JawaPos Radar

Masjid Tertua di Pesisir Selatan, Sumbar

Tidak Hanya untuk Salat, Musyawarah pun di Masjid

01/07/2016, 01:47 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tidak Hanya untuk Salat, Musyawarah pun di Masjid
Perpustakaan Masjid Al Imam di Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). (yoni syafrizal/padang ekspres/JawaPos.com)
Share this

Di ranah Minang, Sumatera Barat umumnya pada dahulunya masjid tidak hanya sekadar berfungsi untuk tempat ibadah. Rumah Allah SWt memiliki beragam fungsi dan menjadi pusat peradaban masyarakat setempat. Di antaranya sebagai tempat musyawarah mufakat bagi kaum yang berada di kawasan itu.

Yoni Syafrizal- Pessel

Sebagaimana yang dilakoni masyarakat yang berada di sekitar Masjid Al Imam. Masjid yang berada di Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat (Sumbar) itu.

Masjid ini dibangun tahun 1926. Konon dirancang oleh insinyur dari Belanda dan Cina dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan Eropa.

Nilai historis salah satu masjid tertua di Kambang tersebut tetap terpelihara dengan baik. Alhasil, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), menjadikan masjid tersebut sebagai salah satu cagar budaya.

Ketua Masjid Al Imam Kotobaru, Masri mengatakan, masjid tersebut secara fisik memang berbeda dengan masjid lainnya di nagari itu. Masjid ini tetap dijaga keaslian bangunannya.

Saat ini masjid yang berdiri di jantung Nagari Kambang, tepatnya di Balaikamih Kampung Kotobaru, memiliki banyak kegiatan keagamaan.

Selama Ramadan, setelah shalat Tarawih, murid Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) melaksanakan kegiatan Tadarus hingga pukul 23.00 setiap malamnya.

Dijelaskan Masri, sejak berdiri tahun 1926, masjid itu telah memiliki sejumlah fasilitas utama. Di antaranya ruang shalat yang nyaman, perpustakaan, termasuk TPA/TPSA, tempat wudhu, parkir dan lainnya.

“Di Nagari Kambang, Masjid Al Imam memiliki peranan sangat strategis di masa lalu. Selain tempat ibadah dan syiar agama, juga dijadikan tempat  memecahkan berbagai persoalan ekonomi warga Kambang. Peranan yang strategis itu membuat masjid ini selalu ramai dikunjungi setiap hari,” jelasnya.

Ditambahkannya, kehadiran pustaka masjid memberi nilai tambah bagi warga dan masyarakat sekitar untuk datang membaca buku-buku yang bermutu dan berkualitas.

Lokasinya berada di samping kanan depan masjid, dan selalu buka selama Ramadhan pukul 08.00 hingga sore.

“Selama Ramadan, tidak sedikit warga yang datang untuk membaca buku-buku bermutu di pustaka masjid. Di sini, terdapat beberapa jenis buku mulai dari soal fiqih, tauhid dan lainnya,” ungkap Masri. 

Di masjid ini juga tersedia kitab-kitab kuning lama, kitab-kitab Al-Umm, Al Mujmu’syarah Muhazzab, Irsadus Sari Syarah Shahih Bukhari, Syara Ihya (Itihaf Sadatil Muttaqin), Tuhfutul Muhtaj, dan lainnya.

Beberapa kitab itu kata Masri, hanya dipesan atau dibaca peminat khusus seperti santri podok pesantren, dan para guru agama dan lainnya.

Pelaksana Tugas (Plt Wali) Nagari Kambang, Samin Bandaro Kampai menuturkan, Masjid Al Imam merupakan masjid tertua di Kecamatan Lengayang. Performa Masjid Al Imam akan membawa seseorang  ke masa lalu.

Kubahnya antik dan menarik berupa payung besar, memiliki arti tigo payuang sakaki.

Tigo payuang sakaki adalah struktur adat yang tidak lekang hingga kini. Kemudian reliefnya sangat menarik perhatian dan menggambarkan orang Kambang sangat menjaga seni dan keindahan.

“Selain masuk cagar budaya dengan sejumlah sarana yang dimiliki, berbagai kegiatan keagamaan tetap hidup dan menggema di masjid ini, apalagi selama Ramadhan. Saya berharap, ini bisa terus dipertahankan sampai kapan pun,” ujarnya. (padek/iil/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up