Kamis, 26 Apr 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Ignasius Jonan: Energi Itu Modal Pembangunan, Bukan Komoditas Semata

Jumat, 13 Apr 2018 18:51 | editor : Abdul Rozack

ARAHAN: Menteri ESDM Ignatius Jonan memberikan sambutan disela sela pembukaan workshop launching Badan Layanan Umum PPSDM KEBTKE di Ballroom Hotel She

ARAHAN: Menteri ESDM Ignatius Jonan memberikan sambutan disela sela pembukaan workshop launching Badan Layanan Umum PPSDM KEBTKE di Ballroom Hotel Sheraton, Surabaya, Kamis (12/4). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Energi merupakan modal dasar pembangunan nasional. Energi dalam segala bentuknya, bukan semata-mata komoditas yang bernilai ekonomis. Oleh karena itu, pemanfaatan energi harus memenuhi aspek keadilan rakyat. 

Penegasan tersebut seperti diungkapkan Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Energi (ESDM), saat memberikan kuliah umum di Universitas Airlangga Surabaya (Unair) bertema  “Energi Berkeadilan untuk Kesejahteraan Rakyat, Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Berkelanjutan”, Kamis (12/4). 

Kuliah umum ini diadakan di aula K.R.T. Fadjar Notonagoro yang dihadiri oleh sekitar 1.000 civitas akademika Unair termasuk para dosen, alumni, dan mahasiswa. Sebelum emmberikan kuliah umum, Jonan memberikan sambutan disela sela pembukaan workshop launching Badan Layanan Umum PPSDM KEBTKE di ballroom Hotel Sheraton, Surabaya pada hari yang sama.

Menurut Jonan, untuk memenuhi aspek keadilan rakyat ini, penggunaan energi harus berkorelasi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Dalam paparannya, Jonan mengatakan pemberlakuan satu harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah bentuk kebijakan pemerintah di bidang energi yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.

“Pada tahun lalu, pemerintah telah memberlakukan satu harga BBM di 57 kecamatan. Untuk tahun ini, pemerintah akan memberlakukan satu harga BBM di 73 titik dan pada 2019 sebanyak 20 titik. Inilah salah satu bentuk kebijakan pemerintah untuk mewujudkan keadilan di bidang energi," papar Jonan.

Jonan mengatakan, bahwa saat ini pemerintah masih tetap berkomitmen untuk mengembangkan energi terbarukan. Karena energi terbarukan sangat dibutuhkan untuk delapan tahun kedepan, agar kebutuhan energi listrik dan trasportasi tetap berjalan dengan baik.

“Pemerintah tetap berkomitmet pada dua hal ini, saat ini masih kurang sekali. Untuk kelistrikan sendiri masih 12-13 persen, sedangkan untuk transportasi masih 10-11 persen. Nah, ini kan kurang sekali,” ungkap Jonan.

Mengenai hal tersebut Jonan menyampaikan, dirinya berupaya akan membuat inovasi-inovasi baru untuk membangun pembangkit listrik yang menggunakan energi baru terbarukan. Sedangkan dari segi transportasi, pemerintah mengupayakan dengan adanya bio solar.  Dalam skala nasional saat ini masih sangat kekurangan sumber daya energi baru. 

“Nanti kedepannya kita juga bekerja sama dengan industri mobil industri transportasi. Secara bertahap kita melakukannya," jelas mantan Menteri Perhubungan tersebut.

Ia juga mengatakan kalau bahan bakar kereta api nantinya juga akan menggunakan bio solar yang dicampur dengan minyak kelapa sawit pada 1 Mei 2018 mendatang. (gin/cin/hen)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia