Kamis, 21 Sep 2017
radartulungagung
Features
P Yoga P.L, Pelukis Sketsa Pakisrejo

Miliki Dasar Permesinan, Tekankan Kesan Dramastis

Jumat, 14 Jul 2017 09:06 | editor : Andrian Sunaryo

BERBAKAT: Yoga menunjukkan dua lukisan sketsa hasil kreasinya di rumahnya kemarin

BERBAKAT: Yoga menunjukkan dua lukisan sketsa hasil kreasinya di rumahnya kemarin (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Melukis bisa dengan banyak media atau cara. Seperti yang dilakukan Priya Yoga Pandu Lodiastana. Pemuda asal Desa Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan ini bisa menangguk rezeki dari kemampuannya tersebut. Padahal awalnya ini untuk memenuhi tugas mata kuliah.

DHARAKA R. PERDANA

Siapa yang tidak mengetahui apa itu sketsa? Sketsa adalah karya gambar yang biasanya tidak dimaksudkan sebagai hasil karya akhir. Namun kenyataannya, yang terjadi saat ini justru banyak karya sastra yang berbentuk gambar setengah jadi yang digandrungi. Dan ini menjadi salah satu jalur untuk menangguk rezeki.

Priya Yoga Pandu Lodiastana contohnya. Pemuda asal Desa Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan ini bisa dikatakan sambil menyelam minum air. Jika awalnya sketsa karyanya untuk memenuhi mata kuliah, saat ini sudah mulai ada pesanan yang diterimanya.

Meskipun hasilnya belum seberapa, tetapi sudah dianggap lumayan karena tidak membutuhkan biaya produksi banyak. Padahal dia tidak memiliki dasar karena sempat duduk di SMK jurusan mesin. Tampaknya ini memang dipengaruhi bakat alam yang dimilikinya saat duduk di bangku kuliah. “Awalnya memang hanya untuk mata kuliah. Ternyata banyak yang tertarik dengan hasil karya saya,” katanya kepada Koran ini kemarin (13/7).

Dengan bermodalkan pensil dan kertas, dia pun memulai kreasinya itu. Namun dia harus memahami terlebih dahulu kontur dan bentuk wajah objek yang menjadi sasaran. Setelah itu baru dituangkan dalam kertas. Mulanya memang belum terlihat, lama kelamaan baru terlihat apa yang dilukisnya. Di mana semua memiliki efek 3D meskipun hanya gradasi hitam putih.

Tetapi saat melukis perlu konsentrasi penuh. Mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya ini pernah kebingungan menyelesaikan pesanan dalam sehari sesuai permintaan. Otomatis dia harus berusaha sekuat tenaga agar pemesan tidak kecewa. Apalagi dia juga harus mengedepankan ciri khas yang berupa goresan background yang mengesankan hal yang dramatis. “Yang paling repot harus selesai dalam sehari. Tetapi itu tidak masalah asalkan pemesan puas dan tidak kecewa,” tuturnya.

Sedikit demi sedikit karyanya sudah merambah hingga luar kota, meskipun belum sampai luar Jawa. Namun hal ini bukan berarti membuatnya puas. Bahkan dia menambahi dengan ukiran patung meskipun peminatnya belum begitu banyak. Tetapi ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya. Apalagi dia ingin terus mengeksplorasi kemampuannya di bidang seni, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya di Kota Marmer. “Saya ingin mengeksplorasi kemampuan diri semaksimal mungkin,” ujarnya.

Disinggung berapa biaya yang dikenakan untuk pembuatan sketsa, pemuda berkulit sawo matang ini mengaku dihargai Rp 80 ribu. Tetapi dia belum mengenakan ongkos kirim untuk hal ini. “Inginnya juga bisa pameran, tetapi menunggu waktu yang tepat,” tandasnya.(*/din) 

(rt/rak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia