Rabu, 18 Oct 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Subakat, Pelaku Seni Jaranan Pegon

Ingin Lestarikan Budaya, Rutin Tampil Setiap Bulan Suro

Kamis, 21 Sep 2017 15:52 | editor : Didin Cahya FS

SERIUS : Subakat mewarnai jaranan jenis Buto atau raksasa

SERIUS : Subakat mewarnai jaranan jenis Buto atau raksasa (MEIDIAN DONA DONI / RATU)

 Meski sudah tidak muda lagi, Subakat, warga Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, tetap semangat dalam melestarikan kesenian jaranan pegon. Dia, selain membuat peralatan seni tersebut, juga ikut bermain.     

MEIDIAN DONA DONI

Warga asli Kota Marmer, tentu sudah mengenal  kesenian jaranan. Lantaran kesenian ini kerap diadakan sebagai hiburan di acara sunatan, nikahan, atau hari-hari besar tertentu.

Pecut yang dipukul-pukul hingga berbunyi keras, dan aksi kebal terhadap tusukan senjata tajam hingga memakan kaca. Apalagi tak jarang ada peserta yang kerasukan ruh halus. Itulah sebagian atraksi yang membuat menarik seni jaranan ini. Wajar jika setiap kelompok jaranan tampil, warga antusias untuk melihat.       

Di dunia kesenian jaranan terdapat dua aliran. Di mana jaranan pada umumnya mengutamakan atraksi. Dan ada satu lagi jenis jaranan yang mengutamakan seni atau yang disebut jaranan pegon. Jaranan pegon ini mulai ditinggalkan oleh seniman.

Beda dengan Subakat yang setia melestarikan kesenian itu. Meski umur tak muda lagi, dia tetap semangat melestarikan budaya.

Dia memproduksi peralatan jaranan dan juga yang menjadi penari di acara jaranan pegon.“ Perlengkapan jaranan pegon bahan yang digunakan berbeda yaitu menggunakan kulit tak seperti jaranan pada umumnya menggunakan gedek (anyaman bambu),” ungkap pria 62 tahun ini.

Menurut dia, jaranan pegon lebih mengutamakan seni, didominasi tari-tarian, bermain-peran, dan memamerkan seni ukir dan seni rupa. “ Daya tariknya adalah keindahan seninya. Di sini ada juga seperti ketoprak yang ada banyolannya,” ujar pria yang sebelumnya bekerja sebagai pengukir batu ini.

Dia menjelaskan, kalau jaranan pegon adalah satu-satunya jaranan yang mempunyaitema. Yang mana jaranan pegon inipunya cerita dari zaman kerajaan Majapahit, seperti Ande-ande Lumut dan Timun Emas.

“ Seperti nanti bulan Suro sekitar 15 Oktober nanti, kami menggelar jaranan pegon di kabupaten. Kami lakukan rutin setiap bulan Suro untuk mengenalkan kepada masyarakat,” papar bapak dua anak ini.

Sampai saat ini, dia tetap melestarikan jenis kesenian ini. Sebab jaranan tertua yang ada di tanah Jawa. Diperkirakan muncul sejak zaman kerajaan dulu. Di mana kini jaranan banyak yang dikreasikan dengan mengikuti perkembangan zaman.

“ Kamimenjaga jaranan pegon tetapseperti aslinya. Denganpergelaran dilakukan di atas tanah dan juga alat musiknyahanya gong, kenong dan sompret seperti aslinya yang kini biasa dikreasikan ditambah drum dan seruling. Saat ini banyak yang mengadakan lomba kreasi jaranan tapi kami tak pernah mengikutinya. Kalau ada perlombaan yang original saya akan sangat menyukainya,” katanya.

(rt/ona/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia