Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Kesehatan

Hanya 42 Persen Ibu Indonesia Menyusui

| editor : 

SELALU BAWA: Pompa ASI manual dan botol kaca merupakan bawaan wajib ibu bekerja yang menyusui.

SELALU BAWA: Pompa ASI manual dan botol kaca merupakan bawaan wajib ibu bekerja yang menyusui. (Dipta Wahyu Pratomo/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pekan ASI sedunia diperingati pada 1–7 Agustus. Sayang, hingga kini berdasar data, jumlah ibu yang menyusui bayinya masih sedikit.

’’Di Indonesia, menurut riset kesehatan dasar (riskesdas), capaiannya cuma 42 persen,’’ ujar dr Dian Pratamastuti SpA, konselor ASI dan menyusui Siloam Hospitals Surabaya, Selasa (2/8).

Menurut dia, target sebenarnya adalah 80 persen. Ada beberapa persoalan yang membuat capaian ibu yang menyusui anaknya kurang dari separo.

Pertama, pengetahuan ibu mengenai ASI (air susu ibu) masih kurang. Ada yang belum memahami keajaiban dan manfaatnya.

Selain itu, banyak ibu muda yang menghadapi pengalaman pertama menyusui. Mengalami sedikit kesulitan sudah membuat mereka menyerah pada susu formula.

Alasan lain, tidak ada dukungan keluarga. Dian mencontohkan salah satu klien yang datang dengan keluhan diminta menghentikan ASI oleh suami dan orang tuanya.

Penyebabnya, keluarga merasa kasihan kalau si ibu harus terbangun tengah malam untuk menyusui.

’’Biasanya saya minta ketemu dengan keluarga. Saya jelaskan keistimewaan ASI,’’ ucapnya.

Dokter yang menempuh pendidikan spesialis anak di RSUD dr Soetomo-Universitas Airlangga itu menyatakan, selama ini banyak ibu yang memilih tidak memberikan ASI karena susu sedikit atau bahkan sama sekali tidak keluar.

Menurut Dian, setiap perempuan pasti bisa mengeluarkan ASI. ’’Mau kecil atau besar ukuran payudaranya, pasti keluar,’’ tegasnya.

Menurut dia, supaya ASI keluar, memang ada tipnya. Pertama, kenalkan bayi dengan ASI sedini-dininya. Yakni, melalui inisiasi menyusui dini (IMD).

Caranya, 30–60 menit setelah lahir, bayi ditaruh di dada ibu. Bayi secara refleks akan merangkak dan mencari payudara ibu. Untuk kelahiran normal, IMD sering berhasil.

Bagi yang menjalani Caesar, IMD tetap bisa dilakukan. Dian menyarankan untuk memilih rumah sakit yang memiliki rawat gabung.

Setelah operasi Caesar, maksimal empat jam bayi langsung digabungkan dengan ibunya untuk IMD.

’’Susu pertama ini mengandung kolostrum, 1 ml kolostrum mengandung 1–3 juta leukosit, yakni sel darah putih yang sangat penting bagi kekebalan bayi,’’ ucap dokter yang juga berpraktik di National Hospital tersebut.

Dengan menyusui sejak awal, proses bayi mengisap akan merangsang keluarnya hormon oksitosin atau hormon cinta pada ibu.

Selain itu, ada hormon prolaktin yang berfungsi meningkatkan jumlah ASI. Itulah yang membuat ASI makin melimpah.

’’Seberapa sering pemberian sesuka bayi. Ada tanda lapar langsung diberi,’’ ungkap Dian.

Selain itu, angka ibu menyusui rendah karena banyak perempuan yang bekerja. Berdasar data BPS, di antara 144 juta angkatan kerja, 43 persen adalah pekerja perempuan.

Dian menyebutkan, sebenarnya hal itu bisa diakali. Misalnya, rutin memerah setiap tiga jam saat jam kantor. Dia berharap instansi tempat bekerja juga menyediakan ruang laktasi.

Apalagi hal tersebut sudah diatur undang-undang. Kemudian, ibu bekerja tetap menyusui saat pagi sebelum ke kantor. Termasuk ketika malam. Usahakan menyusui dalam waktu lama.

Lebih dari 15 menit. Sebab, susu pada 10 menit pertama adalah susu encer yang hanya mengandung protein dan air. Di atas itu susu kental dengan karbohidrat dan lemak.

Untuk mengatasi macetnya ASI, ibu tidak boleh stres. Yang terpenting, tidak mengenalkan sama sekali bayi dengan empeng. Sekali kena, bayi akan bingung puting.

’’Gunakan cup feeder, sendok, atau pipet,’’ tutur Dian.

Selanjutnya, ibu bisa mengonsumsi makanan bergizi, lalu minum banyak air sampai 3 liter per hari.

’’Istilahnya isi bensin dulu. Air itu sebagian mampir langsung ke payudara sehingga ASI melimpah,’’ jelasnya.

Dian menekankan, dilihat dari sudut mana pun, ASI lebih bermanfaat daripada susu formula. ASI mengandung AA dan DHA yang tidak mungkin dimiliki susu formula.

Sebab, untuk menghasilkan AA dan DHA, dibutuhkan enzim lipase yang ada pada manusia.

’’ASI membentuk otak dan otot sehingga anak cerdas dan jarang sakit,’’ kata dokter yang berdomisili di kawasan Keputih tersebut. (nir/c5/nda/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP