Senin, 11 Dec 2017
radartulungagung
icon featured
Features
SMAN 1 Durenan Mendidik Siswanya Meraih

Wadahi Ekskul, Kerajinan Turonggo Yakso Sabet Juara Satu FLS2N

Sabtu, 07 Oct 2017 07:15 | editor : Andrian Sunaryo

BISA BERSAING : Alde (pegang medali), Kasi PMA, PMK, dan PKPLB Cabdispendik Provinsi Jatim wilayah Trenggalek Riris (hijab merah), dan Kepala SMAN 1 Durenan (peci hitam) setelah pemberian penghargaan bagi siswa berprestasi

BISA BERSAING : Alde (pegang medali), Kasi PMA, PMK, dan PKPLB Cabdispendik Provinsi Jatim wilayah Trenggalek Riris (hijab merah), dan Kepala SMAN 1 Durenan (peci hitam) setelah pemberian penghargaan bagi siswa berprestasi (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Keinginan SMAN 1 Durenan dalam meningkatkan prestasi anak didiknya di bidang akademik maupun nonakademik tidak main-main. Yang terbaru, Alde Hera Klinsando, seorang siswa yang tinggal di Jalan Raya Durenan, Desa Kendalrejo tersebut meraih juara satu Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) kategori seni kriya, yang diselenggarakan Minggu (24/9) hingga Jumat (29/9) lalu, di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan prestasi tersebut, membuat sekolah lebih memacu siswa lainnya untuk meraih prestasi di bidang lain.

ZAKI JAZAI

Aktivitas berbeda terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini mengunjungi SMAN 1 Durenan, kemarin (3/10). Sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM), seluruh warga sekolah berkumpul di halaman seperti akan melaksanakan upacara bendera hari Senin atau pada hari-hari besar lainnya. Ya, hal tersebut rupanya persiapan apel pagi yang sengaja dilaksanakan untuk memberi penghargaan kepada siswa berprestasi. Pemberian hadiah dilakukan oleh Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) Provinsi Jawa Timur (Jatim) wilayah Trenggalek.

Tak ayal, suara tepuk tangan dari para siswa, guru, serta warga sekolah lainnya mengiringi pemberian hadiah tersebut. “Semoga saja acara apel ini bisa menumbuhkan semangat siswa lainnya untuk menorehkan prestasi, baik akademik maupun nonakademik. Sebab, sekolah akan terus mendukung,” ungkap Kepala SMAN 1 Durenan Drs. Budiyanto, M.Pd.

Dukungan sekolah bagi siswa yang ingin menorehkan prestasi tidaklah main-main. Sekolah akan selalu mendengarkan aspirasi para anak didiknya untuk membentuk ekstrakurikuler, sebagai wadah untuk mengasah keterampilan siswa pada berbagai bidang di luar jam sekolah. Bahkan, ketika pembentukan tersebut, sekolah langsung mencarikan pembimbing yang berpengalaman untuk mengajarkan keterampilan tersebut. “Selain dari guru-guru di sini, setiap ekstrakurikuler dicarikan pembimbing khusus sehingga siswa bisa lebih mudah menyerap ilmu darinya,” ujarmya.

Tak ayal, hal tersebut terbukti. Berkali-kali siswa yang mengikuti ekstrakurikuler di sekolah berhasil menyabet juara di tingkat nasional. Dengan pencapaian tersebut, sekolah bertekad akan mendidik siswa lainnya agar terus berprestasi di bidang lainnya. “Untuk juara satu FLS2N ini, rencananya akan mewakili Indonesia di tingkat Internasional, makanya kami akan sekuat mungkin melakukan bimbingan agar bisa membawa harum nama bangsa,” tuturnya.

Bersamaan itu, Alde Hera Klinsando melanjutkan cerita dari kepala sekolah. Menurut dia, tanpa dukungan dari pihak sekolah, dirinya tidak bisa meraih prestasi semacam itu. Terbukti mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional, sekolah terus memberi dukungan dan bimbingan agar dirinya tetap focus, untuk meminimalisasi kesalahan sekecil mungkin ketika lomba. “Ketika berada di Kupang, sekolah juga terus mendukung kendati hanya melalui telepon, terkait mengingatkan jadwal lomba hingga memperbaiki presentasi yang nantinya disampaikan,” katanya.

Seni kriya yang ditampilkan pada FLS2N hingga berhasil mendapatkan juara satu itu merupakan miniatur Turonggo Yakso. Miniatur itu dipilih, tak lain karena dirinya ingin memperkenalkan Trenggalek lewat hasil karyanya, mengingat Turonggo Yakso merupakan kesenian khas Trenggalek.

Selain itu, seluruh bahan yang digunakan untuk membuat kesenian tersebut merupakan limbah, seperti batang bambu bekas perajin besek (wadah nasi dari bambu); ranting pohon; ijuk sisa perajin sapu; dan manon, yang merupakan ilalang yang didapat dari hutan di kawasan Kecamatan Watulimo. Jadi, dirinya tidak perlu membeli seluruh bahan baku yang digunakan tersebut, sebab biasanya semua barang tersebut digunakan sebagai bahan bakar atau langsung dibuang. “Hanya lem dan semir sepatu untuk finishing yang saya beli,” imbuh siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Durenan tersebut.

Selama hampir dua minggu persiapan yang dilakukan, hanya untuk mengumpulkan bahan baku tersebut. Sebab, tidak sembarangan bahan baku didapat begitu saja, seperti ranting pohon yang harus memiliki bentuk menyerupai karya seni yang dibuat. Bukan hanya itu, setiap bahan baku yang digunakan harus memiliki cadangan untuk mengantisipasi jika ada yang rusak. Tak ayal, dengan uniknya karya seni tersebut, membuat para juri tidak ragu untuk memberikan nilai yang tinggi hingga mampu meraih juara. “Semoga saja dengan meraih juara, hasil karya yang saat ini disimpan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bisa membuat miniatur buatan saya itu menjadi suvenir khas Trenggalek, khususnya untuk diberikan kepada tamu-tamu penting,” harap kedua dari pasangan Siswondo dan Sukati tersebut.

Ditempat yang sama, Kasi PMA, PMK, dan PKPLB Cabang Dispendik Provinsi Jatim Wilayah Trenggalek Riris Etikasari, menyambut baik prestasi tersebut. Sebab, dengan raihan tersebut, SMAN 1 Durenan bisa menunjukkan bahwa Trenggalek tidak ketinggalan dari daerah lain dalam berprestasi. Untuk itu, diharapkan para guru bisa menggali potensi yang ada pada muridnya agar bisa meraih banyak juara lagi. “Semoga saja hal ini bisa ditiru siswa lainnya yang merupakan generasi penerus bangsa, mengingat tantangan di masa depan semakin berat, dan hebat,” jelasnya. (ed/tri)

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia