Rabu, 18 Oct 2017
radartulungagung
icon featured
Features
Priyo Pambudi Utomo, Perajin Aquarium Meja

Produk Pertama dari Bak Mandi Bayi, Beri Listrik Tegangan Rendah

Rabu, 02 Aug 2017 15:10 | editor : Andrian Sunaryo

SANGAT BERBEDA : Priyo Pambudi menunjukan aquarium meja atas ada beberapa tumpukan buku hasil karangannya, kemarin.

SANGAT BERBEDA : Priyo Pambudi menunjukan aquarium meja atas ada beberapa tumpukan buku hasil karangannya, kemarin. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Sastrawan tidak hanya pandai membuat karangan dan cerita indah untuk dibukukan, namun bisa membuat karya seni lainnya. Seperti Priyo Pambudi Utomo, Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, juga membuat aquarium meja, yang berbeda dengan aquarium pada umumnya.

ZAKI JAZAI

Aktivitas masyarakat Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, yang padat terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek melintasi desa tersebut kemarin (1/8). Di salah satu rumah warga yang letaknya di pinggir jalan raya yang menghubungkan Kecamatan Pogalan dengan Kecamatan Gandusari, tampak seseorang sedang membaca buku. Sepertinya, begitu banyak buku yang akan dibaca, itu terlihat dari tumpukan di meja.

Namun jika perhatikan seksama ada yang menarik dari meja tersebut. Selain terbuat dari kaca, di bagian badan meja terlihat beberapa ekor ikan hias. Ternyata itu adalah aquarium meja, hasil kreasi Priyo Pambudi Utomo. “Biasalah sebagai seorang sartrawan harus sering membaca karangan sendiri agar tahu apa yang masih kurang, selain menyalurkan hobi yaitu memelihara ikan hias,” ungkap Priyo Pambudi Utomo kepada Koran ini.

Dari situlah diketahui, selain mahir mengarang, dirinya juga selalu menciptakan beberapa jenis aquarium baru, yang berbeda dengan pada umumnya. Sebab sejak kecil dirinya hobi memelihara berbagai jenis ikan, tak ayal kala itu dirinya sering pergi ke sungai untuk mencari ikan bukan sebagai lauk, namun untuk dipelihara. “Waktu itu belum ada penjual ikan hias, makanya saya mencarinya di sungai, dan baru menjumpai pedagang ikan hias ketika kuliah di Universitas Jember (Unej) Fakultas Sastra,” katanya.

Dengan hobi memelihara ikan itu, dirinya mengumpulkan berbagai jenis ikan hias, hingga memiliki anak. Seketika itu muncul ide dalam benaknya, yaitu membuat wadah ikan alias aquarium yang lain dari biasanya. Awalnya, memanfaatkan bak mandi anaknya yang masih bayi. Dengan mengapit keempat sisinya dengan kayu sebagai tiang, dan memberikan beberapa asesoris layaknya aquarium. Selain itu,  menutup bagian atasnya dengan menggunakan kaca. Penutup kaca itu bertujuan untuk melihat ikan hias yang ada di dalamnya.

Semenjak saat itulah dirinya terus berinovasi, hingga menciptakan aquarium meja yang seluruhnya terbuat dari kaca, dan  2006 lalu memutuskan untuk menetap di Trenggalek bersama keluarga. Ternyata, ketika mulai menetap di Trenggalek  diluar dugaan terjadi, itu ditunjukan dengan banyaknya masyarakat yang menyukai ikan peliharaannya berikut aquarium dan berniat untuk membeli. “Saat itu khusus untuk ikan jika ada yang ingin membelinya langsung saya lepas, sedangkan untuk aquarium jangan dulu, sebab bentuknya masih belum sempurna,” ujar pria 42 tahun ini.

Itu terlihat dari masih banyaknya kabel berserakan, dan setiap kali menyalakan aquarium tersebut membutuhkan daya besar, sehingga memperbanyak tagihan listrik dan aquarium mudah sekali kotor. Dengan hal tersebut dirinya berinovasi dengan membuat terobosan dan berhasil menemukan cara pas. Cara tersebut ditujukan dengan memakai tiga sudut pada aquarium yang berbentuk kotak sebagai tempat filter untuk menyaring kotoran dengan menutupinya dengan kaca, sebagai jalan lewatnya air. Serta di bagian sudut satunya dipakai tempat menaruh kabel lampu aquarium. Sedangkan, untuk penghasil oksigen, dirinya memilih menggunakan aerator karena memerlukan daya listrik yang rendah, dan mesinnya ditaruh pada tempat lainnya untuk mengambil udara.

Sedangkan terkait penyaluran udara maupun aliran listrik pada aquarium tersebut dilakukan dengan memendam kabel dan selang pada lantai tempat aquarium nantinya dipasang. Jika pemilik tidak menghendakinya, kabel bisa ditaruh pada karpet agar tidak terlihat jelas. “Makanya saya memilih mesin dengan bertegangan listrik rendah, sehingga tidak terlalu berisiko ketika kabel dalam karpet mengelupas dan tersentuh orang,” tutur suami dari Elok Purwaningsih ini.

Ternyata, kreativitasnya tersebut bisa diterima oleh masyarakat umum. Itu ditunjukan dengan banyaknya pesanan aquarium meja buatannya bukan hanya dari Trenggalek melainkan dari daerah sekitar. “Secara sekilas pasti banyak yang menganggap aquarium meja ini menggunakan baterai, namun sebenarnya menggunakan aliran listrik dengan daya rendah makanya lebih ekonomis,” jelas bapak tiga putera ini. (*) 

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia