Senin, 23 Oct 2017
radartulungagung
icon-featured
Features
Penuturan Keluarga JCH yang Meninggal(2habis)

Sosok Bapak yang Selalu Tanamankan Kejujuran Kepada Anak

Selasa, 08 Aug 2017 16:40 | editor : Didin Cahya FS

TABAH: Fredi Praja Nugraha (kiri) bersama adiknya Zeta Praja Nugraha (kanan) berharap bapaknya mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan.

TABAH: Fredi Praja Nugraha (kiri) bersama adiknya Zeta Praja Nugraha (kanan) berharap bapaknya mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan. (MEIDIAN DONA DONI/RATU)

Mudjiono Sukibat Somodimedjo, jamaah calon haji (JCH) yang meninggal di Madina. Selama masa hidup warga Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru itu, selalu menanamkan kesungguhan beribadah dan berbuat jujur kepada keluarga yang ditinggalkannya.       

MEIDIAN DONA DONI

Rumah keluarga Mudjiono Sukibat Somodimedjo, JCH yang meninggal di Madina pada (5/7), masih terlihat berkabung. Di mana kemarin (7/8) saat Koran ini bertadang rumh pria tersebut, tampak gerbang rumah terbuka lebar dan ada deretan mobil di depan.

Sepintas masih bergantian tamu keluar masuk rumah. Saat melangkah lebih jauh, ada karpet merah digelar di ruang tamu dan tampak pelayat berseragam PNS dengan posisi  duduk bersila melingkar. Mereka mendengarkan cerita dari seorang pria yang mengenakan atasan hem cokelat dan bawahan celana jean biru.

Dan pria tersebut duduk sambil bercerita dengan nada yang lirih. Dia adalah Fredi Praja Nugraha anak dari almarhum Mudjiono Sukibat Somodimedjo.

Fredi biasa disapa ini, kepada tamu mengaku sempat tak percaya mendapatkan berita bapaknya meninggal dunia di Tanah Suci. Padahal sebelum berangkat, dalam kondisi segar bugar.“ Sempat kaget. Dulu bapak mendapatkan gelang hijau, yang artinya kondisi sedang sangat bugar. Lain cerita kalau gelangnya kuning yang berarti dalam pengawasan atau merah dan bisa gagal berangkat,” ungkapnya.

Dia mengakui, bapaknya sudah lama ingin pergi ke Makkah. Meski sempat mempunyai penyakit diabetes, sehingga sering ke rumah sakit untuk kontrol dan tertib minum obat, supaya kadar gulanya rendah. Alhasil, usaha itu membuat kadar gula bapaknya menjadi normal sehingga bisa berangkat melaksanakan rukun Islam ke lima.

“ Tak ada firasat apapun sebelum menerima berita bapak meninggal. Hanya saja ibu saya merasakan bahwa bapak sebelumnya menjadi manja,” ujar anak pertama Mudjiono ini.

Nah sebelum berhaji, lanjut dia, ibunya pernah bercerita pada dia, bahwa bapaknya menjadi orang manja. Makan minta diambilkan dan disuapi serta selalu ingin di temani.

Dihadapan dia, bapaknya tidak menunjukkan sikap manja. Mungkin tidak ingin anak-anaknya merasa susah. “ Wejangan dari bapak yang selalu saya ingat adalah yang pertama adalah rajin ibadah, kedua harus jujur, ketiga jangan suka bertengkar dengan adik,” ujar pria 34 tahun itu.

Dari pesan yang disampaikan bapaknya. Jika seseorang  yang jujur, akan membawa kebaikan kelak. Sudah dibuktikan bapaknya ketika belum pensiun, terus naik jabatan. Sebab jujur dalam melakukan tugas.“ Dan pesan lain, kalau sama adiknya jangan suka bertengkar.  Sebab hanya satu saudara saja. Tentu bapaknya tak ingin adanya pertengkaran antara dua bersaudara ketika bapaknya telah tiada. Kondisi ibunya sekarang sudah tabah,” pungkasnya.

(rt/ona/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia