Selasa, 24 Apr 2018
radarsurabaya
icon featured
Gresik
Mengenal Tok-Tok, Tradisi Aduan Sapi

Tak Ada Taruhan, untuk Hiburan Meski tak Jarang Menimbulkan Korban Luk

Selasa, 17 Apr 2018 09:52 | editor : Aries Wahyudianto

Dua ekor sapi saling beradu, butuh kepiawaian pawing agar sapi satu dengan yang lain disulut amarah.

Tontonan Massal : Dua ekor sapi saling beradu, butuh kepiawaian pawing agar sapi satu dengan yang lain disulut amarah. (Dok/Radar Gresik)

Thok Thok, sebuah pagelaran adu sapi yang diklaim menjadi tradisi turun-temurun Masyarakat Boyan Pulau Bawean. Arena aduan menjadi ajang untuk mempertaruhkan harga diri si empunya dan sapi itu sendiri.

Abdul Basith/Wartawan Radar Bawean

Kerumuman manusia tiba-tiba lari berhamburan. Mereka menghindari sapi yang yang mengamuk setelah kalah kalah bertanding. Awalnya, ada dua ekor sapi dengan postur tubuh yang hampir sama ditempatkan di sebuah lapangan yang cukup luas. Disekelilingnya ada penonton yang datang dari seluruh penjuru Pulau Bawean. Pojok timur dan pojok barat sapi tersebut ditempatkan layaknya petinju profesional. Diiringi tepuk tangan yang sangat meriah, sapi tersebut diadukan oleh seorang pawang yang diberi tugas untuk mengawasi pertandingan. Saling melirik dan menatap tajam adalah awal dari pergelutan. Bila tidak menatap tajam mereka sulit untuk beradu, mereka akan tampak berbincang-bincang. Di sinilah tugas dari pawang, membuat sapi jantan tersebut saling menatap tajam untuk memulai aduan Thok Thok. Istilah ini menirukan

bunyi gesekan tanduk.

Setiap sapi memiliki strategi yang berbeda. Sapi bermental juara adalah sapi yang memiliki banyak strategi untuk menjatuhkan lawan. Kaburnya sapi yang kalahpun menjadi cerita tersendiri, terkadang sapi kabur berlari cepat ke arah penonton, menambrak apapun yang menghalanginya. Tak jarang pertandingan Thok Thok menimbulkan korban luka karena penonton diseruduk sapi besar bertanduk jumbo.

Tak jarang pula di arena pertandingan sapi harus disembelih karena luka yang diderita cukup parah, kemudian daging sapi dibagikan kepada penonton dan sebagian lagi dibawa si empunya untuk dibagikan di dusunnya.  Setiap pemilik sapi adu akan menyumbang hingga terkumpul dana sebanyak harga dari sapi tersebut. Lagi-lagi kebersamaan terlihat kental, tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Satu hal lagi yang patut diacungi jempol dalam adu sapi ini tidak ada taruhan semua semata-mata adalah untuk ajang hiburan, ajang menaikkan harga sapi, dan yang terpenting adalah ajang silaturahmi pemilik sapi adu. (*/rtn)

(sb/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia