. Mekanik dari pihak MMF merekomendasikan agar mereka ganti mesin. 

Namun, bukan urusan mudah mencari mesin langka pesawat berusia 70 tahun. Sejak pendaratan darurat terjadi pada 18 Agustus, baru pada akhir Agustus Claytor bersama timnya bisa memesan mesin berjenis R-1830 itu. 

Kerusakan mesin tersebut tentu saja mengganggu misi pesawat yang dikomando Larry Jobe tersebut. Mereka akan tiba di Guilin, Tiongkok, lebih lambat dari jadwal semula. 

Namun, keramahan dan bantuan yang diberikan orang-orang yang mereka temui di Surabaya membuat perbaikan pesawat yang memakan waktu lebih dari sebulan tidak sepenuhnya membosankan. "Kejadian ini membuat kami bisa mengenal budaya orang Surabaya," kata Claytor. "Saya sempat ikut salat Asar selama di sini," imbuh Claytor yang sebenarnya bukan muslim. 

Lantas apa misi pesawat renta itu terbang dari Australia menuju Tiongkok? Kurang kerjaan saja terbang 10.628 km dengan risiko mesin rusak. Jobe menjelaskan, penerbangan tersebut mereka lakukan untuk mengenang operasi tentara sekutu pada PD II. Khususnya China Burma India Theater (CBI), salah satu lokasi pertempuran sekutu di kawasan Pasifik. "Misi penerbangan napak tilas ini kami namai Flying The Hump," kata Jobe. 

Hump adalah sebutan untuk puncak-puncak gunung di Pegunungan Himalaya. Dalam kurun waktu 1942 sampai 1945, Douglas C-47 Skytrain menjadi andalan sekutu untuk melewati Hump dalam misi mengirimkan logistik ke Tiongkok. Penyebabnya, jalur darat menuju Tiongkok melalui Burma diblokade Jepang yang ketika itu menjadi lawan sekutu. 

Terbang di antara puncak gunung yang menjulang, dengan bantuan sistem navigasi ketika itu yang belum terlalu canggih, para pilot C-47 Skytrain harus bertaruh nyawa. Tidak kurang dari 740 penerbang beserta 600 pesawat logistik tentara sekutu jatuh dalam misi itu. Baik karena menabrak gunung maupun ditembak tentara Jepang. 

"Misi ini, Flying The Hump, kami persembahkan untuk mengenang orang-orang yang gugur saat itu," kata Jobe. "Semoga ini bisa memberikan inspirasi agar semua orang menjaga perdamaian. Tidak boleh lagi ada perang," tandasnya. 

Jobe yang kini berusia 77 tahun lantas menjelaskan kehebatan C-47 Skytrain. Total telah 10 ribu unit C-47 Skytrain diproduksi Douglas Aircraft Company di Long Beach California dan Oklahoma City. Pada PD II, C-47 Skytrain umumnya digunakan sebagai pesawat angkut personel, kargo, dan medis. "Pesawat ini berperan sangat vital. Bahkan, peran The Tigers pun tidak akan ada apa-apanya tanpa pesawat ini," yakinnya.

Douglas C-47 Skytrain adalah varian militer Douglas DC-3. Menggunakan mesin ganda P&W R-1830 Radial Engines, 14 silinder, C-47 mampu membawa 28 orang (pasukan) plus 3 awak pesawat. Plus 2,5 ton barang bawaan dengan maximum take off weight hingga 14 ton. Sedangkan, kecepatan 280 km/jam.

C-47 Skytrain diproduksi awal pada 1935. Pun pesawat yang dibawa Jobe dkk, umurnya sudah lebih dari 70 tahun. Tak ayal, untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh dengan pesawat yang renta, diperlukan persiapan matang. 

Jobe menghabiskan waktunya lebih dari sepuluh tahun untuk menyiapkan misi tersebut. Riset saja memakan waktu sembilan tahun. Dia mencari data terkait PD II, terutama yang terjadi antara tentara sekutu dan Jepang di Tiongkok. "Sejak pensiun, saya mulai aktif mencari segala data tentang perjalanan ini," ungkap pengusaha properti asal California itu.

Begitu pula halnya untuk merestorasi pesawat. Dibutuhkan waktu kurang lebih sepuluh tahun untuk memperbaiki pesawat yang dibelinya dari Ralph Crystal, seorang pilot asal Melbourne, Australia, tersebut. 

Sebelum dibeli Jobe, pesawat itu digunakan untuk kargo dan mengirim ternak. Sempat menganggur bertahun-tahun, pesawat tersebut diperbaiki Ralph pada awal 2004. Jobe lalu menghubungi Ralph, menyampaikan gagasannya untuk membuat misi Flying The Hump. 

Ralph langsung setuju. Dia menyukai ide bahwa pesawat itu akan menghormati pilot yang terbang melewati Himalaya pada PD II. Pada Maret 2014 Jobe membeli pesawat tersebut. "Ini adalah kisah besar. Kau harus memercayaiku," kenang Jobe saat meyakinkan Ralph.

Perombakan besar-besaran dilakukan. Mengganti ban dan rem sampai merapikan panel navigasi pesawat. Namun, yang paling rumit adalah membersihkan karat hampir di sekujur bodi pesawat. Terutama di bagian mesin. Maklum, sudah puluhan tahun pesawat itu terparkir di sebuah garasi di Darwin. Karat tersebut juga yang membuat pengerjaan berjalan cukup lama. "Kami harus teliti. Kalau tidak, akibatnya akan fatal," tuturnya dengan mimik serius.

Tujuan akhir C-47 Skytrain adalah Guilin, Tiongkok. Di sana pesawat dengan kombinasi cat hijau tua dan putih itu akan menjadi sajian utama di Flying Tiger Heritage Park and Museum.

Menjalani penerbangan C-47 Skytrain yang penuh risiko tentu saja membutuhkan nyali besar. Pun demikian Jobe dkk. Semuanya memiliki track record hebat. Claytor adalah seorang bush pilot, pilot untuk kawasan-kawasan yang sulit dijangkau dan tanpa landasan pacu. Dia pernah mendarat di hutan dan padang pasir di Afrika dan Asia.

Sementara itu, Alan Searle adalah pilot berjam terbang paling tinggi dengan pesawat C-47. Dia menghabiskan lima tahun untuk mengeksplorasi Papua Nugini. Dale Mueller adalah pilot pesawat pengebom Boeing B-52 milik US Air Force. Namun, dengan adanya masalah tersebut, dia terpaksa mundur karena mesti kembali bekerja. Dia digantikan Bob Small. Barry Arlow, satu-satunya mekanik dalam Flying The Hump, punya catatan menjadi mekanik C-47 Skytrain lebih dari 50 tahun. 

Semuanya sudah tua. Kalau dijumlahkan, usia mereka 343 tahun. Benar-benar tua-tua keladi. "Orang tua juga berhak punya mimpi. Mimpinya untuk memberikan penghormatan kepada pilot yang telah menyelamatkan dunia," kata Claytor dengan mimik serius.

Mesin baru untuk C-47 Skytrain rencananya tiba di Bandara Juanda Senin malam (26/9). Total biaya yang dikeluarkan mencapai USD 40.000. Untuk pembelian mesin maupun biaya pengiriman. 

Rencananya, mesin dirakit ulang pada Rabu (28/9). Rute C-47 Skytrain diharapkan bisa dijalani pada 3 Oktober. Rute selanjutnya adalah Johor Bahru, Utapao (Thailand), Mandalay (Burma, sekarang Myanmar), Kunming (Tiongkok), dan terakhir Guilin. Keep flying...! (*/c9/ang) 

Sponsored Content

loading...
 TOP