Jumat, 19 Jan 2018
radartulungagung
Tulungagung

Sedih, Santri Korban Pelecehan Seksual

Dan Kekerasan Fisik oleh Kakak Kelasnya

Senin, 15 May 2017 20:04

Sedih, Santri Korban Pelecehan Seksual

()

TULUNGAGUNG –

Nasib dan kisah pilu dihadirkan NF, warga di Kecamatan Kalidawir. Niat hati ingin menjadi santri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Ngunut, namun bocah berusia 10 tahun itu justru mengalami trauma, semenjak menjadi korban pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Hingga berakibat pendarahan dan terpaksa di rawat di RSUD dr Iskak sejak Selasa  (9/5).

Di mana pelaku pelecehan seksual diduga dilakukan oknum di mana tempat bocah tersebut. Sedangkan kekerasan fisik dimotori kakak kelasnya. “ Ya memang benar ada kejadian memilukan ini,” ungkap kakak sepupu korban, Aziz Prasida, kemarin (14/5).

Menurut dia, peristiwa sedih itu terungkap berawal ketika korban pulang dari ponpes untuk menjalani liburan akhiru sanah (semesteran) sejak Minggu (7/5) lalu. Semenjak kepulangannya itu korban NF terlihat aneh. Dulu pribadinya yang ceria tiba-tiba pendiam dan hanya bermain handphone saja. “ Adik saya jadi diam biasanya kalau pulang selalu main kerumah saudara-saudaranya, biasanya minta diantar untuk membeli ice cream, tapi pulang kali ini dia aneh diam saja, dan dilihat dari cara duduknya juga aneh, kakinya selalu dirapatkan,” terangnya.

Dua hari setelah kepulangannya tepatnya Selasa (9/5), korban NF mengeluh tidak bisa buang air besar, dan akhirnya korban dibawa ke puskesmas. Setelah sampai puskesmas korban mengaku tidak bisa buang air kecil, yang menyebabkan perutnya buncit dan mengeras. “ Kami membawa NF ke puskesmas, namun dari pihak puskesmas merujuk ke RSUD dr Iskak untuk melakukan pemeriksaan. sekitar pukul 17.30 kami langsung membawa NF ke RSUD dr Iskak,” lanjutnya.

Dari hasil visum, menurut Aziz, terjadi infeksi pada bagian sensitif NF, dan kemungkinan pelecehan sudah lebih dari tiga kali, itu dilihat dari bekas luka. “ Dia bukan hanya mengalami pelecehan seksual melainkan juga dianiaya oleh 3 orang kakak kelasnya,” jelasnya.

Selain trauma, sebut dia, korban NF sulit tidur, sekali bisa tidur korban tiba-tiba terbangun dan berteriak sakit sambil meremas tempat tidur. “ Sampai hari ini (kemarin) adik saya masih belum bisa duduk, dan sering mengeluh sakit,” ungkapnya.

Dia sebenarnya telah bertanya langsung pada NF tentang apa yang terjadi.  " Selama ini korban saat ditanya selalu bungkam ketakutan. Namun, saat ditanyai oleh pak kades, adik saya menjawab dan menyebutkan pelakunya adalah nama salah satu yang diduga guru di sekolahnya," tuturnya.

Tentu karena merasa dirugikan, maka keluarga laporkan kasus pelecehan ke polisi. Diharapkan masalahnya bisa cepat diselesaikan, dan pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya. " Sudah kami laporkan ke kepolisian bersama keluarga didampingi pak kades," pungkasnya.

Kepala Bagian Humas RSUD dr Iskak Tulungagung Moch. Rifai mengatakan, korban NF mengalami kondisi tekanan psikologis yang parah. RSUD masih perlu pemeriksaan dan mencari pendamping untuk pasiennya itu. " Secara kesehatan sudah berangsur membaik, akan tetapi secara psikologis korban NF mengalami tekanan yang parah, sehingga harus ada pendamping untuk pemulihannya," ungkapnya.  

Dilain pihak Kepala Desa Betak, Catur Subagyo ketika dikonfirmasi setelah pemeriksaan di Polres Tulungagung membenarkan salah satu warganya mengalami pelecehan seksual. “ Korban NF pulang dari salah satu pondok di Kecamatan Ngunut pada Minggu(7/8), pada hari Senin korban tidak keluar, dan pada Selasa korban mengeluh tidak bisa buang air besar dan air kecil. Akhirnya korban dibawa ke puskesmas oleh pihak keluarga, namun pihak puskesmas tidak bisa menangani dan dirujuk ke RSUD dr Iskak,” jelasnya.

Dia menambahkan, setelah dilakukan pemeriksaan, pihak RSUD sudah menyarankan melaporkan kepada pihak yang berwajib, karena kemungkinan terjadi tindakan asusila. “ Sebelum hasil visum keluar kami sudah melaporkan dan setelah hasil visum keluar kami melaporkan lagi,” ungkapnya.

Dari hasil visum, ada beberapa kemungkinan yang dapat dijadikan alasan untuk menuntut, lanjut Catur, agar pelaku bisa mempertanggung jawabkannya perbuatan yang telah dilakukan. “ Saya harap pelaku diberi hukuman yang berat, sebagai pemerintah desa dengan adanya masalah seperti ini saya harus bisa memproteksi generasi saya sejak sekarang dan seterusnya. Jika dibiarkan apa yang akan terjadi kedepannya, apalagi ini terjadi di pondok yang seharusnya melebihi tempat pendidikan lain,” tuturnya.

Ditanya masalah pengakuan korban tentang pelaku, Catur menyatakan, sudah mengetahuinya namun pilih bungkam.  Karena masih dalam proses penyelidikan.

Kasubag Humas Polres Tulungagung AKP Saeroji membenarkan, adanya laporan tentang tindak pelecehan seksual dengan korban di bawah umur  berinisial NF yang terjadi di sebuah ponpes di Kecamatan Ngunut. “ Saat ini masih dalam proses pemeriksaan orang tua,” ucapnya.

Di tempat terpisah salah satu pengurus ponpes yang tidak mau disebutkan namanya mengaku bahwa NF adalah salah satu santri di pondoknya. Untuk masalah pencabulan pihaknya tidak dapat berkomentar banyak, karena itu bukan kewenangannya. “ Para pengasuh sudah melakukan ijtima (mengumpulkan orang), dengan tujuan   membahas permasalahan tersebut dari jauh-jauh hari, dan yang terindikasi sudah dipanggil pihak pengasuh,” terangnya.

Dia menambahkan, sudah siap jika harus menempuh jalur hukum. Selain itu juga sudah mengutus pengurus pondok untuk menjenguk korban.(hki/din)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia