Jumat, 24 Nov 2017
radartulungagung
icon featured
Trenggalek
PENDIDIKAN

Lima Hari Sekolah Tak Cocok Bagi SLB

Minggu, 24 Sep 2017 12:00 | editor : Andrian Sunaryo

PERLU PENDAMPINGAN : Aktivitas pembelajaran di SMALB Kemala Bhayangkari yang mengutamakan keterampilan seperti bermain gamelan pada untuk siswa tuna netra.

PERLU PENDAMPINGAN : Aktivitas pembelajaran di SMALB Kemala Bhayangkari yang mengutamakan keterampilan seperti bermain gamelan pada untuk siswa tuna netra. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Sistem pembelajaran lima hari sekolah tampaknya kurang cocok diterapkan di Sekolah Luar Biasa (SLB), khususnya di Kota Keripik Tempe. Pasalnya, dimungkinkan dengan seharian di sekolah akan berdampak pada kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak efektif.

Kepala SMALB Kemala Bhayangkari Pardiono mengatakan, jika disuruh memilih pastinya sekolah memilih enam hari sekolah. Sebab, berbeda dengan anak didik pada umumnya, anak didik di sekolahnya perlu perlakuan khusus sehingga tidak efektif jika terus-terusan di sekolah. "Anak didik kami perlu perhatian khusus, apalagi dari orangtuanya sehingga lebih baik tidak seharian di sekolah," ungkapnya.

Dia melanjutkan, apalagi itu ditunjukkan pada anak berkebutuhan khusus (ABK) tuna grahita. Sebab, dari tingkatannya, mulai dari ringan, sedang, dan berat, perlu perhatian sendiri yang membuat jadwal pulang mereka tidak sama karena disesuaikan dengan tingkatannya. Jadi, di hari-hari biasa, tingkatan berat sudah dipulangkan maksimal pukul 11.00 dan sebagainya. "Pastinya jika tidak segera dipulangkan, mereka akan bikin gaduh di sekolah dengan berbicara, berjalan sesuai keinginannya, dan bisa mengganggu jam pelajaran anak didik lainnya," tuturnya.

Selain itu, proses pembelajaran siswa ABK sendiri selalu mengedepankan keterampilan. Itu dilakukan agar seluruh siswa bisa mandiri setelah lulus nanti sehingga tidak merepotkan keluarganya. Untuk itu, jadwal keterampilan tersebut disesuaikan dengan keadaan dan tidak bisa diatur waktu pulangnya. Mengenai keterampilan yang diajarkan, disesuaikan dengan kemampuan. Contohnya, tuna rungu diajarkan keterampilan kerajinan tangan, tuna netra diajarkan kesenian musik gamelan, dan sebagainya. "Untuk tuna wicara disesuaikan dengan tingkat kemampuannya, makanya perhatian yang diberikan harus lebih dari ABK lainnya," jelas Pardiono.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) Provinsi Jawa Timur, wilayah Trenggalek Supriyadi. Dia menambahkan, berdasarkan peraturan presiden (Perpres), pemilihan sistem pembelajaran baik lima hari atau enam hari sekolah disesuaikan dengan keadaan sekolah. Jadi, tidak masalah sekolah memilih pembelajaran yang mana, asalkan terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan komite sekolah seperti di SLB. "Untuk tahun ajaran ini, baik SMA/SMK juga SLB masih menggunakan sistem enam hari sekolah. Hal itu berdasarkan surat edaran gubenur. Sedangkan, untuk tahun depan kami mmpersilakan sekolah untuk menyepakatinya," tuturnya. (*)  

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia