Selasa, 17 Oct 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Sigit Wicaksono, Petani Hidroponik

Tidak Tergantung Musim, Tidak Pakai Pestisida Kimia

Selasa, 26 Sep 2017 13:00 | editor : Andrian Sunaryo

SUBUR: Sigit Wicaksono, saat merawat sayuran miliknya yang menggunakan sistem hidroponik.

SUBUR: Sigit Wicaksono, saat merawat sayuran miliknya yang menggunakan sistem hidroponik. (Sigit for RATU)

Perkembangan teknologi tidak hanya terjadi dalam bidang otomotif. Pertanian juga mengalami perkembangan pesat. Contohnya, sistem tanam hidroponik, yang mulai dipakai petani di Kota Marmer, salah satunya Sigit Wicaksono. Dia terus menggunakan cara itu dan hasil panen memuaskan.

WHENDY GIGIH PERKASA

Menanam dengan cara hidroponik ternyata lebih menguntungkan dibanding cara tanam biasa. Sebab, dengan hidroponik, tidak perlu menggunakan sistem musim. Kemarau ataupun hujan, petani yang mengaplikasikan sistem hidroponik tetap bisa menanam dan hasilnya bagus. Hal itulah yang sudah dibuktikan Sigit Wicaksono.

Saat wawancara, warga Desa Beji, Kecamatan Boyolangu itu sudah mulai menganut sistem tanam hidroponik sejak dua tahun terakhir. Hal itu bermula saat dirinya mencari solusi tentang bagaimana menanam tanaman tanpa mengenal musim. Sebab, tidak sedikit petani yang mengeluh hasil panen tidak maksimal karena pengaruh musim. Salah satu yang menjadi perhatian, yakni jenis sayuran yang hasil panennya selalu buruk saat musim hujan.

Akhirnya, Sigit menggunakan sistem hidroponik. Itu diawali dengan mempersiapkan segala kebutuhan untuk tanam tersebut, yakni gully atau instalasi hidroponik. Instalasi ini terbuat dari pipa paralon. Pipa dipakai untuk mengalirkan air. Dari tandon masuk ke pipa dan kembali lagi ke tandon air. “Hidroponik ditanam di air dengan sistem NFT. Jadi, tanaman tidak perlu disiram lagi. Air di dalam tandon sudah diberi nutrisi khusus hidroponik,” ungkap Sigit.

Pria berusia 43 tahun itu mengatakan, dengan sistem hidroponik, cuaca apapun tidak membuat tanaman akan jelek. Sebab, makanan untuk tanaman dapat diatur secara optimal. Menanam secara hidroponik membuat semua nutrisi bisa dikondisikan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hidroponik sendiri bisa untuk skala hobi ataupun memenuhi kebutuhan sayuran dapur sendiri.

Saat ini, tanaman yang menganut hidroponik masih sayuran daun. Namun, untuk jenisnya sudah beragam antara lain, sawi samhong, packcoy, dakota, sawi pagoda, sawi ceisim, selada hijau, selada merah, bayam hijau, bayam merah, dan lain sebagainya. Yang paling diminati yakni sayuran sawi. “Untuk sayuran, waktu panen antara 35-40 hari,” ungkap Sigit, yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.   

Menurut Sigit, yang paling sulit dari hidroponik yakni permasalahan hama. Sebab, tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Karena itulah, tanaman hidroponik juga disebut tanaman sayur sehat bebas pestisida. Untuk pengendalian hama, diberi insect net yakni semacam selambu. Tujuannya, agar serangga tidak bisa masuk. Langkah lain, dengan mengambangkan predator atau musuh alami. Asal serangga tidak bisa masuk, berarti tidak ada ulat. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Dalam hidroponik, menganut sistem continue alias berkelanjutan. Artinya, sebelum panen harus sudah menyemai lagi agar tidak terjadi jeda.

Hasil produksi hidroponik saat ini sudah masuk di swalayan di Tulungagung dan Kediri. Pedagang sayur tradisional atau biasa disebut bakul ethek, juga cukup banyak yang memasarkan sayuran hidroponik itu. Harganya sendiri jelas lebih mahal dibanding sayuran biasa. Misalnya, sayuran biasa rata-rata Rp 3 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram, untuk hidroponik bisa Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram. “Dan anehnya dijual di bakul ethek juga laris dengan harga segitu,” ujar Sigit.  

Dia menambahkan, saat ini di Tulungagung sudah ada Kelompok Tani Hidroponik Tulungagung. Dengan adanya kelompok tersebut, antar anggota biasanya sharing ilmu, bahkan terkait produksi. “Harapannya, banyak pemuda menyadari bahwa bertani merupakan pekerjaan yang keren,” jelasnya. (*/ed/din)

(rt/whe/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia