Kamis, 21 Sep 2017
JawaPos.com Icon
Finance

Ingatkan BI Serius Jaga Rupiah agar Kurs Membaik

| editor : 

Salah satu teller di tempat penukaran valuta asing (money changer) di Jakarta.

Salah satu teller di tempat penukaran valuta asing (money changer) di Jakarta. (Foto: dokumen JPNN.Com)

JawaPos.Com - Anggota Komisi XI DPR, M Misbakhun menganggap Bank Indonesia (BI) harus bertanggung jawab atas jebloknya nilai tukar Rupiah. Menurutnya, akibat kinerja BI yang tak moncer dalam menjaga Rupiah, Presiden Jokowi yang jadi bulan-bulanan.

 

Berbicara dalam rapat kerja Komisi XI DPR dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas Sofyan Djalil dan Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (21/9), Misbakhun mengatakan, Rupiah justru tetap anjlok saat Federal Reserve di Amerika Serikat memertahankan suku bunga. Padahal akibat keputusan bank sentral AS itu, nilai tukar Euro dan Yen menguat.   

“Kami pertanyakan, apa upaya BI untuk menjaga stabilitas mata uang demi menghasilkan nilai Rupiah yang kuat? Untuk negara sebesar Indonesia, nilai Rupiah sekarang ini tak wajar. Ketika The Fed (Federal Reserve) menahan nilai bunga 0,25 poin, Euro dan Yen menguat, tapi Rupiah tetap melemah,” kata Misbakhun.

Politikus Golkar itu mengaku tak melihat keseriusan BI dalam menjaga rupiah. Padahal, lanjutnya, BI sudah berkali-kali akan mengintervensi pasar untuk mengatrol Rupiah.

Namun Misbakhun tak melihat realisasi janji BI itu. Sebab, Rupiah tetap terpuruk karena memang tak ada intervensi ke pasar.

Anggota Komisi XI DPR M Misbakhun. Foto: dokumen JPNN.Com

“Kehadirannya di mana? Buktinya USD masih Rp 14.500 terhadap USD. Anda (Gubernur BI) masih memberikan angka patokan Rp 13.200 per USD untuk asumsi makro RAPBN 2016. Sementara sekarang saja Rp 14.500. Yang benar saja," tandas Misbakhun.

Sekretaris Panitia Kerja (Panja) Penerimaan Negara Komisi XI DPR itu menambahkan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus melakukan audit atas kinerja BI. Misbakhun menegaskan, BI tak semestinya menolak diaudit kinerjanya dengan alasan independensi.

Faktanya, kata mantan pegawai Ditjen Pajak Departeman Keuangan itu, kinerja BI dalam menjaga Rupiah malah jeblok. "Begitu Rupiah jatuh, yang dimaki-maki presiden. Jangan sembunyi atas nama independensi," kata Misbakhun.(dna/JPG)

 

Sponsored Content

loading...
 TOP