Sabtu, 24 Feb 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya
Wujudkan Zero Tolerance untuk Zero Accident

TTL Targetkan Arus Produksi Petikemas 545.610 TEU’s

Rabu, 07 Feb 2018 20:03 | editor : Abdul Rozack

Grafis: TTL Targetkan Arus Produksi Petikemas 545.610 TEU’s

Grafis: TTL Targetkan Arus Produksi Petikemas 545.610 TEU’s (Grafis: Fajar)

SURABAYA- PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mencanangkan komitmen zero tolerance untuk mewujudkan zero accident. Komitmen itu terus ditingkatkan guna meningkatkan pelayanan sebagai pelabuhan petikemas internasional. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan arus produksi petikemas tahun 2018  yang ditargetkan menembus angka 545.610 TEU’s, dengan produksi curah kering sebesar 1,98 juta ton.

Hal itu seperti diungkapkan Reka Yusmara, Humas PT Terminal Teluk Lamong, saat dihubungi Selasa (6/2).  “Semua komponen di TTL harus dapat bekerja bersama dalam mewujudkan zero tolerance untuk zero accident. Karena itu, diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak yang terlibat dalam operasional di Terminal Teluk Lamong,” kata Reka. 

Dia menjelaskan, tahun 2017 TTL mampu mencapai arus produksi petikemas sebesar 102 persen atau mencapai 493.071 TEU’s, dibandingkan tahun 2016 sebesar 443.000 TEU’s. Sedangkan produksi curah kering hanya tercapai 1,21 juta ton dari target awal 1,84 juta ton.

“Pencapaian arus produksi di tahun 2017 jauh melampaui target awal tahun yang dicanangkan sebesar 446.303 TEU’s,” kata Reka. 

Sementara itu, Corporate Secretary TTL Arief Yarmanto menambahkan, tim komersial TTL terus aktif melakukan approach ke shipping yang  belum masuk ke TTL. “Contoh, Maersk Line maupun perusahaan raksasa pelayaran dari Taiwan yang kini mulai menggunakan jasa TTL,” jelas Arief. 

Dengan demikian, lanjut Arief, banyak produksi petikemas yang nantinya akan masuk ke Indonesia melalui TTL, termasuk dari  dari Samudera Indonesia juga akan masuk. “Kelebihan TTL adalah layanan yang kami tawarkan kelasnya premium dengan harga yang sama dengan pelabuhan lain di Tanjung Perak,” jelasnya. 

Dipaparkannya, dalam konsep jasa pengangkutan petikemas TTP tidak menggunakan Rubber Tyred Gantry (RTG) sebagai alat pemindah kontainer, namun  dengan Automatic Stacking Crane yang terhubung dengan Terminal Operating System (TOS) sehingga memudahkan identifikasi status dan informasi setiap kontainer. Sistem bikinan Konecranes itu seperti yang diterapkan APM Terminal di Portsmouth, Amerika Serikat, kemudian Terminal Catalunya, Spanyol,  Abudhabi Port, Uni Emirat Arab, dan lainnya. 

Dengan spesifikasi teknologi itu, kapal-kapal yang merapat di TTL tak perlu antre. Ini jelas berbeda dengan yang selama ini terjadi di terminal di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. “Kami juga mengedepankan konsep ramah lingkungan. Alat bongkar-muatnya, ASC dan juga Ship-to-Shore Crane (STS) digerakkan sepenuhnya dengan tenaga listrik. Sedangkan Automotive Terminal Trailer (ATT) dan Straddle Carriers (SC) menggunakan mesin diesel dengan standar emisi EURO 4,” papar dia.(jpnn/hen)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia