Minggu, 25 Feb 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya
Komunitas Doodle Art Gresik (DAG)

Ekspresikan Stres dengan Karya Seni

Selasa, 13 Feb 2018 07:05 | editor : Abdul Rozack

BEeKERerJAa SAaMAa: Aanggota Komunitas Doodle Aart Gresik (DAaG) rutin mengadakan pertemuan untuk membahas perkembangan karya seni terbaru.

BEeKERerJAa SAaMAa: Aanggota Komunitas Doodle Aart Gresik (DAaG) rutin mengadakan pertemuan untuk membahas perkembangan karya seni terbaru. (Koleksi DAG)

SURABAYA-Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menghilangkan beban pikiran. Salah satunya dengan mengekspresikan beban pikiran tersebut ke dalam sebuah gambar. Seperti yang dilakukan oleh sejumlah pemuda dari Komunitas Doodle Art Gresik (DAG). Membuat gambar-gambar lucu dinilai bisa mengurangi stres.

Meski karya doodle art belum bisa dinikmati semua kalangan, namun karya ini semakin familiar, khususnya di kalangan remaja. Terbukti anggota dari DAG semakin bertambah dari hari ke hari. Salah satu hal yang membuat komunitas ini menarik ialah anggotanya tak perlu memiliki kemampuan khusus dalam menggambar.

"Membuat karya doodle art tidak perlu berpikir keras. Pembuatannya cukup mudah. Sebab, tidak ada aturan penciptaan yang mengikat. Artinya, pembuat hanya perlu menuangkan apa yang ia rasakan dan pikirkan," ungkap Ketua Komunitas DAG, Fredo Eko Pratama.  

Menurutnya, membuat karya doodle art berbeda dengan karya seni lukis, yang mengharuskan si pencipta berpikir konsep karya yang akan dibuat. Selain itu, pemilihaan warna juga harus tepat. ”Kalau doodle art memang kebanyakan hitam putih. Tapi ada juga yang warna,” imbuhnya. 

Pembuatannya yang mudah, membuat karya tersebut dijadikan penghilang stres. Bentuk dan motif yang digunakan juga cenderung lucu. Misalnya karakter kartun atau smiley (ekspesi senyum). Misalnya kata hai atau i love you.  "Tulisan i love you  bisa dihias dengan bentuk oval atau persegi. Selain itu, karakter atau smiley juga bisa digambarkan. Yang penting, bagian pinggir tulisan penuh, seperti  vignette,” ujar remaja 19 tahun itu.   

 Fredo juga menambahkan, ada beberapa jenis atau model dalam karya doodle art. Salah satunya ialah doodle art mandala. Motif yang digunakan cenderung terlihat seperti batik yang melingkar. Konsepnya seperti gambar tribal.  Selain itu, ada jenis juga zentangel. Ciri-cirinya, gambar yang digunakan kebanyakan berbentuk bunga, daun dan gambar karakter. ”Perbedaannya ada pada motif yang digunakan untuk menghias bagian pinggir font. Yang jelas, fungsinya untuk memenuhi bagian kosong pada media gambar,” tandasnya.

Kemudian untuk media pembuatan doodle art ,juga cukup beragam. Paling sering, doodle art dilukis pada kertas, baner atau media datar lainnya. Namun, komunitas ini mencoba  melukis pada madia lain, yakni paper cup, gelas, hingga telenan.  

Menurut Fredo, menggambar doodle art pada media paper cup dan juga media selain kertas dirasa lebih menantang. Media yang digunakan tidak datar. Tangan harus terbiasa dengan lengkungan gelas.  ”Kalau tidak terbiasa, gambar bisa distorsi,” terangnya. 

Sementara mengenai motif yang digunakan tidak jauh berbeda dengan karya doodle art pada umumnya. Seperti motif animasi, gambar karakter, tribal, font, smiley, hingga flora. Pemilihan motif bisa disesuaikan dengan selera. ”Bisa motif khas seperti gambar damar kurung,” katanya.

Ia menambahkan motif doodle art lebih bernilai estetis pada paper cup. Gelas berbahan kertas tersebut bisa menjadi suvenir setelah diberi motif. ”Jadi bisa punya nilai ekonomisnya,” pungkas Fredo. (yua/opi)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia