Sabtu, 24 Feb 2018
radarsurabaya
icon featured
Gresik
Infrastruktur

Batu Bata Kapur Impor dari Jawa

Selasa, 13 Feb 2018 09:59 | editor : Aries Wahyudianto

Proses pengangkutan batu bata melibatkan kaum wanita

Impor : Proses pengangkutan batu bata melibatkan kaum wanita (Dok/Radar Gresik)

Bangunan kontruksi rumah warga Bawean yang umum menggunakan batu bata merah yang terbuat dari tanah lalu dibakarnya. Ternyata warga Dedawang, desa Telukjatidawang, kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik, membangun rumah memakai batu bata putih terbuat dari kapur. Padahal, mereka harus impor batu bata putih dari Jawa dengan biaya yang cukup tinggi.

Nur Hayati mengatakan alasannya memakai batu bata putih lebih kuat daripada memakai batu bata biasa dari tanah liat. “Bata putih dibanding bata biasa karena letaknya rumah dipinggir pesisir, sehingga kuat bila terkena air laut,"jawab

Harga batu bata putih per 1000 mencapai Rp 1,5juta, bahkan bata biasa cuman ratusan ribu, tetapi bila dipakai akan terkelupas dan pecah-pecah.

Untuk mendatangkan batu bata putih ke Pulau Bawean, Nur Hayati membeli di Tuban kemudian diangkut dengan perahu. Jumlah itu lebih tinggi sehingga tidak kuatir dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Menurut dia, harga kapur di Pulau Bawean sangat murah, tentunya bila diproduksi sebagai batu bata putih akan lebih berharga, serta dapat meningkatkan perekonomian warga. 

Adapun produksi kapur yang masih aktif sampai sekarang di dusun Taubat desa Sungairujing. Harga jualnya sangat murah sehubungan peminatnya sangat kecil. (bst/han)

(sb/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia