Kamis, 23 Nov 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Padukan Tata Boga dengan Fashion

Wahyu Agung Adi Setiawan, Perancang Gaun dari Cokelat

Kamis, 14 Sep 2017 09:53 | editor : Anggi Septian Andika Putra

ARTISTIK : Agung (kiri) bersama model yang menggunakan gaun kreatifitas

ARTISTIK : Agung (kiri) bersama model yang menggunakan gaun kreatifitas (DOC Pribadi Agung for Radar Trenggalek)

KREATIVITAS pemuda Kota Keripik Tempe, tampaknya teruji di beberapa daerah. Seperti dibuktikan oleh Wahyu Agung Adi Setiawan, pemuda asal Desa Gondang, Kecamatan Tugu. Dia menggunakan cokelat untuk mempercantik busana wanita. Tak ayal gaun bermotif batik dari cokelat mendapat apresiasi berbagai pihak ketika ditampilkan dalam Jogja Fashion Week (JFW) 2017 akhir bulan lalu.

COKELAT bukan hanya bisa dimakan, maupun digunakan untuk mempercantik makanan. Sebab, jika dikreasikan dan dipa dukan dengan benda lainnya bisa meng hasilkan karya yang indah, dan menarik perhatian. Inilah dilakukan Wahyu Agung Adi Setiawan, yang mengkreasikan makanan dengan perpaduan rasa pahit dan manis tersebut menjadi bahan membatik sebuah gaun yang indah. Ternyata, ide untuk mengkreasikan dua bahan yang berbeda kegunaanya tersebut tidak timbul dengan sendirinya.

Sebab, beberapa kali Agung (sapaan akrab Wahyu Agung Adi Setiawan) berkonsultasi akan penampilan tata boga apa yang bisa ditam pilkan dalam sebuah acara fashion yang diikuti. “Setelah beberapa kali berkonsultasi, akhirnya saya memiliki ide, untuk memadukan antara tata boga den dengan fashion,” kata Agung. Bahan makanan untuk mem batik berupa cokelat, dipilih dari Jogjakarta terutama Gunung Kidul karena salah satu penghasil Kakao. Dengan demikian diyakini bahan baku ter sebut sangat mudah dida pat.

Namun permasalahan lain timbul, yaitu bagaimana cara agar cokelat itu sempurna menem pel pada kain gaun, ke tika dilukis batik. “Makanya kala itu saya mencari refrensi dan ide bagaimana agar cokelat menempel dengan sempurna pada kain organdi pembuat baju dari banyak media,” ungkapnya. 

Tak ayal hal tersebut membuat dirinya harus beberapa kali laku kan percobaan setelah memahami cara-cara membatik cokelat pada gaun, pada setiap referensi yang didapat. Dari situlah kendati kerap menemui kegagalan ketika men coba karena cokelat tidak sempur na menempel pada kain, Agung terus berusaha.

Setelah beberapa kali menconba, akhir nya berhasil membuat gaun bermotif batik yang terbuat dari cokelat. Mengenai cara pembuatan gaun bermotif cokelat sendiri tidak terlalu sulit.

Awalnya cokelat dilelehkan sampai berbentuk cair, kemudian lelehan cokelat dimasukkan ke dalam piping bag untuk membentuk pola kain. Sedangkan, sebelum menggambar pola pada gaun dibuat dasaran dulu dengan cara melumuri lokasi gaun yang akan dibatik dengan cokelat tipis-tipis.

“Setelah pemberian dasaran selesai, barulah saya bentuk pola batik dengan cokelat yang telah dimasukkan dalam piping bag,” ungkap pemuda 19 tahun ini. Bukan hanya itu, setelah proses pembentukan pola selesai agar rekatan sempurna, maka gaun yang diberi motif bati dari cokelat tersebut ke freezer. Barulah, beberapa jam sebelum ditam pilkan, gaun tersebut dikeluarkan dari lokasi penyimpanannya.

Sedangkan untuk motif batik sendiri, diambil adalah motif batik ukel. Motif tersebut dipilih karena terinspirasi dari pohon jarak berbenalu yang berbentuk ikal dan bergelombang.

Sedangkan untuk motif batik ukel sendiri, diutamakan pada rok gaun tersebut. Bukan hanya itu, untuk menambahkan keindahan gaun sendiri ditambah aksesoris kalung dan kepala, bahan dasarnya terbuat dari spons hati.

Tak ketinggalan, dalam aksesoris tersebut motifnya juga diberi cokelat cair. Dengan hasil karyanya tersebut, dirinya berharap bisa lebih memper kenalkan hasil alam Indonesia ke dunia. “Gaun dari cokelat ini merupakan hasil percobaan saya yang pertama, dan syukurlah ber hasil,” jelas putra pasangan Moradi dan Mamik Triwinarsih ini.(and)

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia