Kamis, 21 Sep 2017
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Bambang W Soeharto Sakit Keras, Pembacaan Dakwaan Ditunda Dua Pekan

| editor : 

Bambang Wiratmadji Soeharto yang terseret kasus suap ke Kepala Kejaksaan Negeri Praya, Subri.

Bambang Wiratmadji Soeharto yang terseret kasus suap ke Kepala Kejaksaan Negeri Praya, Subri. (Foto: dokumen JPNN.Com)

JawaPos.Com - Jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) urung membacakan surat dakwaan atas bekas politikus Partai Hanura Bambang Wiratmadji Soeharto dalam perkara suap ke Kepala Kejaksaan Negeri Praya, NTB, Subri. Sebab, bekas komisioner Komnas HAM yang belakangan tercatat sebagai ketua dewan penasihat Hanura itu tengah sakit keras.

 

Sedianya dakwaan atas Bambang dibacakan Senin (21/9). Namun, majelis memutuskan untuk menunda sidang pembacaan dakwaan hingga dua pekan ke depan menjadi 5 Oktober. Saya kira dua minggu hal yang wajar," ujar hakim John Halasan Butarbutar yang memimpin persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Karenanya, majelis juga memerintahkan JPU untuk menghadirkan Bambang pada persidangan selanjutnya. Apabila tidak bisa hadir, majelis memiliki alternatif lain dengan mengunjunginya.

 "Yang jelas majelis harus mendapat keyakinan terhadap kondisi terdakwa hingga tidak bisa hadir ke persidangan," ujar Hakim John.

Pada persidangan itu kuasa hukum Bambang menghadirkan psikolog dan dokter. Menurut psikolog dan dokter itu, Bambang dinyatakan sakit dan jiwanya dalam kondisi tertekan sehingga tidak bisa dihadirkan dalam sidang.

Untuk itu, JPU KPK juga akan menghadirkan dua orang ahli untuk memeriksa kondisi kesehatan Bambang. Langkah KPK itu untuk pembanding hasil pemeriksaan dokter dan psikolog yang diajukan kubu Bambang.

"Pertama, dari tim medis KPK. Kedua, dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia, red). IDI pernah melakukan pemeriksaan kepada terdakwa, tapi dari berbagai macam tim. Maka kami butuh waktu untuk melakukan koordinasi lebih lanjut dengan tim-tim ini," kata JPU Ali Fikri.

Seperti diketahui, KPK menetapkan Bambang sebagai tersangka pada 12 September 2014. Dia diduga menyuap Kepala Kejaksaan Negeri Praya, Nusa Tenggara Barat, Subri terkait perkara dugaan pemalsuan dokumen lahan dengan terdakwa Sugiharto alias Along.

Saat itu, Bambang selaku direktur PT Pantai Aan melaporkan Along dengan tuduhan mencaplok lahan kawasan wisata miliknya di Selong Belanak, Praya Barat, Lombok Tengah. Agar JPU mengajukan tuntutan hukuman yang berat pada persidangan atas Along, Bambang bersama pengusaha bernama Lusita menyuap Subri sebesar Rp 213 juta.(put/JPG)‎

Sponsored Content

loading...
 TOP