Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Tukang Becak Naik Haji, Setiap Hari Nabung Rp 5 Ribu di Bawah Bantal

| editor : 

Karto yang sehari-hari tukang becak bisa naik haji karena rajin menabung.

Karto yang sehari-hari tukang becak bisa naik haji karena rajin menabung. (Anggi Fridianto/Radar Mojokerto/JPG)

Karto memang hanyalah tukang becak. Dia membawa pulang rata-rata Rp 30 ribu per hari. Yang luar biasa, dia mampu melaksanakan ibadah haji dengan jerih payah sendiri.

ANGGI FRIDIANTO, Jombang

FAJAR mulai tampak di ufuk timur. Bagi Karto, itulah saatnya membersihkan becak bututnya yang kini dimodifikasi menjadi becak motor agar tetap terlihat cling.

Ya, Karto adalah salah seorang warga Kota Santri yang berprofesi tukang becak. Setelah salat Subuh, dia mengayuh pedal becaknya dari Kecamatan Kabuh hingga 20 km ke utara Kota Jombang setiap hari.

Meski hanya mengandalkan becak kesayangannya, Karto ternyata menjadi salah seorang calon jamaah haji (CJH) dari Jombang yang melunasi BPIH tahap II. Dia bakal berangkat ke Makkah pada Agustus ini.

Perlu perjuangan ekstrakeras bagi Karto untuk mengumpulkan uang puluhan juta rupiah. ”Awalnya, sangat sulit mengumpulkan uang sambil membaginya untuk kebutuhan belanja keluarga. Bahkan, saya pernah tidak memberikan uang belanja kepada istri,’’ kenangnya.

Lelaki 67 tahun itu melanjutkan, meski awalnya hanya mampu nyelengi Rp 5 ribu per hari, dia diizinkan berangkat tahun ini karena rida Allah. ”Bahkan, saya pernah menyisihkan Rp 1.500 sehari. Karena Sang Pangeran mengizinkan, ya inilah karunia-Nya,’’ tuturnya.

Lembar demi lembar rupiah yang disisihkan Karto tersebut menyimpan cerita khusus. ”Saya kumpulkan di bawah kasur, kadang juga di bawah bantal. Kalau sudah terkumpul banyak, saya tabung (di bank, Red),’’ ujarnya.

Bertempat tinggal di rumah kayu berukuran 5 x 2 meter di Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, bersama istri dan dua cucunya, Karto menuturkan bahwa kehidupannya dipenuhi perjuangan pahit. ”Sebelum saya jadi tukang becak, di sini (Dusun Klubuk, Red) merupakan tempat lokalisasi. Saya dan istri bekerja sebagai tukang parkir. Dulu sering kena razia,’’ ungkapnya.

Namun, seiring bertambahnya usia, tenaga Karto tak cukup kuat untuk mengayuh becak. Jadi, dia memodifikasi becak dengan menambah beberapa rangkaian mesin hingga menjadi becak motor. ”Setelah itu, saya agak terbantu. Menggunakan becak motor lebih mudah dan saya cukup kuat untuk bekerja,’’ ucapnya. (nk/c5/ami)

Sponsored Content

loading...
 TOP