Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Metropolis

Kanker Kepala-Leher Serang Ribuan Pasien

| editor : 

Dokter spesialis bedah kepala dan leher RSUD dr Soetomo dr Yoga Wijayahadi SpB-KL (K) memeriksa kondisi Sripun, pasien kanker kulit basalioma.

Dokter spesialis bedah kepala dan leher RSUD dr Soetomo dr Yoga Wijayahadi SpB-KL (K) memeriksa kondisi Sripun, pasien kanker kulit basalioma. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com- Peringatan Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia jatuh tepat Rabu ini (27/7). Momentum tersebut bisa menjadi ajang untuk meningkatkan deteksi dini. Sebab, hingga kini masih banyak kasus kanker head and neck yang terlambat ditangani.

Misalnya, yang dialami Sripun. Dia merasakan gejala kanker di bagian hidung sejak dua tahun lalu. Namun, baru pekan ini perempuan 44 tahun itu berobat ke RSUD dr Soetomo. Kini dia mulai menjalani rawat jalan di rumah sakit rujukan nasional tersebut.

’’Awalnya terasa gatal-gatal di hidung,’’ ujarnya. Rasa gatal itu terjadi di bagian tahi lalatnya yang tepat berada di organ penciuman. Sebenarnya ukuran tahi lalat tersebut kecil. Seukuran biji merica. Tapi, lama-lama membesar dengan cepat. Sripun datang ke bidan desa.

Sang bidan lantas memberikan alamat seorang dokter kulit-kelamin di pusat kota tempatnya tinggal. Akhirnya dia diminta menjalani tindakan laser. Pascaoperasi laser, tahi lalat mengecil lagi. Namun, kondisi itu hanya bertahan sepuluh bulan.

Menjelang setahun setelah tindakan, tahi lalat muncul lagi. Kali ini pertumbuhannya lebih cepat. Sripun datang ke dokter kulit-kelamin. Perempuan asli Candipura, Lumajang, tersebut mendapat rujukan ke RSU dr Haryoto, Lumajang. Dari situ, Sripun diarahkan ke RSUD dr Soetomo. ’’Dokter di Lumajang sampai meminta saya berangkat saat itu juga,’’ ucapnya.

Sripun dirujuk ke divisi bedah kepala-leher rumah sakit. Kemarin dia diperiksa dr Urip Murtedjo Sp-BKL dan dr Yoga Wijayahadi SpB-KL. Dua dokter anggota Perhimpunan Bedah Kepala Leher Indonesia (PEBKLI) tersebut menyatakan, Sripun mesti dioperasi. Alasannya, penyebaran kanker di hidung tersebut semakin cepat jika dibiarkan.

Sripun mendapat penjelasan bahwa kankernya dikenal dengan sebutan basalioma. Yakni, kanker kulit yang dipicu paparan sinar UV. Ternyata dia memang sering terkena sinar matahari saat bekerja. Maklum, Sripun adalah seorang petani. Setiap hari dia pergi ke sawah. ’’Ngunduh lombok, kacang, buncis,’’ ujarnya.

Sripun mengaku memang kepanasan setiap bekerja. Saking panasnya, kulitnya menggelap, keringat membuat bajunya basah kuyup. Selama bertani, dia hanya memakai caping tipis dari bahan bambu. Mendengar keputusan dokter bahwa dia harus operasi, Sripun mengaku siap. ’’Nggak papa asal habis kankernya,’’ katanya.

Sementara itu, spesialis bedah kepala dan leher dr Urip Murtedjo SpB-KL (K) menyebutkan, kanker head and neck cukup sering terjadi. Pada 2015 tercatat ada 1.159 pasien yang ditangani RSUD dr Soetomo. Yang paling banyak adalah kanker tiroid dan rongga mulut. Pasien basalioma sebanyak 21 orang. ’’Kasus ini jarang yang tahu. Sederhana, tapi membahayakan,’’ ungkapnya.

Alumnus Unversitas Airlangga itu menambahkan, kasus kanker kulit ditangani dengan operasi radikal. Tekniknya menggunakan wide excision. Yakni, pembedahan lebar. Karena itu, kulit yang terangkat biasanya besar. Kalau tidak radikal, kanker akan timbul lagi. Dokter bedah akan merekonstruksi kulit yang bolong. Caranya dengan menambal lubang bekas operasi dari kulit lain. Bisa dari kulit sekitar wajah, leher, atau bagian lain.

Teknik lain yang lebih modern untuk menangani kanker kulit adalah microsurgery. Dokter mengambil bagian kulit lengkap dengan pembuluh darahnya. ’’Ini teknologi tercanggih. Tidak semua rumah sakit bisa,’’ ucap Urip.

Menurut dia, kanker itu sering terjadi pada pekerja luar ruangan. Misalnya, kontraktor, nelayan, dan petani. Meski begitu, pekerja dari bidang lain bisa terkena. Lokasi yang sering terkena adalah wajah dan leher sebagai area yang sering terpapar matahari. Urip menyebut pentingnya mengenali gejala kanker basalioma. Biasanya terjadi perubahan pigmen kulit pada tahi lalat atau tanda lahir yang biasa dikenal sebagai toh.

Pada penyandang kanker kulit, tahi lalat atau tompel itu mudah berdarah. Ditambah lagi makin menghitam dan bertambah besar. Selain itu, permukaan tahi lalat yang biasaya licin malah kasar atau tidak rata. ’’Rasanya gatal sehingga pengin digaruk,’’ ucap mantan kepala IGD RSUD dr Soetomo tersebut.

Dokter Yoga Wijayahadi SpB-KL menambahkan, kanker kulit, meski tidak sebanyak tiroid, tetap harus diwaspadai. Sebab, sifatnya ganas. Penyebarannya cepat. Bahkan, metastasenya sampai di otak. Kalau kena otak, bisa timbul masalah pada saraf. Belum lagi kalau kena tulang. Sel kanker menggerogoti sampai tulangnya habis. Selain itu, saat merambat ke mata, kanker bisa mengakibatkan kebutaan.

Dia mengungkapkan, kanker kulit bisa dihindari dengan memakai pelindung saat terkena matahari. Contohnya, pekerja yang memakai topi proyek. Nelayan atau petani bisa memakai penutup kepala dan wajah dengan memakai masker. ’’Harus hati-hati, kalau sudah kena di bagian hidung misalnya, rekonstruksinya tidak mudah,’’ kata Yoga. (nir/c7/oni)
 

Sponsored Content

loading...
 TOP