Sabtu, 21 Oct 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Ali Sodiqin, Pesilat yang Jadi Perajin Panah

Terinspirasi Film Mahabharata, Merangkap Pelatih Panahan

Senin, 18 Sep 2017 15:50 | editor : Didin Cahya FS

JARANG DITEMUI: Ali Sodiqin menunjukkan busur dan anak panah hasil kreasinya kemarin.

JARANG DITEMUI: Ali Sodiqin menunjukkan busur dan anak panah hasil kreasinya kemarin. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Hidup di zaman serba sulit, menuntut seseorang untuk kreatif dan tanggap menangkap peluang. Seperti yang dilakukan Ali Sodiqin, warga Desa Tiudan, Kecamatan Gondang ini. Dia membuat busur panah tradisional yang jarang ditemukan di banyak tempat.

DHARAKA R. PERDANA

Suasana khas sentra pembuatan bata masih kental terasa di Desa Tiudan, Kecamatan Gondang. Apalagi di banyak tempat, banyak bangunan mirip bangsal yang digunakan warga setempat untuk membakar benda yang terbuat dari tanah ini. Tak mustahil, ada kalanya mudah dilihat asap yang mengepul ke atas.

Setelah melaju pelan dengan mengambil jalan memutar, pada akhirnya sampai di rumah yang dituju. Rumah yang bertetangga dengan musala ini sederhana dan tak ada perabot mewah di dalamnya. Di situlah, Ali Sodiqin tinggal bersama anggota keluarganya.

Begitu mengetahui maksud kedatangan Koran ini, dia beringsut menuju ruang belakang. Tidak berselang lama, dia menenteng sebuah benda panjang berikut tongkat yang berdiameter lebih kecil. Benda tersebut tidak lain busur beserta anak panahnya. Setelah itu, dia mengajak untuk mencoba bermain panahan di depan rumah yang ada target bidikan yang terbuat dari kertas bergambar lingkaran. “Mungkin jarak tembaknya bisa mencapai 15 meter,” katanya memulai obrolan kemarin.

Setelah mencoba beberapa tembakan, dia menceritakan awal mula pembuatan alat olahraga ini. Ternyata itu disukainya sejak kecil yang dipicu kesukaannya menonton film Mahabharata yang memang ada adegan memanah antar tokoh utama. Sejak saat itu, di benaknya dipenuhi keinginan untuk bermain panahan. Dan dia pun membuatnya dari bambu.

Kesukaan Diqin-sapaan akrabnya pun sempat hilang hingga beberapa tahun. Baru sekitar setahun lalu, keinginannya muncul lagi setelah melihat ada orang bermain panahan di Karangan, Trenggalek. Dia pun memberanikan diri untuk bereksperimen membuat busur panah yang bentuknya tidak jauh berbeda yang dimilikinya saat ini. “Awalnya tetap gagal karena tidak bisa lentur. Hingga akhirnya setelah lima kali eksperimen jadilah,” ungkapnya sambil tertawa.

Proses pembuatan sendiri memang membutuhkan ketelatenan. Mengingat untuk pegangan menggunakan mahoni yang terkenal keras dan diampelas. Sedangkan untuk busur atau istilah Jawanya gendewa menggunakan pipa PVC yang harus dilapis agar bisa menahan bentangan tali busur. Sedangkan untuk anak panahnya menggunakan bambu yang diberi bulu kalkun atau ayam mutiara. “Pelapisan PVC harus hati-hati agar didapat hasil seperti yang diharapkan. Namun untuk penyetabil anak panah agar tak goyah membelah udara hanya menggunakan bulu kalkun,” tuturnya.

Meskipun baru sekitar setahun membuat, hasil karya pria berkulit sawo matang ini mulai dilirik konsumen. Beberapa kali dia mengerjakan pesanan dari kenalannya. Bahkan sebuah sekolah di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru sampai memintanya untuk merangkap menjadi pelatih panahan. Padahal sebelumnya dia hanya dimintai melatih silat. “Mau bagaimana lagi, ya diterima saja. Mungkin ini bisa jadi jalan rezeki yang saya terima,” ujarnya.

Untuk rencana ke depan, pria berusia 36 ini ingin membuat busur model baru. Yakni terbuat dari pelat besi yang diberi roda. Ini lebih memudahkan mereka yang baru memegang karena tidak begitu berat saat ditarik. “Ini masih terkendala modal. Makanya saya membuat jika hanya ada pesanan. Mengingat semua peralatannya hasil rakitan sendiri,” tandasnya.

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia