Kamis, 23 Nov 2017
radartulungagung
icon featured
Kolom
Refleksi Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Keroposnya Benteng Religi dan Serangan Budaya Global

Sabtu, 28 Oct 2017 21:12 | editor : Didin Cahya FS

Oleh : Didin Cahya FS

Oleh : Didin Cahya FS

    Setiap 28 Oktober selalu diperingati Hari Sumpah Pemuda. Tidak hanya dirayakan para pemuda untuk memeriahkan hari tersebut, tetapi para orangtua pun tetap memberikan waktu untuk mengenang momen perjuangan gerakan pada 89 tahun silam. 

 Dalam merayakan Hari Sumpah Pemuda, banyak cara yang dilakukan sekelompok pemuda untuk menunjukkan semangat dalam membangun negara ini, termasuk upacara bendera, seminar perihal kepemudaan, dan aksi di jalan. Tentu peringatan yang dirancang lebih matang, akan memiliki kesan dan bisa membangkitkan semangat nasionalisme.  

Segala bentuk pengekspresian bahasa tersebut seolah-seolah menegaskan sebuah kesadaran mengenai pentingnya peran pemuda. Penyadaran semacam itu menjadi penting bila dikaitkan dengan realitas bangsa yang sarat dengan konflik dan krisis moral. 

Tanpa disadari, tantangan pemuda sekarang tak lagi berupa penjajahan fisik, tetapi juga budaya. Nilai-nilai kehidupan bangsa yang identik dengan budaya ketimuran dan kental dengan norma agama (Islam), berangsur-angsur pudar. 

Batas pergaulan pemuda sekarang sudah tidak ada sekat. Kehadiran era industri 4.0 atau serba digital membuat dengan mudah menjalin komunikasi lewat media sosial (medsos). Imbasnya, pergaulan bebas tak bisa dihindari. 

Dulu yang dipandang perilaku tabu sudah tak lagi muncul dan terkesan permisif. Termasuk fenomena pasangan kekasih, sudah menjadi tindakan wajar dan identitas legal. Tanpa disadari perilaku tersebut merupakan penumpukan dosa dan rasa cemas, lantaran norma agama sudah ditinggal. 

Meski ada pemuda yang mampu menolak gejolak dunia dan tetap berpegang teguh pada budaya ketimuran yang menempatkan pergaulan dalam posisi terhormat, kudus, dan sakral, serta bermartabat, justru dicap sebagai pemuda tidak peka zaman. 

Tak dapat dimungkiri, sekulerisme dan kapitalisme kembali menjadi biang kerok dari kesalahan perilaku pemuda. Akibatnya, pemuda terjerumus pada perilaku “sampah” yang sia-sia. 

Bila dipetakan, setidaknya empat faktor yang menyebabkan munculnya perilaku sampah. Pertama, keroposnya benteng pertahanan religi pemuda sehingga tidak bisa menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka lawan dengan keras. Kedua, adanya perasaan loos of identity dalam diri pemuda sehingga mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapatkan identitas global. Ketiga, banyak pemuda yang hanya mengikuti tren sedang berkembang, agar tidak ketinggalan zaman. Keempat, adanya desakralisasi pergaulan yang kian tak terbendung. 

Lebih dari itu, apa yang menimpa pemuda saat ini merupakan dampak keruntuhan peradaban yang sejak lama berlangsung. Pemuda buta terhadap peradabannya sendiri, diakibatkan munculnya serangan budaya global barat. Keinginan pemuda untuk bertahan secara ideal, tapi kenyataannya rapuh sehingga terseret arus dunia yang permisif pergaulan bebas.  

Lumpuhnya pertahanan pemuda terhadap gencarnya serangan budaya barat yang terus menggelembung, menjadikan mereka harus takluk dan menjadi budak budaya bangsa lain di negeri sendiri.

*)Penulis adalah jurnalis anggota AJI Kediri dan sedang menulis biografi Ponpes Tarbiyyatul Quran Al Mannan.

            

(rt/did/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia