Rabu, 17 Jan 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Kampung seni, Pegiat Seni Budaya di Surabaya Masih Eksis

Jumat, 12 Jan 2018 16:11 | editor : Abdul Rozack

KAMPUNG SENI: Gedung Pringgodani merupakan salah satu gedung yang terdapat di kampung seni yang terletak di belakang Taman Hiburan Rakyat (THR) Jalan

KAMPUNG SENI: Gedung Pringgodani merupakan salah satu gedung yang terdapat di kampung seni yang terletak di belakang Taman Hiburan Rakyat (THR) Jalan Kusuma Bangsa, Kamis (11/1). (Ginanjar Elyas Saputra)

Surabaya – Kampung seni yang terletak di belakang Taman Hiburan Rakyat (THR) Jalan Kusuma Bangsa, dahulu hingga kini masih berkontribusi melestarikan dan melahirkan seniman-seniman baru berbakat di Surabaya.

Di dalam lingkungan kampung seni terdapat permukiman dan gedung pertunjukan untuk para seniman berkarya. Seniman-seniman yang bermukim di kampung seni ini terdapat 22 kepala keluarga, terdiri dari seniman Ludruk, Wayang Orang, dan Ketoprak. Seniman-seniman senior dari ketoprak dari Siswo Budoyo dan Wayang Orang Sri Wandowo, di antaranya masih ada yang bermukim di tempat ini.

Terdapat juga empat gedung di dalamnya, yaitu gedung Pringgodani, Srimulat, Irama Budaya, dan Wushu. “Tetapi hanya terdapat tiga gedung yang masih berfungsi yakni gedung Wushu yang dahulu pernah digunakan Chris John yang petinju itu berlatih wushu,” kata Sugeng Rogo, pegiat seni di gedung Pringgodani, saat ditemui Radar Surabaya, Kamis (11/1) .

Kampung seni juga turut dijadikan latihan dan sarana belajar untuk anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tetapi untuk saat ini gedung-gedung di sini jarang untuk pementasan wayang orang maupun ketoprak. “Alhamdulillah, pemkot dengan seniman itu masih menyatu, dalam arti kita itu masih di-openi-lah (diperhatikan). Kita dikasih fasilitas tempat latihan dan tiap bulan dikasih jatah pentas di Balai Pemuda, ada jadwalnya juga  dari Disparta,” kata Sugeng.

 Ia mengungkapkan, pada saat gedung-gedung  ini tidak diadakan pertunjukan, terkadang para seniman ini mengadakan pentas sendiri di Gedung Pringgodani dengan cara menjual tiket. Peminatnya pun banyak di kalangan mahasiswa untuk pementasan wayang orang dari paguyuban sanggar SS.Putra Taman Hirra. 

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1988 ini terdapat seniman yang tak hanya dari Surabaya saja, tetapi juga ada dari daerah lain, seperti Kediri, Ponorogo, Nganjuk, dan masih banyak lagi. Mereka masih mempertahankan seni dan budaya, terkadang juga ia didatangi melatih siswa-siswi SMP dan SMA, tanpa memungut biaya Rogo melatih berbagai macam jenis kesenian. “Terkadang juga ada mahasiswa yang datang untuk penelitian di sini”, tambah pria kelahiran 1958 ini. (gin/hen)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia