Jumat, 19 Jan 2018
radartulungagung
UMKM
Atur Keuangan Jelang Puasa dan Lebaran

Rencanakan Pengeluaran Sejak Awal

Rabu, 18 May 2016 10:06

Rencanakan Pengeluaran Sejak Awal

Rencanakan Pengeluaran Sejak Awal (ilustrasi/JawaPos.com)

BLITAR - Tidak terasa, kurang dari sebulan umat Islam sudah kembali pada bulan suci Ramadhan. Biasanya, saat puasa dan Lebaran, pengeluaran akan membuncit dibandingkan bulan lainnya. Oleh sebab itu, untuk mempersiapkannya bisa dengan merencanakan keuangan sebulan bahkan dua bulan sebelumnya. Sehingga, usai Lebaran tidak mengalami bokek. 

Daftar pengeluaran rumah tangga selama puasa dan Lebaran bisa berderet-deret. Mulai dari anggaran belanja rumah tangga, membeli perabotan rumah, pengecatan, hingga renovasi rumah. Lalu, persiapan tiket pulang kampung, servis kendaraan, kue Lebaran, ataupun baju baru untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. 

Biasanya, sokongan dari perusahaan dengan cairnya tunjangan hari raya (THR) sangat membantu. Tetapi, tidak jarang masih saja ada yang merasa kurang, karena kesalahan dalam merencanakan keuangan.

“Padahal kalau dihitung-hitung, gaji plus THR jumlahnya kan dua kali penghasilan bulanan. Hanya saja, biasanya, pengeluaran selama puasa dan Lebaran itu bisa hingga lima kali lipat pengeluaran normal. Jadi harus benar-benar bijak menggunakan uang,” kata Supriono, salah satu pengamat ekonomi di Blitar. 

Adapun beberapa tips mengatur keuangan agar kondisi financial tetap sehat selama puasa dan Lebaran, bisa menjadi tambahan wawasan bagi Anda.

“Kuncinya sebenarnya pengendalian diri. Seringkali kan kita dengar, berapapun penghasilan Anda akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi akan kurang jika menuruti gaya hidup,” imbuh pria berkumis ini. 

Jadi, tips pertama yakni menahan diri. Momen lebaran biasanya jadi ajang silaturahmi dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga. Namun Anda tak perlu memaksakan diri membeli baju yang mewah, membeli barang elektronik baru, dan membawa oleh-oleh yang mahal.

“Pola hidup konsumtif dan menghamburkan uang tersebut bisa jadi bumerang. Jadi, harus lebih selektif dan melihat kemampuan keuangan,” lanjut pria murah senyum ini. 

Oleh sebab itu, sangat penting untuk membuat anggaran pengeluaran. Yakni, menghitung anggaran pengeluaran secara rinci perlu Anda lakukan. Hal ini bisa mengurangi risiko bokek alias uang habis setelah Lebaran.

Perlu bagi Anda, untuk membuat catatan sederhana mengenai dana yang dimiliki dan pengeluaran selama puasa dan Lebaran. Perencanaan ini bisa Anda lakukan jauh-jauh hari misalnya sebulan sebelum puasa.

“Catat dana yang Anda miliki misalnya gaji ditambah THR. Tambahkan juga misalnya tabungan yang memang sudah Anda persiapkan untuk Lebaran dan mudik,” jelasnya. 

Setelah dana yang Anda miliki jelas, tuliskan rencana pengeluaran. Misalnya mulai dari anggaran belanja sepanjang puasa apakah Anda akan sering jajan berbuka di luar atau Anda bisa memasak sendiri untuk berhemat.

Kemudian jika Anda berencana mudik, catat biaya tiket atau bensin kendaraan. Catat juga misalnya dana untuk menginap di hotel bila memang diperlukan. Biaya makan selama di perjalanan juga perlu Anda catat, karena jumlahnya biasanya cukup banyak.

Setelah dana terpenting seperti biaya mudik Anda catat, baru masuk ke dana berikutnya seperti uang untuk membeli baju baru, kue, dan oleh-oleh. Bila dananya terbatas, mungkin Anda bisa menghilangkan salah satunya.

Misalnya saja karena Anda mudik, Anda tak perlu membeli kue untuk di rumah. Seandainya Anda memang ingin membeli kue, batasi jumlahnya.

Pencatatan pengeluaran yang rinci bisa membantu Anda untuk menghindari uang cepat habis untuk keperluan lebaran. Usahakan juga masih ada dana sisa atau dana cadangan dari total dana yang Anda punya. Semisal ada kerusakan mobil di tengah perjalanan mudik, Anda bisa menggunakan dana cadangan tersebut.

Selama puasa dan Lebaran, sebaiknya Anda menghindari utang. Meskipun keperluan dan biaya membengkak, sebaiknya sangat dihindari untuk berutang. Seandainya dana Anda memang terbatas, lanjut Supri, sebaiknya Anda rela memangkas dana yang nilainya besar.

Misalnya saja Anda menunda mudik sampai tahun depan daripada harus berutang untuk membiayai mudik.

“Bila Anda menggunakan dana mudik dengan utang apalagi menggunakan kartu kredit, hal tersebut justru akan menimbulkan masalah baru bagi keuangan keluarga Anda apabila tidak ada alokasi uang untuk membayar utang tersebut sebelumnya,” tandas Supri. (dha)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia