Sabtu, 24 Feb 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Ayo Inklusif, Ajak Perusahaan Pekerjakan Kaum Difabel

Selasa, 13 Feb 2018 13:20 | editor : Abdul Rozack

Uswatun, seorang ibu dua anak penyandang tuna rungu bekerja sebagai karyawan disalah satu pabrik di Jalan Tanjungsari, Sukomanunggal, Surabaya. Senin,

Uswatun, seorang ibu dua anak penyandang tuna rungu bekerja sebagai karyawan disalah satu pabrik di Jalan Tanjungsari, Sukomanunggal, Surabaya. Senin, (12/2). (Ginanjar Elyas Saputra/Radar Suarabaya)

SURABAYA-Kaum difabel selama ini memang sedikit tersisih di masyarakat, baik itu terkait fasilitas umum hingga lapangan pekerjaan. Masih banyak dari mereka yang tidak bisa mendapatkan hak layaknya orang normal, padahal kaum difabel pun sebenarnya mampu meskipun memiliki kekurangan.

Dari latar belakang tersebut, sekaligus untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyandang disabilitas, Jawa Post Institute of Pro-Otonomi (JPIP), Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya dan Christoffel Blindenmission (CBM) bekerja sama dalam kegiatan study visit ke perusahaan yang inklusi terhadap penyandang disabilitas. Dalam kegiatan Ayo Inklusif juga turut menyadarkan masyarakat akan kepedulian hak penyadang disabilitas di dunia kerja.

Perusahaan yang dikunjungi adalah salah satu perusahaan sepatu di kawasan Sukomanunggal, Surabaya. Sekitar 84 penyandang disabilitas bekerja di sana. Terdapat 69 pekerja tuna rungu, 15 tuna daksa, dan 1 tuna grahita. Perusahaan yang bergerak di produksi sepatu ini sangat mempedulikan hak para penyandang disabilitas. 

D Suryanto HRD Manager PT Wangta Agung tempat para difabel itu bekerja menuturkan, pekerja disabilitas diperhatikan dengan baik seperti halnya pekerja yang memiliki fisik normal. 

“Dari kebijakan perusahaan, rekrutment untuk penyandang disabilitas hingga saat ini masih berlangsung, jadi ini suatu kesempatan bagi rekan-rekan penyandang disabilitas di Surabaya maupun Jawa Timur,” ungkapnya, Senin (12/2). 

Salah satu pekerja penyandang disabilitas Usawatun, 31, menuturkan,  dirinya telah bekerja di pabrik itu selama tujuh tahun. Penyandang tuna rungu itu mengaku senang mendapat pekerjaan meskipun sebagai penyandang disabilitas. 

Suryanto menambahkan, dari segi kualitas pekerja, penyandang disabilitas tidak kalah baiknya dari segi kreativitas dan keuletan. Maka dari itu PT Wangta Agung menyamaratakan dan memberikan fasilitas yang sama dengan pekerja lainnya. (gin/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia