Kamis, 26 Apr 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Akhmad Munir, Ketua PWI Jatim

Wartawan Harus Banyak Belajar dan Membaca

Selasa, 10 Apr 2018 13:10 | editor : Wijayanto

Ketua PWI Jatim Akhmad Munir

Ketua PWI Jatim Akhmad Munir (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Siapa yang mau jadi wartawan. Kerja tidak mengenal waktu. Tapi, profesi ini menjadi pilihan Akhmad Munir. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim tersebut memulai karir jurnalistiknya dari kontributor hingga sekarang menjabat sebagai Pemimpin Pelaksana Redaksi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Berikut petikan wawancara wartawan Radar Surabaya, Baehaqi Almutoif dengan pria alumni FISIP Universitas Jember yang juga menjabat Exco PSSI Jawa Timur  yang gemar kulineran itu.
 
Bagaimana awal mula Bapak memilih jalan di dunia jurnalistik?
Saya mulai mahasiswa sudah aktif menulis. Jadi ceritanya, saya sudah ditinggal bapak saya meninggal sejak SMA kelas satu. Kemudian ibu saya mulai semester delapan sudah tidak kuat membiayai. Akhirnya mau tidak mau saya harus memanfaatkan anugerah yang diberi keterampilan oleh Allah. Yaitu menulis. Akhirnya saya menulis coba-coba di media massa. Yakni di kolom mahasiswa, di Jawa Pos, Surya, Surabaya Post.
Tiap hari saya menulis, tapi tidak tiap hari dimuat. Biasanya seminggu dua kali atau seminggu satu kali. Dan dari situ saya dapat honor. Di Jawa Pos kalo nggak salah dulu Rp 25 ribu, lalu di Surya Rp 35 ribu setiap kali pemuatan. Aktivitas itu terus saya lakukan sampai lulus, dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember.
Saya lulus tahun 1992. Terus setelah itu langsung melamar di LKBN Antara, dan Alhamdulillah diterima sebagai kontributor di Madura. Itu tahun 1997. Sempat bertugas keliling di Jatim, dari mulai Surabaya, Jember, karir saya mulai terlihat gemilang. Setelah lima tahun menjadi kontributor, barulah saya diangkat jadi wartawan tetap LKBN Antara Biro Jatim.
 
Apakah itu sudah menjadi cita-cita Bapak?
Tidak. Sebelum di LKBN Antara, saya sempat punya keinginan sebelum jadi wartawan bercita-cita jadi humas perusahaan multinasional. Sempat juga beberapa kali ikut tes ujian untuk meraih cita-cita tersebut, tapi bukan jodohnya. Ya jatuhnya akhirnya di Antara ini. Sampai saya diangkat menjadi organik selama 25 tahun.
Saya tidak tahu, saya merasa nyaman dengan LKBN Antara. Saya merasanya cocok dengan cara kerjanya. Ada rasa kebanggaan sendiri waktu itu, karena sebagai kantor berita nasional memiliki jaringan sangat luas. Bahkan jaringannya hingga internasional. Akhirnya tidak ada lagi kepikiran untuk kerja di tempat lain.
 
Ditempatkan di mana ketika Bapak pertama kali jadi wartawan?
Sewaktu jadi wartawan, saya banyak ngepos di olahraga dan hukum. Di olahraganya, ya ada Persebaya, KONI. Lalu untuk hukumnya ada di pengadilan negeri (PN) dan kejaksaan. Sempat juga ketambahan liputan di Sidoarjo tahun 1998. Terus berlanjut sampai tahun 2008.

Berkarir di media selama 20 tahun bukan waktu yang singkat. Apa saja suka dukanya?
Kebetulan saya, kalau sukanya adalah punya banyak teman bergaul. Saya bisa berteman dari semua lapisan, mulai dari paling bawah sampai paling atas. Selain itu, saya mendapat banyak informasi dan mendengar suara-suara dari semua kalangan masyarakat. Itu kalau sukanya.
Dukanya, ya ketika merasa waktunya libur tapi tidak libur. Namun itu sudah jadi risiko, bagian dari itu menjadi hilang ketika bersamaan dengan ultimatumnya seorang wartawan yang harus siap setiap saat. Jadi di saat kumpul sama keluarga, moro-moro disuruh meliput atau tiba-tiba disuruh datang ada sebuah acara. Tapi, ya karena jiwanya wartawan, harus saya lakukan. Sebab itu bagian atau risiko pekerjaan wartawan harus siap bertugas 24 jam.

Apa rahasia Bapak bisa meraih sukses?
Pertama memang dunia wartawan kita harus banyak belajar dan membaca. Saya banyak mendengar, harus banyak bergaul, terus menguasai tangung jawab posnya masing-masing. Misalkan kalau liputannya di ekonomi, ya harus menguasai ilmu dan isu bidang ekonomi. Begitu juga dengan pos olahraga, harus menguasai semua seluk beluk olahraga. Kalau hukum sama, harus kuasai semua tentang hukum.
Sehingga lantas lebih kaya dan variatif. Kemudian bisa menampilkan pandangan-pandangan yang lebih berwawasan lagi. Jadi tidak dangkal dalam menyajikan berita. Tapi juga mendalam. Itu kunci suksesnya wartawan, selain memang harus update dalam informasi terhadap isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Untuk jadi wartawan, agak sulit memang. Di media mana pun ketika merekrut wartawan, misalkan dari 30 orang yang jadi hanya 10 orang, 7 orang yang tetap berlanjut. Itu karena memang sulit untuk bertahan dari cara pola kerja yang selalu di bawah tekanan, dan tidak kenal waktu serta cenderung membawa ke sikap yang depresi. Sehingga seringkali jadi wartawan itu sulit ketika gagal melakukan adaptasi. Psikologis tertekan dengan beban kerja yang berat.
Belum lagi ditambah dengan yang terakhir faktor ekonomi. Karena wartawan gajinya kecil, tidak bisa seperti perusahaan multinasional yang memberikan penghasilan besar. Rata-rata pemasukan wartawan relatif rendah di Indonesia, tapi umumnya sudah UMK (upah minimum kabupaten/kota).
Namun kebanyakan wartawan baru lebih memilih mendingan cari pekerjaan lain. Makanya untuk jadi wartawan harus punya modal idiologi. Wartawan harus punya idiologi, yaitu orang yang terpanggil jiwanya untuk berbakti kepada publik.
Ini yang bertahan walaupun gajinya kecil, meskipun dalam pekerjaan memiliki tekanan tinggi, beban kerja berat hingga berimbas pada psikologis. Harus tergerak mengabdi kepada masyarakat melalui keahlian dan keterampilan menulis. Nah, ini makanya banyak wartawan muda, enerjik selalu hadir di setiap liputan. Di liputan langsung dia enjoy karena terpanggil. Lha itu dia yang membuat wartawan bisa mumpuni.
 
Bapak melihat dunia jurnalistik sekarang seperti apa?
Dibandingkan zaman saya, wartawan dengan teknologi yang masih peralihan atau transisi meskipun sudah ada web dan internet, tapi belum ada smartphone. Wartawan waktu itu masih memiliki keinginan yang besar untuk selalu hadir dalam setiap peristiwa di TKP (tempat kejadian perkara). Jadi ketika tidak ke TKP itu belum pas untuk menulis, begitu juga dengan mengambil gambar. Namun sekarang dengan kemajuan teknologi justru membuat budaya copy paste merajalela.
Wartawan sudah jarang yang ke TKP karena sudah punya gambar dari berkirim lewat smartphone. Ini membuat wartawan sekarang ini cenderung instan dalam mencari dan mengolah informasi. Karena kemajuan teknologi, mencarinya ya ada yang paling malas tinggal melakukan copy paste, paling setengah malas minta data lalu mengolahnya sendiri. Yang agak rajin itu datang ke TKP, tapi ya hanya satu titik.
Padahal kalau dulu bagaimana bisa mencakup semua aspek ketika ada satu titik peristiwa. Satu kejadian bisa dipandang dari sudut pandang apapun. Misalkan kebakaran. Kebakarannya oke, tapi ada sudut lainnya. Mungkin ada korban yang meninggal, kita wawancarai keluarganya. Atau ada yang sudut pandang lain, seperti ada harta yang ikut terbakar. Kalau dulu itu pengamatannya lebih luas dan lebih selidik. Banyak yang bisa kita tulis.
Saya melihat jiwa atau patron wartawan itu agak berubah dan bergeser, tidak sejeli serta semilitan dulu.  Kekritisan wartawan sekarang sudah berkurang dibandingkan dengan wartawan dulu.
Para wartawan sekarang itu tidak masuk ke dalam jiwa peristiwa itu. Ketika wartawan itu masuk ke jiwa peristiwa, dia akan menginspirasi ide. Mau diapakan peristiwa itu, terserah sang jurnalis. Karena itu tulisan-tulisan wartawan yang dulu dengan yang sekarang paling terasa adalah tingkat kedalamannya, tingkat kekayaan serta variasi kontennya. Dan yang terakhir mungkin kekritisannya.
Makanya saya meminta yang paling utama masuklah ke peristiwa atau kasus atau liputan itu. Dengan begitu, dia bisa membuka inspirasi ide-ide bagi si wartawan.
 
Itukah juga cara melawan berita hoax yang saat ini merajalela?
Ya. Justru dengan itu hoax akan terjawab. Saat wartawan betul-betul masuk dan menjiwai satu kasus yang diliput atau peristiwa yang diliput, kebenaran sebuah peristiwa dapat terjawab. Jadi tidak sekadar katanya dan katanya. Dia harus masuk sendiri. Dia harus dapat informasi yang betul-betul akurat. Betul-betul terus konfirmasi.
Ini yang membuat tulisan Anda akan berkualitas. Ini yang jarang sekarang terlihat. Begitu juga dengan media. Ada yang masih konsisten, tapi sangat jarang mempertahankan akan hal tersebut.
Tapi saya melihat ada satu peralihan di media setelah pesatnya teknologi. Yaitu pembaca sekarang cenderung lebih memilih berita yang bombastis dan berbau agak porno. Mereka, para pembaca sudah tidak lagi melihat berita yang berkedalaman. Tapi tidak semua seperti itu. Ada media dan pembacanya tetap mempertahankan ciri khas yang mendalam. Yang jenis ini memang berkualitas serta beda.
Makanya jadi wartawan itu harus memiliki idiologi. Dia juga harus memiliki hak untuk memilih media. Memilih media, misalkan, contoh, seorang yang punya idiologi, pemikiran yang cenderung ke Islam maka Anda tidak cocok kerja di Kompas, tapi Anda kerja di Republika. Tapi ada kalanya wartawan senang kriminal, senang dengan motret keroyokan, ya cocok kerja di Memorandum.
 
Sebagai ketua PWI Jatim, seperti apa ke depannya organisasi wartawan ini?
Saya kira PWI organisasi yang besar dan tua. Anggotanya luar biasa, mempunyai jaringan yang luar biasa besarnya. Programnya juga bagus, seperti sertifikasi wartawan. Kemudian pendidikan serta pelatihan yang terkait profesionalitas wartawan.
Oleh karenanya sebagai organisasi professi yang besar, PWI harus dipimpin serta dikendalikan secara profesional juga. Ini bahaya ketika orang yang memegang tidak memiliki kecakapan yang mumpuni, organisasi tersebut bisa kehilangan jati dirinya, kehilangan marwahnya. Makanya saya wanti-wanti siapa pun pengganti saya, jangan sampai jatuh kepada orang yang saya sebutkan itu tadi. Dari orang yang tidak konsisten, tidak profesional.
Namun sebaliknya kalau dipilih oleh orang yang profesional, akan menjadi organisasi yang dihormati dan disegani oleh para stakeholder berbagai sektor. Program PWI pun jalan terus. (*/opi)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia