Rabu, 18 Oct 2017
radartulungagung
icon-featured
Features
Penuturan Keluarga JCH yang Meninggal (1)

Supono Nabung 10 Tahun untuk Berhaji, Bercita-cita Meninggal di Makkah

Senin, 07 Aug 2017 15:45 | editor : Didin Cahya FS

SEDIH: Agung Kurniawan menunjukkan foto Supono Suseno Satari.

SEDIH: Agung Kurniawan menunjukkan foto Supono Suseno Satari. (MEIDIAN DONA DONI/RATU)

 Supono Suseno Satari, jamaah calon haji (CJH)  yang meninggal di Madina dikenal sosok pekerja keras. Warga Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, untuk bisa menunaikan rukun Islam ke lima ini, rela menabung selama 10 tahun yang didapat dari keuntungan usaha warungnya.        

MEIDIAN DONA DONI

Tentu duka masih terasa bagi keluarga Agung Kurniwan. Sebab Supono Suseno Satari, yang merupakan satu dari dua jamaah calon haji (JCH) asal Tulungagung, pada Sabtu lalu meninggal dunia di Madina. Di bagian depan rumah pria 29 tahun tersebut, kemarin (6/8) masih terpasang tarup hijau serta ada kursi plastik berjejer. Dan suasanapun terdengar hening, tak ada suara tawa maupun jeritan anak kecil.

Memang ketika itu tampak pula orang keluar masuk rumah, untuk menyampaikan rasa duka cita ke anggota keluarga yang ditinggalkan. Mereka yang datang merupakan tetangga maupun sanak saudara yang turut merasa berduka, terlihat duduk di karpet yang digelar di teras rumah.

Sementara pemilik rumah, Agung Kurniawan berdiri di depan teras  mengenakan busana muslim, bawahan sarung dan memakai peci. Begitu Koran ini menemui dia, melihat sorot matanya memerah dan berkaca-kaca tak bisa menyembunyikan kesedihan.

Terlebih ketika ngobrol lebih dalam lagi, ketika ditanyakan pesan terakhir yang dikatakan bapaknya ketika hendak berangkat ke Tanah Suci. Sontak raut mukanya berubah dan air matanya pun menetes.“ Sebelum berangkat bapak bilang ke saya agar menjaga adik-adik saya. Mengajarkan adik untuk rajin belajar dan rajin beribadah supaya jadi anak yang pintar. Dan jangan galak terhadap adik-adiknya,” ungkap Agung sembari mengurai air mata.

Bapaknya, menurut dia, sosok panutan keluarga. Sebab pekerja keras dan tak mudah menyerah dalam mencapai cita-citanya. Bukti kecil, ialah saat bapaknya yang sudah lama ingin berhaji. Mengumpulkan uang hampir sejak 10 tahun lalu dengan menyisihkan keuntungan berjualan dengan tertib tiap bulan, dari usaha warung kecil di sekitar Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung.

Dan waktu pelatihan manasik haji pada  tiga minggu lalu, bapaknya ikut dan semangat tanpa mengeluh. “ Ketika di Madinah bapak diberikan gelang kuning. Yang artinya dalam pengawasan panitia, karena kesehatan kurang baik. Namun bapak ingin cepat hajinya selesai, bapak memaksakan beribadah sendiri tanpa pengawasan. Akhirnya ditemukan meninggal di Masjid Nabawi ketika bapak sedang menunggu salat Subuh,” ujarnya.

Nah ketika di Tanah Suci, bapaknya kerap menanyakan lewat saat telepon ibunya yang berada di rumah. Di mana isi pertanyaannya, tentang kesehatan, bagaimana kondisi warung yang dijaga olehnya ketika bapaknya pergi berhaji. “ Bapak waktu telepon bilang nak kalau bangun pagi jangan siang biar tak telat datang mengawasi warung,” ujar anak kedua Supono tersebut.

Dia menjelaskan, bahwa itulah yang diteladani dari bapaknya yang merupakan pekerja keras dan tak pernah menyerah. Bapaknya ketika menjaga warung selalu tepat waktu dan terus siaga di kasir melayani pelanggan yang datang.  Dia kini yang menggantikan bapaknya, juga harus kerja keras demi adik-adik perempuannya yang masih duduk di SMA.“ Kita hanya bisa tabah dan menerima kepergian bapak. Itulah yang memang di cita-citakan bapak, meninggal dan dikuburkan di Tanah Suci merupakan suatu kebanggaan bagi bapak,” pungkasnya. (*/bersambung)

(rt/ona/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia