Sabtu, 21 Oct 2017
radartulungagung
icon featured
Ekonomi
Tambah Penghasilan, Tanam Jamur Tiram

Wajib Jaga Suhu dan Kelembapan Udara

Selasa, 01 Aug 2017 10:28 | editor : Whendy Gigih Perkasa

BERKUALITAS: Jamur mulai tumbuh di media tanamnya. Suhu dan kelembapan udara wajib dijaga.

BERKUALITAS: Jamur mulai tumbuh di media tanamnya. Suhu dan kelembapan udara wajib dijaga. (whendy gigih perkasa/RATU)

Budidaya jamur tiram cocok untuk daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha jamur tiram cukup murah dan bisa dilakukan bertahap. Bagian tersulit membuat baglog, media tanam yang telah diinokulaikan dengan bibit jamur.

Baglog adalah media tanam tempat meletakkan bibit jamur tiram. Bahan utama baglog adalah serbuk gergaji, karena jamur tiram termasuk jamur kayu. Baglog dibungkus plastik berbentuk silinder,  salah satu ujungnya diberi lubang. Pada lubang tersebut jamur tiram akan tumbuh menyembul keluar. Pada usaha skala besar, petani jamur biasanya membuat baglog sendiri. Namun bagi petani pemula, atau petani dengan modal terbatas biasanya baglog dibeli dari pihak lain, sehingga petani bisa fokus menjalankan usaha budidaya. Saat ini, baglog jamur tiram yang berbobot sekitar satu kilogram dijual dengan rata-rata Rp 2 ribu hingga Rp 2.500. 

Untuk pendatang baru, biasanya memulai kegiatan budidaya dengan menumbuhkan baglog menjadi daging buah. Sementara pengadaan, baglog yang siap tumbuh didapat dengan membeli dari pihak lain. Kemudian setelah usaha budidayanya berkembang dan volumenya banyak, baru mencoba membuat baglog sendiri.

Ada hal utama yang menjadi perhatian petani jamur. Yakni suhu tempat atau ruang penanaman. Jamur tidak akan hidup jika kondisi ruang tanam kotor dan panas. Tanaman dengan nama latin Pleurotus ostreatus itu butuh udara dingin dan cenderung lembab. Karena itulah, saat musim kemarau tiba, petani akan lebih kerepotan. “Suhu di ruang tanam harus didinginkan. Jika tidak, jamur akan mati,” ungkap Fauzi salah seorang petani jamur di kawasan Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.

Untuk menjaga suhu, bisa dilakukan dengan menyemprotkan air ke seluruh media tanam jamur. Namun hal itu juga tidak sembarangan. Yang dibutuhkan bukanlah air dalam skala besar, melainkan seperti kabut. “Dibuat kabut buatan sendiri dari air. Itu cukup ampuh meski terkadang masih ada yang mati namun tidak banyak,’ ujar Fauzi.

Selain pengembunan, hal lain yang dilakukan yakni membasahi tanah di ruang tanam jamur. Itu dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Namun, jika kondisi udara dingin, tidak perlu dilakukan penyiraman memakai air.

Ahmad, yang juga petani jamur mengaku, pemasaran jamur tiram saat ini cukup menjanjikan. Sebab, permintaan pasar terus meningkat. Harga jual jamur tiram dari petani rata-rata Rp 15 ribu per kilogram. Namun harga bisa berubah setiap saat. 

(rt/whe/whe/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia