Kamis, 14 Dec 2017
radartulungagung
icon-featured
Kolom

Bahaya Rokok dan Konfrontasi Kepentingan

Jumat, 18 Aug 2017 22:02 | editor : Didin Cahya FS

Oleh : Didin Cahya FS

Oleh : Didin Cahya FS

Bagi sebagian orang, merokok adalah kebiasaan sulit ditinggalkan. Walaupun yang bersangkutan sudah mengetahui bahayanya. Meningkatnya prevalensi merokok di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia terutama di kalangan remaja menyebabkan masalah rokok kian serius.

Ironis, remaja telah menganggap bahwa merokok jadi kebutuhan tidak bisa dielakkan. Di mana kebutuhan santai dengan merokok sudah biasa. Padahal dampak itu juga berpengaruh pada perokok pasif atau terkena paparan rokok orang lain. 

Data dari Lembaga Kesehatan Dunia (WHO)  jumlah perokok di Indonesia mencapai 80 juta orang. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa merokok mengandung 4000 elemen dan 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan.

Diketahui jika racun utama di dalam rokok termasuk tar, nikotin, karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin merupakan zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan mampu memicu kanker yang mematikan. Sedangkan karbon monoksida berupa zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tak mampu mengikat oksigen.

Di sisi lain, pembatasan rokok jadi tantangan berat dan tak mudah untuk dilakukan. Bisnis rokok sangat luas dan merupakan jaringan konspirasi kompleks antara industri, petani, manufaktur, hingga politisi. 

Memang di Indonesia pernah di buat rancangan peraturan pemerintah yang begitu ketat. Tapi lewat tekanan ke pihak-pihak terkait, paraturan itu diperlonggar. Misalkan untuk menyesuaikan batas minimal kandungan tar dan nikotin, serta pemuatan gambar bahaya merokok di bungkus rokok. Meskipun begitu iklan rokok masih bebas ditayangkan, di berbagai media maupun rumah baliho yang ada di kabupaten atau kota. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, dalam dekade mendatang Indonesia, tak hanya penyumbang tuberkulosis terbesar nomor tiga di dunia, tapi berbagai penyakit kanker. 

Tidak bisa dipungkiri rokok merupakan produk dilematis. Di sisi ekonomi dan kesehatan. Kedudukan industri rokok memiliki kontribusi ekonomi cukup besar. Paling tidak kontribusi rokok terhadap dunia olahraga, berbagai acara masih sering produk rokok jadi sponsor utama.

Di tingkatan nasional maupun daerah. Dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT) setiap tahun terus mengalir. Di Tulungagung pada tahun ini dapat Rp 15 miliar ( Jawa Pos Radar Tulungagung terbitan 8 Agustus 2017).   

Jika ditelisik, ada tiga faktor menjadi pemicu. Pertama benturan kepentingan pertanian dan perdagangan, yang bisa menghasilkan devisa, cukai di setor ke negara cukup besar. Kedua kepentingan ribuan tenaga kerja yang terserap di industri rokok. Ketiga industri rokok  termasuk aset nasional maupun daerah. Keempat rokok bisa merugikan kesehatan. 

Lalu siapa yang diuntungkan ? Ya produsen rokok, dan yang dirugikan perokok aktif maupun pasif. 

Jika kenyaataan ini diperparah dengan perang iklan dengan menampilkan model maupun tar rendah. Promosi lewat sales promotion girl (SPG) yang gencar. Dengan begitu tidak sadar jika publik digiring produsen.

Meski sudah sadar terkait bahaya merokok, masih belum bisa mewujudkan keinginan hidup sehat. Untuk itu perlu pemahaman bersama dalam merumuskan kebutuhan sehat berkelanjutan yang ditanamkan pada remaja.   

Lebih penting lagi, RUU Pertembakauan yang saat ini dibahas di DPR RI bisa secara tegas membuat regulasi pelarangan rokok.         

*) Penulis adalah anggota AJI Kediri dan wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung.      

(rt/did/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia