Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Kesehatan

Mudah Marah, Awas Kelenjar Tiroid Tidak Beres

Bayi Usia 48 Jam Bisa Skrining

| editor : 

Ilustrasi: Penyakit gondok atau kelenjar tiroid yang bengkak di leher bagian depan bisa menutup jalan napas.

Ilustrasi: Penyakit gondok atau kelenjar tiroid yang bengkak di leher bagian depan bisa menutup jalan napas. (jpnn.com)

JawaPos.com – Penyakit gondok atau membesarnya kelenjar tiroid pernah merebak pada era 70–90-an. Ternyata, sekarang kelainan kelenjar tiroid masih tinggi.

Buktinya, di Divisi Bedah Kepala-Leher RSUD dr Soetomo, jumlah pasien yang mengalami kelainan kelenjar tiroid paling banyak.

Selama 2015, ada 223 pasien kelainan tiroid yang datang ke poli bedah kepala-leher. Yang memprihatinkan, kelainan kelenjar tiroid kini tidak sebatas kekurangan atau kelebihan yodium.

Banyak kelainan kelenjar tiroid yang terdeteksi karena kanker. Bayangkan, di antara jumlah pasien yang datang ke poli bedah kepala-leher tersebut, 133 orang terkena kanker.

Menurut dokter spesialis bedah kepala-leher RSUD dr Soetomo dr Urip Murtedjo SpB-KL, kelainan tiroid dibagi menjadi dua, yakni hipertiroid dan hipotiroid.

Hipotiroid disebabkan kekurangan yodium, sedangkan hipertiroid sebaliknya. Namun, reaksi yang terjadi sama, yakni leher membesar. Di luar dua jenis kelainan tersebut, ada kelenjar tiroid yang membesar karena kanker.

Kelenjar tiroid berada di leher bagian depan. Kelenjar tersebut berfungsi untuk mengeluarkan hormon serta mengatur metabolisme, suhu tubuh, dan denyut jantung.

Kelainan kelenjar tiroid sering kali dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan. Mereka yang mengalami hipertiroid mempunyai ciri khusus lain.

Biasanya penderita mudah emosional, mata melotot, dan ada masalah di jantungnya. Selain itu, pipinya ikut membesar. Sementara itu, hipotiroid berbahaya bagi mereka yang sedang hamil.

”Anak yang dikandung bisa kretinisme atau kerdil,” tuturnya. Hal tersebut terkait dengan yodium sebagai zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Menurut Urip, perempuan paling sering terserang penyakit tersebut. Usia rawan terserang kelenjar tiroid adalah 40–50 tahun. Dalam beberapa kasus, kelainan tiroid juga terjadi pada anak-anak.

Dokter Urip bahkan pernah melakukan operasi pada anak berusia tujuh tahun. Kepedulian masyarakat pada kelainan tiroid, menurut kepala instalasi gawat darurat (IGD) itu, masih rendah.

Masih ada yang datang terlambat sehingga lehernya sudah membesar. ”Ada yang menunda-nunda karena takut sama dokter,” katanya. Padahal, benjolan tersebut bisa menjadi ganas.

Apalagi jika benjolan di leher itu cepat membesar dan keras. Ciri seperti itu bisa jadi menandakan kelenjar tersebut sudah terkena kanker.

Kelainan tiroid juga berbahaya jika ada saraf yang lengket. Jika sudah demikian, saraf bisa terganggu dan suara menjadi parau. ”Kalau ngomong tidak bisa jelas,” tuturnya.

Urip menambahkan, pembengkakan juga bisa mengakibatkan penderita sesak. Sebab, kelenjar yang bengkak tersebut bisa menutup jalan napas.

Untuk mengurangi risiko yang terjadi, Urip menyarankan penderita agar segera ke dokter. Terlebih jika ada benjolan di leher bawah rahang.

”Jangan datang ketika ada gejala lain. Takutnya sudah parah,” tuturnya. Kelainan tiroid bisa terjadi sejak lahir. Hipotiroid konginetal, misalnya.

Dokter Mira Irmawati SpA(K) mengatakan bahwa skrining secara dini lebih baik. Pada bayi usia 48–72 jam, sudah bisa dilakukan skrining.

”Caranya, cukup ambil darah dari tumitnya. Sedikit saja darah yang diambil,” ujar Irma saat ditemui pada seminar Pekan Tiroid Internasional di RS Darmo Surabaya, Minggu (29/5).

Menurut Irma, setiap tahun ada ratusan kasus baru. Di Jawa Timur, ada 195 kasus baru per tahun. Dia menyarankan pasangan yang ingin memiliki anak untuk melakukan skrining terlebih dahulu.

”Sebab, akan ketahuan ada bibitnya atau tidak dan bisa diobati sebelum hamil,” ungkapnya. Bagi anak yang mengalami gangguan tiroid, pertumbuhannya akan terhambat. Mereka menjadi kerdil. (lyn/c7/end/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP