Sabtu, 23 Sep 2017
radartulungagung
Hukum & Kriminal

Penggilingan Padi Digerebek

Amankan 15 Ton Beras Dikemas Merek Palsu

Kamis, 13 Jul 2017 08:47 | editor : Andrian Sunaryo

TERUS DISELIDIKI : Kapolres Trenggalek AKBP Donny Adityawarman meninjau lokasi penggilingan gabah yang diduga juga pengepakan beras merek tertentu tanpa dilengkapi izin.

TERUS DISELIDIKI : Kapolres Trenggalek AKBP Donny Adityawarman meninjau lokasi penggilingan gabah yang diduga juga pengepakan beras merek tertentu tanpa dilengkapi izin. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Masyarakat Kota Keripik Tempe harus lebih waspada dalam membeli beras merek ternama untuk dikonsumsi. Pasalnya, kemarin (12/7) Satreskrim Polres Trenggalek berhasil menggerebek tempat penggilingan padi milik MK, 47, wilayah Kecamatan Trenggalek yang diduga melakukan pengepakan sekaligus pengedaran beras dengan merek ternama tanpa dilengkapi izin edar di wilayah Trenggalek. Dari penggrebekan tersebut didapati barang bukti berupa 15 ton beras siap edar yang dikemas dengan merek dagang palsu.

Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek, hal tersebut bermula dari penyelidikan yang dilakukan polisi mengenai adanya jenis makanan pokok tak berstandar beredar di wilayah Trenggalek. Dari situ, polisi mendapatkan informasi, ada satu tempat penggilingan padi yang juga melakukan pengemasan beras untuk dijual atas nama merek dagang yang tak seharusnya. “Dari hasil penyelidikan tersebut,  langsung kami penggrebekan dan ternyata benar,” ungkap Kapolres Trenggalek AKBP Donny Adityawarman.

Dia melanjutkan, hal itu dibuktikan setelah dicek kelengkapan surat izinnya, ternyata pemilik tempat tersebut hanya memiliki izin untuk penggilingan gabah menjadi beras. Namun, saat itu juga petugas mendapati belasan ton sak beras siap edar berbagai merek. Berdasarkan keterangan sementara, ternyata sak beras siap edar tersebut hasil penggilingan gabah di tempat tersebut yang dikemas sendiri. Nanti, beberapa sak beras tersebut akan diedarkan ke pelanggannya di wilayah Trenggalek. “Ini yang dilarang, sebab izinya hanya penggilingan beras, sehingga pelaku hanya boleh menggiling beras bukan mengedarnya,” ujarnya.

Ditambahkan, ternyata sak-sak yang digunakan mengemas beras tersebut dibeli dari pedagang yang saat ini identitasnya dikantongi petugas, dan ada sak beras lainnya yang merupakan pesanan dari tukang sablon. Selain itu, nanti petugas akan terus menyelidiki terkait kemungkinan beras tersebut mengandung pemutih yang berbahanya dalam kesehatan. “Setiap merek dagang memiliki kriteria khusus untuk dikemas sebelum dijual, makanya kegiatan pelaku tersebut dilarang. Jika terbukti bersalah pelaku akan dikenakan dengan undang-undang pangan dan perlindungan konsumen dengan ancaman lima tahun penjara,” jelas perwira menengah polisi dengan pangkat dua melati di pundak tersebut.

Sementara itu MK, mengakui perbuatannya telah mengemas ulang beras hasil penggilingannya dengan merek dagang tertentu. Hal itu dilakukan karena dirinya tidak mengetahui pengemasan beras dengan merek tertentu harus memiliki surat izin. Sedangkan, dirinya mendapatkan gabah yang digiling jadi beras tersebut dari petani di wilayah Trenggalek, juga petani wilayah lain, seperti Ngawi dan Nganjuk. “Kami berani menjamin beras hasil penggilingan kami ini aman dikonsumsi, sebab didapat dari beras panen petani setiap musimnya, dan kami siap mengurus surat izin untuk mengedarkan beras ini,” jelasnya. (*)

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia