Rabu, 20 Sep 2017
radartulungagung
Ekonomi
ekonomi bisnis

Emping Melinjo Pertahankan Cara Tradisional, Tetap Jaga Kualitas

Minggu, 09 Jul 2017 11:32 | editor : Whendy Gigih Perkasa

HARUS KERING: Kamah saat menjemur emping melinjo buatannya sebelum dikemas.

HARUS KERING: Kamah saat menjemur emping melinjo buatannya sebelum dikemas. (Whendy Gigih Perkasa/ RATU)

Emping melinjo sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang. Olahan makanan ringan ini cukup dikenal di berbagai kota termasuk Tulungagung yang merupakan salah satu pusat pembuatan emping melinjo. Tepatnya di Desa Pojok, Kecamatan Ngantru. Tidak sedikit masyarakat di sana yang memproduksi emping melinjo baik dalam skala besar ataupun kecil. Ini menjadi sumber perekonomian warga, dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

Salah seorang pembuat emping melinjo di Desa Pojok yakni Kamah. Wanita yang kini berusia 70 tahun itu masih aktif memproduksi emping melinjo dan tetap menggunakan cara tradisional alias tanpa mesin. Rumah miliknya menjadi tempat produksi, dan halaman serta jalan depan rumah manjadi tempat untuk menjemur melinjo.

Menurut Kamah, cara tradisional sengaja tetap dipertahankan. Misalnya menggunakan pemukul manual dari batu untuk proses memipihkan melinjo. Cara itu dianggap lebih ampuh untuk membuat rasa asli melinjo tetap terjaga. “Di sini semua masih tradisional, dan tetap bertahan sebagai perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Untuk membuat emping melinjo, Kamah tidak hanya mendatangkan bahan baku berupa melinjo dari Tulungagung. Dia harus membeli hingga luar daerah seperti Trenggalek, Blitar, bahkan hingga Banten. Itu tidak lain agar mencukupi permintaan konsumen yang juga datang dari berbagai daerah seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya, Jember, dan masih banyak lainnya. “Kalau hanya mengandalkan melinjo lokal, kurang mencukupi,” ujar Kamah.

Proses awal membuat emping melinjo yakni membersihkan kulit luar dengan cara dikupas. Setelah dikupas, melinjo biasa disebut klatak. Klatak didiamkan sekitar dua jam sebelum digoreng menggunakan pasir. Selanjutnya dipecah kulitnya hingga tersisa biji melinjo. Biji inilah yang kemudian dipipihkan dengan cara dipukul. Untuk mendapatkan ukuran emping yang lebih besar, biasanya dibutuhkan beberapa butir melinjo. Karena prosesnya masih tradisional, maka untuk memipihkan harus satu per satu.

Terkait hasil produksi, Kamah mengaku dalam sehari bisa menghasilkan emping melinjo sekitar 25 kuintal dibantu sekitar 25 orang karyawan. Harga jual emping saat ini sekitar Rp 43.500 per kilogram. Harga itu naik disbanding sebelum puasa lalu yakni sekitar Rp 37 ribu per kilogram.

Agar lebih awet dan harga tetap tinggi, Kamah mengaku harus bernar-benar menjaga kualitas. Yakni mulai kebersihan, kerapian bentuk, dan pengemasan. “Harus bersih kulitnya saat dikupas. Bentuk juga rapi dan pengeringan harus tepat,” jelas wanita yang sudah mulai produksi emping melinjo sejak 1965.  (wen)

(rt/whe/whe/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia