Kamis, 21 Sep 2017
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Jangan Samakan 2008 dan Tahun 2015. Ini Alasannya

| editor : 

ilustrasi

ilustrasi (tini/manado postt/jawapos.com)

JawaPos.com – Krisis ekonomi global tahun 2008 dan 2009 tak  bisa disamakan dengan kompleksitas masalah ekonomi sekarang. Kata pengamat ekonomi  Direktur Eksekutif Mandiri Institute Destry Damayanti  krisis di 2008-2009 dipicu oleh memburuknya likuiditas kondisi ekonomi global disertai stimulus keuangan tidak ada. Sehingga, terjadilah penurunan suku bunga.
"Sekarang, kondisi keuangan memang ada masalah. Tapi masih ada stimulus," ucap Destry Damayanti dalam paparan Macroeconomic Outlook, di Plaza Mandiri, Senin, (21/9).

Krisis pada 2008, dikatakan Destry masih tergolong memberi implikasi ringan. Saat itu ekonomi domestik kuat, sehingga bisa bertahan pada 2009. Aliran dana yang masuk cukup kuat, pada akhirnya recoverynya cepat.

Selain itu, kata Destry saat ini penjualan komoditi turun. Geliat itu sudah terlihat sejak 2012. Pemerintah sejak saat itu bergerak,  tidak diam.  Mereka mengambil langkah normalisasi kebijakan ekonomi dengan paket kebijakannya.

"Biar bagaimana pun central bank itu ada di US, walaupun Jepang baik itu tidak akan berpengaruh," tandasnya.

Menurut Destry, bahwa sebenarnya kondisi perekonomian Tiongkok juga sedang menukik. Diperparah kondisi ekonomi yang stagnan membuat investasi turun hingga 3,6 persen. Ini kondisi yang tidak mudah. Destry menambahkan, strategi pemerintah harus didorong. Salah satu caranya yaitu re-industrialisasi.

"Konsumen nggak spending, nggak ada daya beli, PHK, turunnya produksi ini masalah. Lalu saving lebih dibanding spending. Ini butuh terobosan," ungkapnya.(tih/jpg)

Sponsored Content

loading...
 TOP