Rabu, 13 Dec 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Lamuni, Perajin Wayang Kulit

Mulai Ditinggal karena Rumit dan Bahan Baku Langka

Minggu, 24 Sep 2017 12:05 | editor : Andrian Sunaryo

TETAP BERTAHAN : Lamuni menunjukkan karyanya berupa wayang kulit.

TETAP BERTAHAN : Lamuni menunjukkan karyanya berupa wayang kulit. (MEIDIAN DONA DONI/RADAR TULUNGAGUNG)

Wayang, meski terlihat sederhana bentuknya, yakni gepeng dan tipis, untuk membuatnya bukan perkara mudah. Cukup rumit, serta bahan bakunya juga sulit dicari. Hal ini membuat kerajinan membuat wayang ini mulai ditinggal. Kini, hanya segelintir orang yang menekuni, salah satunya Lamuni. Dia bisa dibilang satu-satunya perajin wayang yang bertahan di Kecamatan Kauman.

MEIDIAN DONA DONI

Cuaca siang itu sangat cerah walaupun sinar matahari terik. Angin berhembus cukup kencang, menghilangkan gerah selama perjalanan melewati hamparan persawahan yang luas dan memasuki jalan desa yang bagian sisinya mengalir sungai cukup jernih.

Memasuki ke sebuah pedesaan yang terlihat asri dengan jalan berpaving dan deretan rumah warga tertata rapi.  Pagar-pagar dan gapura-gapura bambu yang menyekat tiap wilayah RT atau RW tampak menghiasi lingkungan tersebut.

Setelah bertanya-tanya ke warga, tibalah di  rumah kecil dengan teras depan rumah terdapat sebuah bangku dan tempat duduk, serta sebuah speaker berirama musik dangdut. Di situ seorang pria paro baya sedang asyik mewarnai sesuatu dengan kuas. Ternyata, dia adalah Lamuni, si pemilik rumah yang memang sedang bekerja. “Ini, Mas, lagi kerja. Kebetulan dapat pesanan membuat wayang kulit. Ini sedang proses mewarnai wayang,” ungkap pria 56 tahun ini.

Dia mengatakan, sejak bujang memang suka dengan seni rupa, salah satunya membuat wayang. Sebab,  seni wayang mempunyai nilai seni tinggi karena kerumitannya. Seperti bentuk wayang yang berulir-ulir dan warna yang menarik.

Saat ini, jarang yang menekuni membuat wayang kulit. Sebab, membuat wayang kulit itu rumit dan makan waktu lama. Banyak orang yang tidak telaten, dan meninggalkan kerajinan ini. “Buatnya rumit mas, terutama pada saat natah (proses mengukir). Kalau salah dikit hasilnya jelek. Satu wayang saja paling cepat selesai satu minggu. Itu sebabnya, banyak perajin alih profesi jadi tukang bangunan dan tukang kayu,” jelas bapak dua anak ini.

Masih menurut Lamuni, waktu selesai satu minggu tersebut hanya untuk wayang ukuran standar. Kalau wayang ukuran besar seperti wayang Werkudoro atau Gunungan, butuh waktu lebih dari seminggu.

Sebab, membuat wayang membutuhkan beberapa langkah. Rangkaian prosesnya, mulai dari pembuatan, mengukir pola, pewarnaan, dan pemasangan gapit pegangan wayang. Setelah selesai menggambar pola, dilanjutkan membentuk tubuh karakter wayang dengan mengukir memakai palu dan besi yang ujungnya lancip. Setelah terbentuk tubuh karakter wayang,  dilakukan proses pewarnaan dengan cara mengecat menggunakan kuas. Yang terakhir adalah pemasangan pegangan wayang. “Proses paling lama dan sulit itu penatahan (mengukir pola). Makanya, jarang orang yang membuat. Kelihatannya di Desa Jatimulyo ini hanya saya saja perajinnya,” tuturnya.

Dilihat dari proses pembuatan, tak heran membuat harga wayang pun menjadi mahal. Untuk wayang ukuran kecil dibandrol sekitar Rp 500 ribu dan ukuran besar bisa mencapai Rp 1,25 juta. “Bahan bakunya juga langka, kulitnya saja harus kulit kerbau. Kalau pemesan ingin pegangan gapitnya pakai tanduk kerbau, harganya bisa lebih mahal. Pegangan dari tanduk kerbau ini lebih kuat daripada kayu, lebih elastis, dan tahan lama. Sayangnya, jarang yang pelihara kerbau saat ini sehingga harganya mahal,” imbuhnya.

Kalau para dalang memang menjadi pelanggan setianya karena wayang dibuat untuk pagelaran. Ada juga dari masyarakat biasa yang memesan wayang sebagai hiasan rumah. Wayang biasa ditempelkan ke dinding sebagai pengganti lukisan. “Kalau ditempel di dinding, bisa mempercantik rumah. Bisa memberikan nilai etnik. Hal ini bisa ditemui di rumah-rumah bertema entik daerah,” katanya. (*) 

(rt/ona/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia