Kamis, 23 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Hmmm... Ternyata Begini Cara Jero Wacik Korupsi

| editor : 

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik saat duduk di kursi terdakwa di Pengadian Tipikor Jakarta, Selasa (22/9).

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik saat duduk di kursi terdakwa di Pengadian Tipikor Jakarta, Selasa (22/9). (Foto: Ricardo/JPNN.Com)

JawaPos.Com - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik akhirnya duduk di kursi terdakwa Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Pada persidangan Selasa (22/9), jaksa penuntut umum (JPU) dari KPK mendakwa Jero saat jadi menteri telah melakukan serangkaian tindak pidana korupsi.

 

Berdasarkan surat dakwaan, Jero saat menjadi menteri ESDM periode 2011-2014 menerima hadiah berupa uang sebesar Rp 10,381 miliar. Uang itu diterima Jero dari dana-dana yang dikumpukan anak buahnya lewat kegiatan fiktif di Kementerian ESDM.

Hal itu bermula setelah Jero diangkat sebagai menteri ESDM dan mengetahui bahwa dana operasional menteri (DOM) yang dianggarkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun anggaran 2011 hanya Rp 120 juta per bulan. Jero tahu soal DOM karena sebelumnya juga pernah menjadi menteri kebudayaan dan pariwisata di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid pertama.

Ternata, DOM di KEmenterian ESDM tidak sebesar di Kemenbudpar yang mencapai Rp 300 juta per bulan. Politikus Partai Demokrat itu menilai jumlah DOM di Kementerian ESDM tak cukup untuk menunjang kepentingannya.

Karenanya Jero menyampaikan permintaannya soal tambahan DOM ke Waryono Karno selaku sekretaris jenderal Kementerian ESDM.  "Untuk itu, Jero Wacik memerintahkan Waryono Karno belajar kepada Wardiatmo (sekjen Kemenbudpar)," kata JPU Dody Sukmono saat membacakan surat dakwaan.

Dalam dakwaan juga disebutkan, Waryono sebagai bawahan tidak berani menolak permintaan Jero. Untuk itu Waryono memerintahkan Kabiro Keuangan Kementerian ESDM, Didi Dwi Sutrisnohadi dan Kabiro Kepegawaian Setjen ESDM, Indriyati untuk berkoordinasi dengan kabiro keuangan dan kepegawaian di Kemenbudpar. Koordinasi itu untuk menindaklanjuti perintah Jero.  

Saat berkoordinasi, Wardiatmo menyarankan Didi agar tidak meniru kesalahannya yang menganggarkan DOM sebesar Rp 3,6 miliar per tahun. Sebab, dana tersebut sudah jadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Waryono dan Didi juga menyampaikan hal itu ke Jero. "Namun Jero Wacik tetap meminta Waryono dan Didi agar menyediakan biaya operasionalnya di Kementerian ESDM seperti yang diterima di Kemenbudpar," ujarnya.

Akhirnya, Waryono menggelar rapat bersama anak buahnya untuk menyediakan uang  di luar DOM guna memenuhi keperluan Jero. Sebagai tindak lanjut, masing-masing kepala biro di bawah Setjen Kementerian ESDM mengumpulkan dana. Caranya dengan melakukan pemotongan atas pencairan dana yang diajukan rekanan dan hasilnya digunakan untuk memenuhi permintaan Jero.

Dari sejumlah keperluan, Jero diketahui pernah menggunakan DOM untuk biaya ulang tahunnya dengan sang istri, serta peluncuran bukunya di Hotel Dharmawangsa. Biayanya mencapai Rp 619 juta.

Jaksa juga menyebut Jero  selalu memerintahkan Waryono dan Didi untuk merobek bukti tanda terima uang yang digunakannya untuk keperlian pribadi. Hal tersebut dilakukan agar bukti tanda terima tidak tersebar.

Atas perbuatannya ini, Jero dijerat dengan pasal 11 jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor sebagaimana telah diubah dnegan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 65 ayat 1 KUHPidana.(put/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP