Sabtu, 24 Feb 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Didesain Menyerupai Tetesan Air

Struktur Aerodinamis Nogogeni dan Sapuangin ITS

Selasa, 13 Feb 2018 13:13 | editor : Wijayanto

TEST DRIVE: Mobil tim Sapuangin ITS Surabaya, saat melakukan test drive di halaman rektorat ITS Surabaya, Senin (12/2). Tim tersebut akan mengikuti Shell Eco Marathon (SEM) Asia yang akan digelar di Singapura pada Maret mendatang.

TEST DRIVE: Mobil tim Sapuangin ITS Surabaya, saat melakukan test drive di halaman rektorat ITS Surabaya, Senin (12/2). Tim tersebut akan mengikuti Shell Eco Marathon (SEM) Asia yang akan digelar di Singapura pada Maret mendatang. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh November tidak pernah berhenti menelurkan karya-karya terbaiknya. Salah satu yang terbaru adalah dua mobil hemat energi yang diberi nama Sapuangin XI Evo 2 dan Nogogeni V yang siap bertanding dalam ajang Shell Eco Marathon(SEM)  Asia di Changi Exhibition Singapura 8-11 Maret 2018 mendatang. 
Yang unik dari kedua mobil ini adalah bentuknya yang menyerupai tetesan air. Hal ini bukan tanpa alasan. Disampaikan oleh Muhammad Aditya, Manager Nogogeni ITS Team, Body mobil yang menyerupai tetesan air adalah bentuk yang paling aerodinamis dibanding dengan yang lain.
“Kita buat mobil agak cembung juga belakangnya kita pertipis,” kata Muhammad Aditya, Senin (12/2).
Nogogeni merupakan mobil kelas urban Electrik kategori battery elektrik. Dimana memanfaatkan tenaga listrik sebagai dayanya. Aditya, menambahkan, mobil ini merupakan memiliki daya listrik 48 Volt 10 A/h dengan kecepatan rata-rata 38 km/jam. Nogogeni mulai dirancang setahun yang lalu  sejak Maret 2017 dan selesai di November 2017.
Dedi Zulhidayat Nur, Pembina Tim Nogogeni menjelaskan, tantangan yang dihadapi dari mobil listrik ini adalah rawan trouble. Yang harus diwaspadai lagi adalah ketika pengiriman agar mobil tidak mengalami kerusakan.
“Yang paling rawan adalah saat shipping dimana di kapal kadang sering di bongkar pasang. Padahal mobil listrik ini kabel dirubah sedikit saja. Performa bisa berubah. Jadi sesampai disana kami harus periksa ulang” jelasnya.
Sementara Sapuangin XI Evo 2  merupakan mobil kelas urban gasoline kategori interal combustion engine(ICE). Ade Djienaka Pratama, dribver dan divisi Engine drive train dari Sapuangin team menjelaskan, Sapuangin berfokus pada efisiensi dan bahan bakar yang seminimal mungkin yang digunakan untuk melaju. Target yang ingin dicapai untuk mobil Sapuangin ini adalah 600 km/liter.
“Dalam simulasi yang kami lakukan kemarin, kami sudah melampaui target itu,” terangnya. 
Ade menjelaskan, Sapuangin keluaran 2018 ini berbeda dengan tahun lalu dimana saat itu masih menggunakan bahan bakar disel yang berat. saat ini bahan bakar dirubah menjadi bensin dengan engine yang mutakhir dengan kecepatan maksimal 70 km/jam. Dibutuhkan waktu selama tiga sampai empat bulan untuk menghasilkan mobil aerodinamis ini.
Untuk kendala yang di hadapi, Ade menambahkan dibutuhkan beberapa waktu agar engine bertenaga maksimal. Namun yang menjadi permasalahan, dalam perlombaan besok, mobil tidak bisa dipanasi dahulu sebelum perlombaan. Sehingga ia dan tim, harus mencari cara alternatif untuk  mencapai suhu tersebut.
Sapuangin XI Evo 2 dan Nogogeni V telah melakukan final training dan simulasi total untuk melakukan validasi kesiapan kedua mobil tersebut untuk maju di laga maret mendatang. Sebanyak 9 anggota tim dari total 25 orang akan berlaga dalam pertandingan bergengsi taunan Maret nanti.(is/rud)

UJI COBA: Mobil tim Nogogeni ITS Surabaya, saat melakukan uji coba di halaman rektorat ITS Surabaya, Senin (12/2).

UJI COBA: Mobil tim Nogogeni ITS Surabaya, saat melakukan uji coba di halaman rektorat ITS Surabaya, Senin (12/2). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia