Senin, 11 Dec 2017
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Jumlah Penderita Kusta Meningkat

Minggu, 08 Oct 2017 16:23 | editor : Didin Cahya FS

GRAFIS HENDRA NOVIAS

GRAFIS HENDRA NOVIAS

TULUNGAGUNG – Penyakit kusta masih menghantui masyarakat Tulungagung. Buktinya, hingga awal Oktober, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung telah menemukan 20 orang penderita. Jumlah tersebut lebih besar dari penemuan tahun 2016 yang hanya menemukan sekitar 7 penderita.

Kepala Dinkes Tulungagung M. Mastur, melalui Kasi Pengendalian Penyakit Menular Didik Eka membenarkan, penemuan tahun 2017 ini lebih banyak atau meningkat daripada 2016 lalu. Sebab, masyarakat mulai sadar bahwa penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacerium leprae tersebut cukup berbahaya hingga bisa menyebabkan kecacatan.

“Kami tidak bisa menyebutnya penemuan ini tren peningkatan sebuah penyakit. Seperti halnya tuberkulosis, penyakit kusta ini masih diklaim penyakit orang miskin, turunan, dan lainnya. Faktor lainnya, yakni ketidaktahuan masyarakat yang menderita kusta untuk berobat ke layanan kesehatan sehingga baru banyak ditemukan tahun ini,” katanya

Dia menjelaskan, penyakit kusta tersebut disebabkan oleh bakteri Mycobacerium leprae yang bisa ditularkan melalui kontak langsung dan melalui udara dari penderita. Biasanya, gejala yang akan muncul akibat tertularnya bakteri tersebut meliputi munculnya bercak ditubuh mirip panu, hingga mati rasa. “Mereka terkadang menyepelekan. Namun, sebenarnya harus ditangani serius,” jelasnya.

Sebab, jika penderita kusta tidak segera ditangani dan sudah dalam tahap lanjut, akan mengalami madarosis, yakni alis mata dan bulu mata rontok, serta hidung membengkak seperti hidung pelana, hingga mengakibatkan kecacatan. “Yang jelas, satu-satunya jalan menjaga daya tahan tubuh dan lingkungan bersih bisa menekan penularan. Pada penderita yang positif kusta, jangan didiskriminasi, tapi harusnya segera diobati agar tidak menyebarkan bakteri kusta,” katanya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anna Saripah mengatakan, pengobatan pun harus diterapkan dengan disiplin. Misalnya, untuk para penderita kusta pause basiler (kering), dilakukan pengobatan selama enam bulan, sedangkan penderita kusta multy basiler (basah), dilakukan pengobatan selama 12 bulan. Jika tidak, maka bakteri tersebut akan tumbuh. “Untuk obat kusta, hanya tersedia di puskesmas dan tidak dijualbelikan di apotek. Sebenarnya, obat kusta satu kali minum bisa membunuh kuman sebanyak 90 persen,” terangnya. 

(rt/lai/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia