Minggu, 22 Oct 2017
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Prosesi Jamasan Kurang Maksimal

Minggu, 08 Oct 2017 16:19 | editor : Didin Cahya FS

TETAP  LESTARI : Tombak Kyai Upas  saat dibersihkan.

TETAP LESTARI : Tombak Kyai Upas saat dibersihkan. (CHOIRUR ROZAQ/RATU)

 TULUNGAGUNG - Prosesi jamasan pusaka tombak Kanjeng Kyai Upas, yang dilakukan kali pertama oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, setelah ahli waris pusaka itu menyerahkan pada 2016 lalu, dinilai Bupati Tulungagung Syahri Mulyo belum maksimal.

 “Ini kali pertama yang digelar pemkab. Masih banyak kekurangan. Tapi kegiatan selanjutnya akan lebih dimaksimalkan,” kata Bupati Tulungagung usai mengikuti acara itu di halaman Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan (Dipersip), di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, pada Jumat (6/10), kemarin.

Dia mengatakan, akan menyempurnakan acara rutin tersebut yang disertai berbagai atraksi wisata budaya lainnya. Misalnya, ada pameran pusaka, bursa pusaka, atau pun lainnya. Maka diharapkan, masyarakat sekitar mendapatkan dampak secara ekonomi.

“Saya yakin masih ada sebagian yang belum mengetahui prosesi ini. Maka dari itu, jika menambahkan serangkaian atraksi pastinya akan menarik pengunjung baik lokal maupun luar kota untuk berkunjung. Hasilnya akan dirasakan. Terutama pada pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar,” terangnya.

Dari pantaun Koran ini di lapangan, acara yang rutin dilaksanakan setiap wuku kedua bulan Sura, yang jatuh pada Jumat kliwon ini masih tetap menjalankan ritual pada umumnya. Sebelum acara jamasan atau siraman, para penari yang membawa sembilan air dari sembilan mata air berbeda masuk ke ruang penyimpanan di persip yang diiringi jaranan Reog Kendang. Mereka menyerahkan sembilan air itu kepada Bupati Tulungagung untuk selanjutnya digunakan sebagai air siraman tombak Kanjeng Kyai Upas.

Prosesi siraman pun dimulai. Beberapa sesepuh, ahli waris, dan juga Bupati Tulungagung Syahri Mulyo terlihat membawa tombak Kanjeng Kyai Upas dengan cara diangkat tinggi di atas kepala mengunakan dua tangan. Tombak lantas ditempatkan di atas panggung lokasi siraman. Bagian ujung tombak menghadap ke timur. Tepat di bawahnya, ada dua ember air yang terbuat dari tanah liat. Beberapa sesaji juga ada di sekitar tempat jamasan tombak.

Salah seorang sesepuh terlihat membuka sarung pembungkus tombak dan mulai melakukan siraman. Berbagai ramuan (warangan) digunakan dalam siraman tersebut agar kotoran yang menempel pada tombak bisa bersih.

Sementara itu, Sunarto, salah satu ahli waris pusaka tombak Kanjeng Kyai Upas mengatakan, dalam prosesi ini masih menggandeng para ahli waris yang sebelumnya telah melakukan kegiatan tersebut bertahun-tahun karena prosesi ini cukup sakral.

Kendati demikian, jamasan sebenarnya dilakukan untuk menghormati dan melestarikan budaya jamasan tombak Kyai Upas.

Selain itu, juga sebagai nasehat bagi masyarakat Tulungagung untuk tidak mengultuskan tombak tersebut. “Kegiatan ini merupakan bagian nguri-nguri budaya. Diharapkan dengan adanya upacara ini, kedepannya Tulungagung mendapatkan keselamatan,” terangnya .

(rt/lai/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia