Selasa, 12 Dec 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Camalia Penulis Buku Hijaber Lost in Thailand

Ceritakan Pengalaman, Sempat Kekurangan Bahan

Rabu, 30 Aug 2017 16:56 | editor : Whendy Gigih Perkasa

MEMBANGGAKAN: Mella menunjukkan buku Hijaber Lost in Thailand karyanya.

MEMBANGGAKAN: Mella menunjukkan buku Hijaber Lost in Thailand karyanya. (whendy giigh perkasa/ RATU)

Semuanya dirangkum dalam buku yang ditulisnya sendiri. Bukan sekadar bercerita traveling, tapi juga dinamika kehidupan warga muslim di negara yang terkenal dengan sebutan Gajah Putih itu.

WHENDY GIGIH PERKASA

Mengikuti Student Exchange di Chulalongkorn University Bangkok dan program Swasdee dengan mengabdikan sebagai relawan di sebuah sekolah dasar (SD), tepatnya di distrik Wat Bot, provinsi Phitsanulok, Thailand, menjadi langkah awal Camalia Fatih Nida memulai pengalaman barunya. Dia mengajar Bahasa Inggris siswa SD.

Ternyata, wanita berusia 22 tahun itu memilik banyak pengalaman menarik selama berada di Thailand. Yakni sejak Juni hingga Agustus 2015 atau selama mengabdi menjadi relawan. Bukan hanya sekadar mengajar, namun pengalaman baru. Contoh sederhana, Mella, sapaan Camalia Fatih Nida, salat di depan patung Budha dan raja Thailand yang sangat dihormati masyarakat di sana. Berbagai hal baru yang dialami Mella selalu ditulis dalam buku harian atau diary.

Buku diary itu ternyata juga sempat dibaca ayah Mella yakni M. Anis Adnan, penulis buku-buku Haji dan Umrah. Dinilai menarik, akhirnya dimulailah untuk ditulis secara runtut untuk dibuat buku traveling. Mahasiswa jurusan Sastra Inggris, Universitas Brawijaya (Unibraw) ini semakin  semangat menulis untuk dibuat buku. Pada akhir 2015, Mella mulai inten menulis buku berjudul Hijaber Lost in Thailand.

Menurut dia, menulis buku cukup menarik. Banyak pengalaman tidak terlupakan yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. “Butuh waktu antara tiga sampai empat bulan untuk menulis buku ini,” ujar Mella.

Saat wawancara di rumahnya, Mella  bercerita berbagai peristiwa menarik yang dituliskan dalam buku sesuai pengalamannya di Thailand. Misalnya, bertemu cucu Kiai Haji Ahmad Dahlan. Itu terjadi saat berkenalan dengan First, mahasiswa Chulalongkorn University yang kini menjadi sahabat Mella. Mella lantas berencana bertemu tokoh muslim yakni Winai Dahlan yang menjadi dosen di Chulalongkorn. Ternyata Winai Dahlan ini salah satu dosen First. Mella bertemu Winai Dahlan dan berjabat tangan dengannya saat kuliah umum di auditorium kampus. Saat itu Winnai Dahlan memberikan materi kuliah.

Pengalaman lain tak kalah seru yang juga dituliskan Mella dalam bukunya yakni pergi ke Pattaya. Ya, Pattaya yang menawarkan ‘gemerlap’ kehidupan malam di Thailand.  Pattaya menyajikan keindahan alam yang menawan sekaligus kenikmatan surga dunia. Cerita itu ditulis Mella di halaman 41, berjudul good boy go to heaven, bad boy go to Pattaya.     

Mella juga bercerita, di Pattay ada masjid yang cukup besar. Salah satunya Masjid Darul Ibadah. Bersebelahan dengan masjid terdapat madrasah. Dan saat Mella mengunjunginya, para siswa menyanyikan lagu asli dari Indonesia berjudul ‘Burung Kakak Tua’ dan ‘Tek Otek-Otek (anak ayam)’.

Selama penulisan buku Hijaber Lost in Thailand, Mella sempat kekurangan bahan. Dia lantas berkunjung kembali ke Thailand untuk mencari bahan baru. Meski tidak lama, namun cukup membantu untuk menyelesaikan bukunya. Bukan hanya itu, Mella juga mengalami ditolak penerbit.

Hebatnya, buku karya Mella juga termasuk buku laris di Gramedia. Dan mendapatkan apresiasi dari Hanum Salsabila Rais. Dia merupakan penulis best seller 99 Cahaya di Langit Eropa.  Menurut dia, buku itu berbeda dengan buku traveling pada umumnya tentang Thailand. Pengalaman penulis sangat mendalam terhadap ‘real Thai life’. Asimilasi dengan penduduk yang telanjang terhadap norma susila begitu menantang setiap pembacanya.

(rt/whe/whe/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia