Kamis, 14 Dec 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Amatul F P, Juara III Lomba Pidato

Isi Pidato Pengalaman Pribadi dan Tak Perlu Banyak Alat Peraga

Jumat, 11 Aug 2017 15:00 | editor : Andrian Sunaryo

BERBAKAT: Amatul (kiri) bersama Kepala SMAN 2 Trengalek Supriyanto ketika menunjukan piala Juara III Lomba Pidato Kependudukan, kemarin.

BERBAKAT: Amatul (kiri) bersama Kepala SMAN 2 Trengalek Supriyanto ketika menunjukan piala Juara III Lomba Pidato Kependudukan, kemarin. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Berpidato bukan asal berorasi di hadapan publik, melainkan apa yang disampaikan harus berisi. Hal ini seperti dilakukan Amatul Firdausya Putri, warga Desa Sumberdadi, Kecamatan Trenggalek. Setelah menyampaikan pidato, dirinya terpilih menjadi juara tiga dalam lomba pidato kependudukan tingkat provinsi tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur (Jatim).

ZAKI JAZAI

Kesibukan warga sekolah dengan berbagai aktivitasnya terlihat di SMAN 2 Trenggalek kemarin (10/8). Saat itu terlihat beberapa siswa sedang berlatih tarian jaranan di halaman sekolah, sedangkan siswa lainnya melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) rutin seperti biasa. Itu dilakukan karena beberapa siswa sedang sibuk mengikuti kegiatan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) yang diikuti sekolah di wilayah  Trenggalek.

Ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di lobi ruang tamu, terlihat seorang siswi sedang berbincang dengan seorang gurunya. Ya, siswi tersebut Amatul Firdausya Putri yang Juli lalu baru terpilih sebagai juara III dalam perlombaan Pidato Kependudukan Tingkat Provinsi Tahun 2017 oleh Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim. “Banyak kegiatan lomba pidato dalam rangka PHBN kali ini, makanya harus terus bekoordinasi dengan guru agar bisa meraih hasil terbaik,” ungkap Amatul Firdausya Putri kepada koran ini.

Ternyata bukan hanya pidato yang menjadi kelebihan remaja 17 tahun ini, melainkan seluruh jenis ketrampilan yang memerlukan suara seperti bernyanyi, baca puisi, qiroat, dan masih banyak lagi. Hal itu ditunjukkan, sejak duduk di bangku SMP, Amatul Firdausya Putri kerap memperoleh juara ketika mengikuti perlombaan suara tersebut mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi. “Kemampuan ini disadari ketika saya membaca puisi untuk mengisi suatu kegiatan pramuka saat masih SMP. Sehingga semenjak itu saya harus memelihara juga mengambangkan kemapuan dengan suara ini,” katanya.

Sedangkan terkait perjuangannya memperoleh juara tiga lomba pidato di tingkat Jatim tidak mudah. Sebab didahului dengan seleksi di tingkat kabupaten beberapa hari setelah Lebaran dan ini membuahkan hasil masuk 10 besar. Dari situlah diseleksi kembali hingga dirinya berhasil mewakili Trenggalek dalam perlomban tersebut.

Setelah itu, dirinya mencoba mencari ide dan juga bahan untuk membuat pidato yang nanti dilombakan. Beberapa kali berpikir, akhirnya dirinya memutuskan untuk membuat pidato berisi tentang pendewasaan usia perkawinan (PUP). Dari situ diharapkan ada pencegahan kasus peledakan penduduk dengan cara PUP, untuk mencegah percepatan kehamilan.

Diharuskan masyarakat menikah ketika usia yang matang yaitu di atas 22 tahun, agar angka kelahiran bisa diatur. Sebab usia 17 hingga 21 tahun merupakan usia produktif dan dikhawatirkan jika menikah di usia itu, pasangan tersebut akan memiliki banyak anak sehingga membuat perekonomian semakin sulit.

Sebab dengan memiliki banyak anak, orang tua harus bekerja ekstra keras untuk menghidupi anaknya, juga harus pandai-pandai mengatur pengeluaran untuk membeli keperluan. Seperti, biaya makan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya. “Mungkin hal ini saya alami sendiri yang terlahir di antara lima saudara,” kata anak kedua dari lima saudara tersebut.

Dengan pengalaman pribadi tersebut, dan hasil diskusi bersama guru pembimbing dirinya berhasil membuat pidato dengan judul Remaja yang Peduli Tentang Kependudukan Masa Depan. Namun sayang, ketika tampil dalam perlombaan tersebut putri kedua dari pasangan Imam Khoirudin dan Robingatul Marsiah tersebut mendapatkan nomor urut ke 62 atau nomor buncit alias paling akhir. Sehingga membuatnya paling akhir tampil yaitu sekitar pukul 22.00.

Kendati demikian dirinya tetap semangat untuk berpidato dan memberikan yang terbaik. Tak ayal, kendati mayoritas juri dalam keadaan lelah mereka tertarik karena penampilan yang disajikannya. Amatul Firdausya Putri pun memperoleh nilai tinggi dan keluar sebagai juara tiga. “Saya berpedoman dalam berpidato tidak usah terlalu banyak alat peraga, sebab hal itu akan menyulitkan diri sendiri. Mungkin hal itulah yang membuat penampilan saya dihargai para juri,” jelas siswa yang duduk di kelas XII IPS 3 ini. (*)

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia