Minggu, 25 Feb 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik
Jelang Valentine’s Day

Meski Dilarang, Produsen Coklat Banjir Orderan

Rabu, 14 Feb 2018 09:08 | editor : Aries Wahyudianto

Anggi (kiri) saat melihat coklat buatan Rima untuk merealisasikan ungkapannya dalam bentuk coklat.

BANJIR PESANAN: Anggi (kiri) saat melihat coklat buatan Rima untuk merealisasikan ungkapannya dalam bentuk coklat. (Esti/Radar Gresik)

Meskipun Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik telah mengeluarkan larangan. Tampaknya, masyarakat tetap antusias menyambut perayaan valentine’s day.

TERBUKTI,  para produsen coklat di Kabupaten Gresik mengaku ordernya meningkat hingga 40 persen menjelang perayaan valentine’s day yang jatuh pada 14 Februari atau hari ini.  “Ternyata masih banyak  peminat dalam  merayakan valentine day,  dan puncak pengiriman memang jatuh pada13 dan 14 Februari,” terang Rima Lachida, salah satu produsen coklat di Giri.

Rima menyebutkan, konsumennya didominasi oleh pelajar. “Ia memang konsumen paling banyak berasal dari kalangan pelajar,” kata dia.

Menurut dia, orderannya memang membudak ketika mendekati Valentin. Bahkan, ia sudah melakukan daftar pemesanan semenjak satu bulan sebelumnya. Biasanya ia bisa memproduksi coklat  ukuran sedang dengan jumlah rata-rata 15 model. “Tapi semenjak Januari, setiap minggu bisa memproduksi rata-rata 50 model coklat custome,” sebut pemilik Coklat Ritama ini.

Dikatakan, keuntungan berlipat ganda ini tak merubah harga dari per unit coklat. Hanya saja, ia terpaksa meminta pelanggan lebih awal memesan coklat untuk mendapatkan produk sesuai waktu yang diinginkan. Bahkan dirinya bisa menambah pegawai untuk menyeimbangi orderan yang masuk “Hampir 30 persen konsumen, memilih dikirim tepat pada hari valentine,” sebutnya.

Bentuk coklat yang dipesan konsumen juga semakin berkembang. Mereka lebih banyak memilih kalimat panjang yang dirangkai dari coklat, sehingga bisa menjadi ungkapan tersendiri. Bahkan ada varian rasa seperti coklat pedas dan rasa kopi. “Jadi memang moment ini menjadi produksi besar, untuk cokelat handmade,” ungkapnya.

Di tempat lain, Anisa Jihan, juga memproduksi coklat mini untuk keperluan souvenir dan hadiah. Iapun mengalami lonjakan pesanan hingga 30 persen. Uniknya,ia banyak mendapat pesanan coklat dari konsuemn yang berasal dari Gresik. “Meski begitu, banyak juga konsumen yang berasal dari luar daerag, seperti Sidoarjo dan Lamongan,” sebutnya.

Sementara itu,  Anggina Wijaya, 22, salah satu konsumen mengatakan dirinya memang memesan cokelat handmade untuk keperluan memberi hadiah. Ia memilih kalimat sedang, untuk ukuran coklat seukuran 40x50 centimeter. Menurutnya, coklat model itu bisa membuatnya lebih leluasa mengungkapkan suatu hal. “Jadi unik sih, bisa mengungapkan perasaan dari coklat,” imbuh perempuan asal kemasan ini. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia