Senin, 11 Dec 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Dari Ajakan Teman, Pernah Pakai Kostum 20 Kg

Mengenal Wulansari, Model Karnaval Berbakat Asal Tulungagung

Senin, 09 Oct 2017 16:15 | editor : Didin Cahya FS

BERAT : Wulansari berpose ketika mengikuti karnaval di Singapura.

BERAT : Wulansari berpose ketika mengikuti karnaval di Singapura. (WULANSARI FOR RATU)

Banyak pengalaman yang diraih Wulansari saat memilih menjadi seorang model karnaval. Pasalnya, gadis asal Desa/Kecamatan Campurdarat ini merasa tertantang karena membawa kostum berat dan harus bisa menari, juga bisa meraih banyak prestasi. Dia bahkan pernah tampil pada karnaval di Singapura.  

SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH

Siang itu tepat pukul 13.00, saat menuju Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat, terik matahari masih menunjukkan sinarnya. Udara di sekitar yang kering menambah suasana menjadi lebih panas. Tak ayal, pada jam-jam tersebut, banyak yang memanfaatkan untuk kegiatan di dalam rumah dan beristirahat.

Kendati demikian, di dusun setempat ada seorang wanita sedang duduk santai di teras rumah. Dia adalah Maryestri. Tak lama, Jawa Pos Radar Tulungagung pun menghentikan kendaraan dan bermaksud menanyakan alamat Wulansari.

Maryestri pun lantas mempersilakan masuk ke dalam rumahnya. Dia memanggil Wulansari yang sedang beristirahat. Sambil menunggu, tak sengaja melihat foto-foto yang dipajang di dinding ruang tamu. Ada foto keluarga dan foto kelompok tari yang pernah diikuti Wulansari. “Sebentar ya, Wulansari masih di dalam,” ucap Maryestri sambil membawakan teh kepada Koran ini.

Beberapa menit kemudian, Wulansari pun datang. Dia duduk dan langsung menceritakan kegiatannya saat ini. Gadis berusia 22 tahun ini mengatakan, kesibukannya saat ini, yakni sedang nyicil beberapa bahan untuk membuat kostum desainnya sendiri, sambil menunggu wisuda pada November mendatang.

“Karena sebelumnya pernah diajarin buat kostum, nah, ini lagi iseng buat kostum desain sendiri. Lumayan bisa disewakan, sembari mengisi waktu luang,” katanya.

Wulansari mengaku bukan desainer kostum karnaval. Namun, dia hanya seorang model karnaval, yakni seorang peraga kostum dalam karnaval. Dia memilih menjadi seorang model karnaval karena seorang teman mengajaknya untuk menjadi bagian dalam tim karnaval di kampusnya, yaitu Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Kebetulan tim karnaval pada saat itu butuh seorang yang bisa menari. Kemudian, teman saya menawarkan. Merasa tertantang, saya terima,” katanya.

Putri dari pasangan Maryestri dan Hariyadi ini tak menepis bahwa menjadi seorang model karnaval tidaklah mudah. Apalagi rerata kostum yang dibuat dan didesain lebih lebar dan juga berat.

Sebenarnya, lanjut dia, pada sebuah perlombaan karnaval, seorang model karnaval tidak hanya sekadar memakai kostum yang telah didesain oleh timnya masing-masing, tetapi harus mampu menunjukkan gerakan tari yang seirama dengan lagu yang dibawa. “Kalau karnaval lomba, harus menari, Mbak. Itu pun harus kompak dengan satu tim,” jelas mahasiswi Pendidikan Teknik Elektronika itu.

Tak pelak, untuk melatih kekuatan tubuh dan kekompakan, para model akan dilatih hampir setiap hari dalam sebulan. Dia mencontohkan, pernah berlatih di lapangan dengan membawa kostumnya. Tujuannya, supaya terbiasa membawa beban berat yang diakibatkan tekanan angin, agar nantinya saat performa bisa menampilkannya secara maksimal.

“Kalau menari tidak ada masalah. Kebetulan, sejak duduk di bangku SD, saya sudah terjun di dunia tari. Banyak prestasi di bidang tari yang sudah saya dapat,” terangnya.

Dia bisa meraih banyak prestasi selama  menjadi model karnaval. Bahkan, timnya pernah terpilih oleh perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura untuk ikut serta dalam pertunjukan karnaval di Singapura pada 2016 lalu. Yang terbaru, timnya juga pernah menjadi juara I pada Jogja Fashion Week (JFW), Agustus lalu.

“Untuk kostum, macam-macam beratnya. Bahkan jalurnya bisa mencapai 1 kilometer sampai 5 kilometer. Tergantung desainnya. Bahkan, untuk kostum terberat yang pernah saya pakai sekitar 20 kg,” katanya.

Kendati akan lulus dari UNY, dia masih ingin terjun dalam dunia tersebut. Sebab, selain seru juga mengasyikkan. “Berencana membuat kostum sendiri. Dulu sering diajak merancang langsung. Biasanya, saya merancang bagian saya dan bagian kepala. Ilmu itu saya manfaatkan dan terapkan saat ada waktu luang seperti ini,” pungkasnya 

(rt/lai/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia